Wong Edan

Pagi ini, saya uring-uringan. Semalam tidur jam 3 subuh. Bukan salah siapa-siapa, hanya saya yang terlalu semangat memasukkan lagu-lagu baru ke iPod yang baru saya dapat dari teman. Akibatnya, ketika dibangunkan jam 8 pagi untuk ke Gereja dan diakhiri dengan orang-orang rumah yang tidak ke Gereja membuat saya uring-uringan. Oh, tentu saja jangan lupakan gejala-gejala tamu bulanan yang bikin mood jatuh ke titik terendah.

Kemudian saya marah untuk alasan sesederhana itu. Marah pada orang rumah? Bukan. Marah pada semuanya. Marah pada situasi, marah pada hidup, dan terutama marah pada diri sendiri. Saya pun mengurung diri di kamar. Berusaha kembali tidur, tapi rasa amarah lebih besar daripada rasa kantuk.

Sambil mendengarkan lagu, akhirnya saya memutuskan untuk membuka twitter. Di timeline, beberapa orang sedang membicarakan mengenai masalah yang terjadi pada jemaat GKI Taman Yasmin, Bogor. Dari beberapa sumber, saya mendapatkan kesimpulan bahwa tempat ibadah mereka bermasalah. Sebelumnya, pemerintah Bogor sudah mengeluarkan IMB untuk gereja tersebut, tapi kemudian dicabut dengan alasan meresahkan warga sekitar. Gereja tersebut akhirnya disegel dan jemaat tidak bisa beribadah di dalamnya. Tidak berhenti sampai di situ saja, tapi pemerintah Bogor sampai mengirimkan Satpol PP dan water canon agar tidak terjadi huru-hara. Jemaat gereja memutuskan untuk tetap melakukan ibadah hari Minggu (19/09/2010) di trotoar depan gereja karena tempat ibadah mereka tidak bisa dimasuki.

Membaca berita tersebut membuat bulu kuduk saya tiba-tiba merinding. Dulu ketika sedang praktek di RS Marzuki Mahdi, saya tinggal dekat Taman Yasmin. Saya melewati daerah itu berkali-kali. Daerah perumahan yang cukup bagus, dengan rumah-rumah yang cukup besar. Perumahan yang asri dan tenang. Saya tidak mengerti, bagaimana mungkin berdirinya sebuah gereja dapat membuat kawasan itu menjadi tidak aman.

Perasaan kenal dengan daerah itu dan melihat perjuangan jemaat yang tetap beribadah di trotoar karena gerejanya disegel membuat saya harus bercermin pada diri sendiri. Gereja saya sampai saat ini baik-baik saja. Saya bahkan bisa bergereja di jam yang saya mau karena setiap minggu diadakan lebih dari 2 kali kebaktian. Setiap minggu saya cuma datang dan pergi, jarang sekali memaknainya. Selalu beralasan bahwa, kebaktiannya menggunakan Bahasa Batak jadi kurang bisa dimengerti, atau kalaupun kebaktian dengan bahasa Indonesia, selalu merasa Pendetanya membosankan. Jadi sibuklah saya dengan BB, bukan sibuk dengan si pemilik hidup saya.

Jemaat GKI Taman Yasmin tetap beribadah jam 8 pagi, tanpa dinding dan atap, tapi tetap bisa memuji Tuhan yang bahkan kalau dari sudut pandang saya, Tuhan seperti apa yang membiarkan jemaatnya beribadah seperti itu. Menyakitkan, tapi mereka tetap melakukannya.

Siang itu, saya merasa malu. Punya kesempatan, kok, malah ogah-ogahan. Dasar wong edan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s