Lovenemy

Beberapa bulan ini saya menikmati drama yang ada di timeline twitter saya. Jadi ceritanya, saya follow beberapa orang yang nggak saya kenal, tapi saya suka banget sama isi twitternya karena memberikan banyak informasi, dan yang lebih penting sangat menghibur.

Dari acara follow secara random, ternyata ada 2 orang yang secara kebetulan pacaran. Mereka jarang mention satu sama lain, sih, tapi dari cara mereka membalas atau dari teman-teman mereka, ada indikasi kalo mereka pacaran. Soalnya kalo misalnya, si perempuan berkeluh kesah betapa dia kesal dicuekin, trus ga lama kemudian si pria bikin status dia nggak cuek. Selalu bertautan seperti itu.

Si pria lagi di dinas di Ambon, sedangkan si perempuan lagi kuliah di Jogja, jadi mereka pacaran jarak jauh. Mereka awal ketemu dari twitter, saling follow, lalu berlanjutlah ke arah percintaan. Waktu libur Lebaran kemarin, orang yang berteman di twitter ini ngadain kopdar, termasuk si pasangan ini. Saya nggak tahu juga apa ini pertemuan pertama mereka atau malah udah yang ke beberapa kali, tapi dari foto-foto yang diupload ke twitter, mereka tampak duduk bersama dan bergandengan tangan (ya ya ya, ilmu analisis dari kuliah, malah saya pake buat melampiaskan kekepoan saya. xD).

Nggak beberapa lama setelah itu, tiba-tiba timeline si perempuan ngomongin patah hati mulu. Si pria malah udah nggak kelihatan di timeline selama beberapa hari. Pas muncul, timelinenya pun selalu galau. Mereka juga nggak pernah me-mention satu sama lain lagi. Nah, ternyata mereka udah putus dan si perempuan akhirnya nggak mau lagi membalas twit si pria. Si pria sempat mengeluh kenapa semua mention dia nggak dibalas, tapi tetap nggak ditanggapin.

Nah, ini sebenarnya yang menarik perhatian saya. Emang kalo udah putus harus musuhan dan diam-diaman kayak nggak kenal gitu ya? Sebenarnya nggak cuma pasangan ini aja, sih, tapi juga banyak pasangan lainnya, contohnya saya (iyaaa, ngaku, deh). Sejak putus sama si mantan, yang mungkin berakhir dengan banyak drama, dia memutuskan untuk nggak menggubris saya sama sekali. Awalnya mungkin salah saya juga, sih. Saya mem-block akun facebook dan twitter dia. Saya pikir waktu itu, kita nggak perlu saling komen-komen yang aneh. Tapi kita masih SMSan dan teleponan. Sampai akhirnya dia bilang, kenapa harus di-block kalau nggak ada yang disembunyikan. Benar juga, sih. Akhirnya saya membuka block twitter. Facebook masih tetap di-block.

Intensitas menelepon udah jauh berkurang. Yah, secara buat apa lagi sering-sering, ya kan? Suatu hari ada masanya dia selalu menulis tentang pengerjaan thesisnya di twitter. Saya iseng membalas, tapi nggak ada reaksi. Mungkin karena balasan saya nggak penting juga, sih. Lama-kelamaan, saya baru nyadar, dia kok nggak pernah balas kalo saya me-reply dia, ya. Ucapan ulang tahun, ajakan ngumpul bersama sahabat-sahabat juga diabaikan. Baik lewat twitter maupun SMS. Saya akhirnya melepas block akun facebook dia. Daaan ternyata, saya di-block, lho sama dia. Ternyata benar, dia memang nggak mau berhubungan dengan saya lagi sama sekali.

Jujur, saya kaget. Mungkin karena saya yang memulai duluan dengan block-block ini kali, ya. Tapi waktu itu kami masih sering berkomunikasi secara nyata, tapi tidak dengan akun di dunia maya. Walaupun kami putus dengan banyak drama, tapi saya nggak pernah berpikiran untuk bermusuhan dengan dia. Dia itu dulu teman baik saya, trus pacaran, eh masa sekarang harus jadi musuh. Kalau tiap pacaran dan putus harus jadi musuh, berapa banyak musuh yang bisa ditambah dengan pacaran?

Pertanyaan ini jadi berputar-putar di otak saya, apakah kalau putus harus musuhan?

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s