Mungkin Kami Menyebalkan, Tapi Ini Caranya…

Sebagai orang yang pengen cepat lulus (Amiiiinnn!), sekarang saya lagi banting tulang, jungkir balik ngejar thesis supaya selesai tepat pada waktunya. Seperti yang sudah saya kasih tahu sebelumnya, kampus ajaib ini bikin saya harus menyelesaikan 3 bab dalam waktu kurang dari 1 bulan. WOW, can you imangine that?

Nah, tentu saja gara-gara hal itu, kerjaan saya tiap hari di depan komputer dari pagi sampai malam non-stop. Emosi mulai labil: panik, gampang nangis, gampang marah, sensitif, moody, dan segudang perubahan lainnya. Saya pikir cuma saya doang yang begini, tapi ternyata nggak.

Suatu ketika, waktu saya balik dari kampus, di stasiun ketemu sama seorang teman. Dia manggil-manggil saya, tapi saya nggak dengar. Entah ke mana perhatian saya waktu itu, padahal dia berdiri tepat di depan saya tapi bisa nggak kelihatan. Hm, dampak stres kali ya, jadi nggak konsentrasi.

Saya kaget melihat teman ini. Mukanya pucat, rambutnya berminyak, matanya berkaca-kaca, dan lemas. Pokoknya kayak nggak dikasih makan seminggu, deh. Ternyata dia udah 2 hari nggak tidur dan pagi itu dia belum mandi pas mau ke kampus. Dia habis ngejar-ngejar dosen.

Jadilah kami ngobrol-ngobrol sebentar di depan stasiun.

Dia bilang, dia stres banget. Semakin hari dia semakin nggak suka ada di kampus ini, itu yang bikin dia mati-matian harus lulus kampus itu secepatnya supaya nggak perlu lagi ke situ. Dia benar-benar revisi thesis setiap hari. Tentu di saat-saat seperti ini dia butuh seseorang yang diajak untuk bertukar pikiran atua cuma berbagi keluh-kesahnya. Nah, si tempat curhat itu adalah pacarnya. Dan bukannya tingkat stresnya makin berkurang, malah makin meningkat karena pacarnya nggak berbuat seperti yang dia mau.

Dia pengen si pacar memberinya perhatian dengan menanyakan: ada yang bisa dibantu? Kamu baik-baik aja? Udah sampai mana thesisnya? Aku datang ke rumah buat bantuin kamu, ya. Dan pertanyaan-pertanyaan sederhana lainnya.

Tentu saja bukan itu yang dilakukan si pacar. Si pacar malah berpikir yang lainnya. Dia jarang meng-SMS si teman karena dipikirnya semakin sering dia meng-SMS, semakin terganggu waktu si teman untuk ngerjain thesis. Dia juga berharap si teman bisa lebih fokus. Selain itu, dia khusus pergi ke gereja untuk doa novena, supaya thesis si teman ini bisa lancar jaya.

Salahkah si pacar? Ya, nggak juga. Semua maksudnya baik, memberi waktu buat si teman buat lebih fokus. Tapi apa itu yang dibutuhin si teman? Ya, nggak. Si teman bilang, kelakuan si pacar itu ibaratnya dia lapar dan pengen makan, tapi malah dikasih baju. Ya, nggak hilang laparnya, dong.

Ini perbedaan pola pikir perempuan dan laki-laki juga kali, ya. Perempuan lebih butuh untuk menyelesaikan masalah emosionalnya dulu supaya lebih tenang untuk ngerjain thesisnya. Sementara si laki-laki nggak berpikir gitu. Kalau masalahnya adalah pengen nyelesaiin thesis, ya selesaiin aja, nggak perlu banyak SMSan, ngobrol di telepon, atau ketemuan. Sampai akhirnya si teman ini merasa perlu untuk break dengan si pacar sampai dia lulus karena menganggap si pacar, kok, malah bikin dia tambah stres.

Sebagai perempuan yang sama jenis kelaminnya seperti si teman, saya bisaaaa banget ngerasain apa yang dia rasakan. Emosi saya akhir-akhir ini juga kayak roller-coaster, berubah naik turun dengan cepat banget. Keinginan buat diperhatikan meningkat 100%. Saya bisa uring-uringan kalau nggak ditanyain, gimana perkembangan hari ini, ada yang bisa dibantu, dll, sama orang terdekat.

Saya tahu juga, kami bisa menjadi sangat menyebalkan karena mood yang selalu saja berubah. But, please bear with us. The tight deadline makes us crazy. What we need now is just our closest friends, families, partners, boyfriends to support with the way we want to. Maksud kalian memang baik, tapi kami cuma butuh merasa lebih tenang aja, kok. Dan itu bisa kami dapat dari kalian.

Jadi untuk para pria, teman, dan keluarga di luar sana yang orang terdekatnya lagi mengalami thesis menggila kayak kami, tolong disayang-sayang dulu ya sampai selesai thesisnya. Elus dada saja kalau kami bisa semenyebalkan kayak ibu tiri, tahan emosi kalau kami mulai cari-cari masalah, tetap senyum walaupun muka kami bertekuk sepuluh, tetap dengarkan setiap ocehan kami walaupun kalian nggak tahu inti ucapan kami itu apa, dan kalau kami tiba-tiba menangis nggak perlu panik atau takut, cukup dengarkan kami saja. Semua keanehan ini akan berakhir segera, kok. Lalu kami akan kembali jadi manis seperti sedia kala lagi.

Peluk dan cium dari kami yang lagi berjuang menambah ‘marga’ di belakang nama. ๐Ÿ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s