Stalker

Pernah nggak jadi stalker? Saya pernah (ehm, sering malahan). Jadi walaupun jarang mengupdate status facebook lagi sekarang, tapi saya sebenarnya masih sering buka facebook, sih. Cuma buat dilihat-lihat karena ternyata masih banyak yang menggunakan facebook untuk mengupdate berbagai fase hidup mereka. Nah, saya suka iseng aja secara random masuk ke profil orang-orang, bisa teman lama, teman baru, atau bahkan orang yang sebenarnya nggak terlalu saya kenal juga, sih.

Sebenarnya membuka profil orang itu kayak membuka magic box. Kita nggak tahu apa yang bakal kita temukan di dalam sana. Bisa sesuatu yang menyenangkan atau justru malah bikin kita kesal, sedih, atau terkejut. Dari facebook pula biasanya saya tahu siapa yang bakal menikah, siapa yang udah jadian, siapa yang udah putus, siapa yang begini dan siapa yang begitu.

Nah, paling kesal kalau muncul perasaan iri, sedih, dan kesal. Seringnya, sih, tiba-tiba nggak sengaja membuka profil teman lama yang tiba-tiba udah jauuuuh lebih maju dari kita. Hah, perasaan dulu sama cupunya, deh. Apalagi kalau tiba-tiba ada teman yang mau menikah, padahal kemarin-kemarin nggak kedengeran punya pacar. Ini sering bikin kaget soalnya akhir-akhir ini banyak banget yang mau menikah. Dari yang emang pacarannya udah lama banget dan udah sepantasnya nikah, sampai yang pacarannya baru sebentar banget tiba-tiba mau nikah. OH NO!

Ini sama juga kayak jadi stalker buat mantan atau mantan gebetan. Walaupun meninggalkan perasaan kesal, bete, dan gregetan, atau misalnya putusnya nggak baik-baik dan dendam kesumat, tapiiii melihat profil mereka adalah sebuah guilty pleasure. Mau buka profilnya aja udah deg-degan setengah mati. Hm, kira-kira apakah nanti bakal menemukan dia lagi foto sama cewek lain, ya? Itu cewek siapanya? Atau status romantis dan senang itu buat siapa, sih? Jangan-jangan dia udah jatuh cinta lagi, nih?

Kalau menemukan dia udah dapat pengganti, sementara kita belum dan (lebih parahnya) diam-diam masih suka ngecek profilnya, rasanya udah kayak kesambar petir. Grrr, oh NO! Ternyata dia happy tanpa kita. Dan entah kenapa (diakui atau tidak) kita suka diam-diam berharap dia nggak lebih bahagia daripada kita. Kalau dia lebih bahagia, langsung nyesel setengah mati kenapa tangan ini gatal sekali membuka profilnya dia. Kalau nggak buka, kan, jadi nggak tahu. Kalau nggak tahu, kan, jadi nggak bete.

Itu perasaan yang saya rasakan kalau jadi stalker. Menemukan berita-berita yang (ternyata) nggak pengen saya lihat bikin nyeseeel setengah mati kenapa harus jadi orang yang penasaran. Belum lagi perasaan, “Kok, gue belum jadi apa-apa, ya? Kok, gue nggak bahagia, ya? Kok, gue nggak bisa seberuntung mereka, ya?” Dan ada banyak pertanyaan serupa. Di saat seperti ini pepatah: ‘rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau’ nggak berguna sama sekali.

Nah, kamu pernah jadi stalker dan merasa seperti ini nggak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s