Akibat Laporan

Kampus saya ini adalah kampus yang ‘unik’. Kalau di tulisan sebelumnya saya cerita tentang teman yang sampai nggak mandi, nggak tidur, dan pucat pasi, nah sekarang beda lagi. Salah seorang teman saya yang seorang dosen di daerahnya bahkan sampai mengurung diri di kos-nya. Benar-benar nggak mau keluar, nggak mau ke kampus, nggak mau angkat telepon.

Jadi awalnya gini, kegilaan di kampus ini baru mulai ketika kami sibuk berpraktek di institusi. Jadi begini situasinya: harus menghadapi klien yang suka ajaib kasusnya dengan berbagai jenis kepribadian dan bimbingan dengan berbagai dosen dengan pendekatan berbeda-beda, ditambah tempat institusi yang sering jauhnya di ujung dunia, lelah mental dan fisik, dan laporan-laporan yang harus dikerjakan. Semua itu masih ditambah harus mengikuti 4 kasuistik (semacam mempresentasikan dan mempertanggung jawabkan kasus yang kita ambil). Jadilah itu yang namanya burn out sejadi-jadinya. Saking burn out-nya saya pernah sebulan nggak mau menyentuh laporan sama sekali. Buka laptop tapi file-nya nggak pernah dibuka.

Itu, sih, belum seberapa. Teman saya yang tadi udah saya sebut di atas itu, tiba-tiba menghilang. Ternyata dia lagi stres karena laporannya nggak jalan sama sekali. Yang baru selesai 4 laporan dari 10 laporan. Itu pun selesai, karena keempatnya merupakan laporan untuk kasuistik. Kami semua terkejut dia tiba-tiba nggak bisa mengerjakan laporannya, padahal pada waktu semester awal dia itu rajin, pintar, dan kritis. Ternyata di tengah kepenatannya, dia mengalami banyak masalah. Ibunya sakit yang akhirnya meninggal, laptopnya hilang, dan dia harus jadi kepala keluarga buat adik-adiknya di luar kota. Memang kebayang banget, kan, begitu banyak masalah yang datang di saat masa-masa pembuatan laporan itu.

Kami langsung berinisiatif untuk membantunya mengerjakan laporan. Tapi ternyata itu nggak membantu juga. Tiba-tiba dia menghilang. Setelah kami cek, ternyata dia mengurung diri di kamar kos, nggak mau keluar, di kamar cuma tidur-tiduran aja, dan nggak mengerjakan apapun. Dia benar-benar menghindar dari semua kegiatan kampus, sampai akhirnya dia gagal menyelesaikan laporan, nggak ikut blind case (yang boleh diikuti kalau 10 laporan sudah selesai), dan thesis pun tak tersentuh.

Nah, itu teman saya yang sama-sama seperjuangan di Klinis Dewasa. Ternyata seorang teman di Klinis Anak juga ada yang mengalami hal yang sama. Dia sama juga mengurung diri di kamar, nggak menyelesaikan laporan, dan nggak mau ketemu siapa-siapa. Lebih parahnya, waktu itu ketika dia mengikuti kelas minor, dia selalu muntah setiap masuk kelas. Kampus udah dirasakan sebagai stresor yang nggak menyenangkan buat dia.

Melihat dari 2 pengalaman teman tersebut, saya belajar melihat diri saya sendiri. Walaupun saya mengeluh ini-itu, mood jadi gampang berubah, dan nggak pernah mau lama-lama lagi di kampus, tapi saya bersyukur bahwa saya masih memaksakan diri untuk mengerjakan semuanya. Keinginan untuk keluar dari tempat itu ternyata lebih besar. Satu-satunya jalan adalah dengan cepat lulus. Saya juga belajar bahwa, saya nggak selemah itu, lho. Well, mungkin mereka juga mengalami stresor yang jauh lebih besar jadi tentu saja mereka jauh lebih tertekan dari saya.

Oh ya, satu lagi yang saya pelajari dari kampus ini. Ternyata saya lebih banyak belajar mengenai pengalaman hidup sesungguhnya, daripada soal materi-materi kuliah. SO, it is really a jungle. Make good friends because you will need good social support from them. Dan jangan kaget kalau persahabatan ala SMA yang cemburu-cemburuan, gosip-gosip miring, dan sejenisnya itu masih ada.

Ahaaay!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s