What I’ve Learned From You

Sebagai orang yang selama 6 tahun lebih belajar psikologi, saya harusnya tahu apa yang dimaksud dengan kekerasan dalam sebuah hubungan. Bukan cuma yang kelihatan seperti kekerasan fisik, tapi yang susah banget untuk dilihat secara kasat mata, seperti kekerasan psikologis dan emosional. Well, I’ve been there.

I fell in love with this guy. He was perfect in my eyes: pintar, pekerja keras, punya prinsip, dan religius. Kalau dihitung dari pertama kali saya jatuh cinta sama dia ditambah lamanya kami pacaran, I was madly in love with him for 7 years. Empat tahun naksir dan tiga tahun pacaran. Yak, selama itu.

I thought he was gonna be my soulmate, my prince charming, and my everything I could think of. But it turned out to be bad. Saya belajar banyak dari dia. Dan kalau bukan karena dia, saya nggak akan pernah tahu hal-hal yang sekarang saya ketahui:
1. Ekspektasi
Empat tahun lamanya suka sama dia bikin saya menciptakan imajinasi sendiri tentang dia. Saya menciptakan dia sempurna. Pada kenyataannya, ada hal-hal yang memang benar, tapi banyak hal lainnya yang salah. Karena ekspektasi saya udah tinggi banget, begitu tahu ada hal buruk tentang dia, bikin saya kecewa banget.

2. Being Free
There was a time, when I got this opportunity, I thought he was gonna support me all the way, and he wasn’t. It was for this ridiculuous reason, because he didn’t want me to spend saturday not being with him all day. Waktu itu saya ditawari untuk memberikan anak-anak di gereja pengarahan mengenai psikologi supaya mereka lebih disiplin dan semangat menjelang lomba nasional. Waktu itu saya mikir, wah ini kesempatan buat menambah pengalaman. Lalu, malamnya saya telepon dia dan bercerita dengan semangat. Tanggapannya luar biasa. Luar biasa mengecewakan. Dia langsung bilang nggak suka karena berarti saya memotong waktu saya dengan dia. Saya udah kasih alasan bahwa kegiatan ini berlangsung malam hari, jadi seharian dari pagi sampai sore saya bisa menghabiskan waktu dengan dia. Dia tetap menolak. Dia bilang nggak. Orang yang saya pikir akan membebaskan saya mencapai cita-cita saya ternyata adalah orang pertama yang menghalangi. I was tied up, I wasn’t free to do my thing.
Merasa nggak bebas ini juga saya rasakan untuk hal-hal kecil, seperti misalnya dia nggak suka rambut saya pendek dan diwarnai. Dia suka perempuan berambut panjang karena waktu dia kecil dia punya guru yang cantik sekali dengan rambut panjangnya.

