Surat Tanda Sayang Kami

Dear siapapun kamu di sana,

Ini gereja. Besar gedung ini tidak lebih besar dari rumahmu. Cat dinding yang tadinya putih bersih sudah mulai memudar menjadi kekuningan. Warnanya sudah dimakan oleh waktu. Mungkin sudah terlalu lama cat putih itu ada di sana dan tidak diperbaharui. Kami tidak bisa sesukanya mengganti warna cat karena butuh dana yang cukup besar. Kami harus mengumpulkan untuk membeli cat dari tangan jemaat yang berbelas kasih. Tidak, kami tentu saja tidak memaksanya. Kalaupun cat itu tidak tergantikan, buat kami tidak apa-apa. Gereja kami bisa berdiri saja sudah cukup.

Atap gereja sering bocor. Jemaat sudah berkali-kali berusaha mengatasi kebocorannya, tapi hujan turun lebih deras daripada kemampuan atap yang sudah usang. Setiap hujan turus, jantung kami berdebar lebih keras. Air akan memasuki gereja dan merusak bangku-bangku kayu di sana. Maka setiap hujan mulai turun, kami mulai menggeser bangku-bangku ke tempat yang lebih aman, sambil berharap bukan hujan deras yang turun, melainkan hujan berkat. Tapi tempat beribadah yang baik ini tentu sudah cukup bagi kami.

Setiap Minggu kami berkumpul di sana. Tiga kali kebaktian. Pagi jam 6 dan 9 pagi, serta sore jam 5. Ada suara musik di sana. Suara piano dan organ, kadang-kadang disertai drum, gitar, dan bas. Lalu suara-suara kami mengalun. Mungkin tidak selalu indah, tapi kami pasti berusaha mengeluarkan yang terbaik. Bukan itu saja, kami bahkan rela bangun lebih pagi cuma untuk memilih baju terbaik untuk dipakai ke gereja dan tentu saja berdandan secantik dan setampan mungkin. Mungkin kalian pikir kami ingin pamer, tapi bukan itu. Kami ingin tampil dengan penampilan terbaik untuk menghadap Tuhan kami. Oh, tentu saja Tuhan itu ada di mana-mana, tapi hari Minggu kan hari spesialnya Dia. Di mana kami berhenti sebentar dari seluruh kesibukan dan pekerjaan kami untuk 2 jam menjadikan Dia pusat perhatian kami. Kami berharap, Dia akan tersenyum ketika melihat kami.

Jadi ketika kami mendapatkan kabar bahwa gereja kami, gereja sederhana itu, disegel sehingga kami tidak bisa beribadah di dalamnya, kami terkejut. Mereka bilang gereja kami meresahkan masyarakat. Kami bingung dan bertanya-tanya, apakah itu karena musik kami yang terlalu besar, karena khotbah pendeta kami, atau karena hal lainnya? Sungguh kami tidak tahu.

Ooh, kami rindu beribadah. Kami rindu bertemu Tuhan kami. Jadi ketika mereka melarang kami. Kami memutuskan untuk tidak takut. Tidak. Ini hari Minggu, hari spesialnya Tuhan. Jadi setelah seminggu diberi napas kehidupan, kami patut merayakan hari spesialnya.

Jadi kalian boleh mengunci, merampas, dan mengambil gereja kami, tapi Tuhan punya gereja di hati masing-masing. Dengan segala keterbatasan kami, kami tetap datang beribadah pagi itu. Tepat jam 8 pagi. Kami memakai pakaian dan dandan yang terbaik. Kami memang tidak duduk di bangku gereja, kami duduk di trotoar dan jalan, beralaskan tikar dan koran. Kalian tidak memerlukan petugas keamanan, truk super besar anti huru-hara, atau apapun itu. Kami tidak akan marah atau mengamuk, atau lebih buruk lagi mengeluarkan senjata tajam dan mengajak berperang. Itu urusannya Tuhan kami.

Kami cuma ingin beribadah dengan tenang di negeri kami sendiri. Di negeri yang katanya menjamin hak tiap warga negaranya untuk beribadah. Tapi kalau dengan beribadah, kalian merasa terganggu dan resah, maafkan kami. Cara kami beribadah memang seperti ini. Mungkin berbeda dengan cara kalian beribadah. Kami hanya ingin punya tempat ibadah. Sesederhana itu. Tapi kalaupun kalian tidak mengijinkan, ya tidak apa-apa. Tuhan kami tidak menuntut kami hanya boleh menyembah Dia di gereja saja. Kalaupun harus kami lakukan di rumah, atau di halaman, atau di kamar, kami rasa Tuhan kami sudah cukup senang.

Tertanda,
temanmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s