3. The violance
Ini yang menurut saya paling berat. Dia nggak pernah pukul atau teriak-teriak ke saya, tapi dia menyerang saya secara emosional dan psikologis. Tampak bodoh ya untuk orang yang belajar psikologi seperti saya. Tapi dulu saya memilih untuk menutup mata karena saya pikir cinta harusnya bisa mengubah segalanya. Nope, kadang-kadang nggak seperti itu. Ketika kami bertengkar, seringkali saya dengar dia menyebut saya egois. Kadang-kadang saya mengatakan hal yang sama juga ke dia, tapi dia berhasil meyakinkan bahwa saya memang yang paling egois dalam hubungan ini. Ada saat-saatnya ketika dia berjanji bahwa dia nggak akan pernah mendiamkan saya ketika bertengkar, tapi beberapa bulan kemudian dia melakukannya. Mendiamkan saya beberapa hari karena dia kesal. Saya ingat, suatu hari kami punya masalah yang besar. Sangat besar sampai dia mendiamkan saya selama tiga hari sampai dalam tiga hari itu saya nggak bisa tidur sama sekali dan dia nggak peduli. Di hari ketiga kami bertemu, mengobrol di sebuah restoran. I kept crying, wishing he would loosen up a lil’bit. But he wasn’t. Sepanjang perjalanan pulang saya menangis terus, bertahan pada egonya, dan mengatakan bahwa jika saya nggak menuruti apa yang dia mau, dia nggak akan berbicara dengan saya lagi sampai saya mau. Saya pulang dengan keadaan emosi yang terkuras dan berpikir mungkin emang harus berakhir sampai di sini. Tapi kemudian beberapa hari kemudian ia menghubungi saya, saya luluh, dan dia tetap tidak meminta maaf atau kelihatan menyesal dengan apa yang dilakukannya. Iya, saya memang sebodoh itu untuk mau kembali dengan dia. Pushing you to do what you don’t like in term of negative is a violance.
Waktu kami udah putus dan saya lagi dekat dengan cowok lain, dia menelepon saya dan mengatakan bahwa, “cowok mana yang mau sama kamu…”. Mungkin dia cuma bilang itu selintas lewat aja, tapi it hurt me so much. Don’t ever let anyone saying you’re not worth it or that no one wants you. That’s a signal that you’re worth more than him.

4. Budaya
Duluuu, saya begitu naif bilang bahwa budaya itu nggak ngaruh. Kita tinggal di Jakarta yang budayanya udah campur aduk, jadi pasti pola pikir kita juga udah sama. Nope, salah besar. Saya nggak bilang orang yang beda budaya itu nggak bisa berhasil. Banyak yang berhasil, kok. Mereka berhasil karena mau sama-sama kompromi, sedangkan mungkin kami gagal berkompromi. Saya dibesarkan di keluarga Batak yang masih kental budayanya, berseberangan jauh dari dia. Mungkin saya nggak bisa paham kenapa dia bisa jarang kumpul-kumpul sama keluarga besarnya, dia juga mungkin nggak bisa paham bahwa kekeluargaan di budaya saya sangat erat. Dibesarkan oleh latar belakang yang berbeda bikin kami punya pola pikir yang jauh berbeda. Berseberangan, sama seperti asal pulau kami.

5. Visi dan Misi
Kalo kita lagi pacaran, pasti kita ngomongin hal yang berhubungan sama dengan masa depan bersama, seperti misalnya menikah. Dari pembicaraan kayak gini, kita bisa tahu kita sebenarnya punya satu tujuan nggak, sih sama dia. Untuk hal yang seperti ini, pun, kami bisa bertengkar. Mempertengkarkan sesuatu yang belum kejadian sama sekali. Misalnya bertengkar soal nama anak. Mungkin awalnya lucu-lucuan, tapi bisa berakhir berantem beneran. Saya pikir suatu saat nanti kami bisa sejalan, tapi ternyata nggak.

Pelajaran-pelajaran itu yang bikin saya lebih dewasa dan kuat. Sungguh perjalanan yang menyakitkan, tapi tentu saja banyak hal menyenangkan juga yang didapat. Oh ya, dia sekarang memutuskan untuk menganggap saya hilang, jadi walaupun saya menghubunginya atau sekedar mengucapkan ucapan selamat ulang tahun, dia nggak merespon sama sekali. Dia benar-benar menganggap saya nggak ada. Ya sudahlah, mungkin saya juga cukup membuatnya sakit hati.

Jadi, kalau dia mampir dan kebetulan membaca tulisan ini, saya pengen bilang makasih karena bikin saya kuat dan belajar nggak polos lagi. Saya ingat sebelum jadian, waktu kami masih jadi sahabat, dia pengen sekali bikin saya nggak polos lagi dan menganggap segala sesuatunya baik dan positif. Menurutnya, saya harus disakiti dulu baru bisa nggak polos lagi. Well hey, you did it. You hurt me so bad for these past years and I’m not naive anymore.πŸ™‚

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s