Vacation on Blue Ocean

Holaaaa!

Minggu lalu saya dan teman-teman akhirnya berlibur juga ke Kepulauan Seribu. It was amazing days in amazing islands. Here’s the story:

28 Mei 2010

Jam 5 pagi saya udah bangun. So excited sampe rasanya semalaman cuma tidur 2,5 jam aja. Begitu bangun tidur bangunin si Abang karena taksi akan menjemputnya dulu. Berkali-kali ditelepon nggak diangkat, sampai akhirnya harus telepon ke rumahnya yang diangkat Mas Ribut (his house assistant) minta membangunkan Abang. Untungnyaaaa, tepat jam 5.30 dia bangun juga.

Jam 6 kurang 10 menit, taksi yang di dalamnya udah ada Abang dan Santy datang juga. Wohoooo! Let’s begin the vacation. Kehebohan mulai terjadi karena dua taksi yang kami pesan saling tunggu-tungguan, padahal harus sampai di Muara Angke jam 6.30 pagi karena kapal bakal berangkat jam 7 pagi. Anto, yang jadi tour guide kami udah nelepon berkali-kali nanyain di mana posisi. Wuidiiiih, serasa lagi kejar-kejaran. Kami sampai di Muara Angke pas jam 7 pagi dan jalanan buat masuk ke area kapalnya maceeet banget. Jadi terpaksa kami naik becak. Seruuuu banget, akhirnya naik becak juga setelah udah lamaaa banget nggak naik.

Ternyata kami melewati semacam pasar ikan dan turun di pelabuhan pasar ikan itu. Tempatnya becek dan dipenuhi banyaaak banget orang yang tujuannya sama seperti kita: kepulauan seribu. Udah tahu hampir telat, masih sempat-sempatnya foto dulu. Soalnya jarang-jarang bisa turun ke pasar kayak begini. Hihi.

Pelabuhan penuuuuuh banget sama orang-orang. Ternyata kami ketinggalan kapal yang berangkat jam 7 pagi Waduuuuh, gawaaat! Karena kabarnya kapal kedua bakal berangkat jam 1 siang. Sempat deg-degan juga jadwal liburan bakal berantakan. Anto bilang kami bisa naik kapal yang jam 10 pagi, tapi keajaiban terjadi. Kami bisa berangkat saat itu juga. Anto berhasil membujuk nahkoda kapal ke arah Pulau Tidung, untuk mampir sebentar ke Pulau Pramuka demi mengantarkan kami. Wohooooo! Ayo berangkat!

Kami naik kapal nelayan dengan rombongan lainnya. Duduk di bagian atas tanpa tempat duduk. Jadi beneran selonjoran aja. Ini kayak petualangan banget. Sepanjang perjalanan selama 2 jam itu, matahari langsung menyentuh kulit dan kerasaaaa banget panasnya. But it was fun!

Jam 11 siang kami udah sampai di Pulau Pramuka. Begitu mendekati pulaunya, mulai tampak laut berwarna biru muda dan jerniiiiih banget. Bahkan terumbu karang dan ikan-ikan bisa kelihatan berenang. Saat itu cuaca mulai mendung dan hujan rintik-rintik jatuh. Begitu sampai di Villa Dolphin yang bersih dan (paling penting) ada AC-nya kami mencoba alat-alat snorkling. Begitu semua udah pas, berangkatlah kami naik kapal nelayan kecil untuk snorkling.

Pertama-tama kami latihan dulu di sebuah pulau.. mm, bukan pulau kali ya.. tapi setumpukan pasir yang membentuk pulau yang sangat kecil. Cuma cukup untuk kami latihan snorkling. Pertama kali menggunakan alat snorkling dan nyebur, wuidiih ternyata nggak segampang itu, ya. Belum lagi air laut selalu masuk ke hidung dan mulut. Asiiin banget dan bikin mata perih.

Setelah semua sukses latihannya, kami mulai ke tengah laut. Mencari spot yang menarik buat snorkling. Akhirnya dapat daerah yang airnya bening sampai terumbu karang kelihatan. Kami mulai snorkling. Sayang banget karena terumbu karangnya terlalu tinggi, akhirnya kami lecet-lecet kena terumbu karang. Belum lagi ombaknya lagi kencang banget, jadi kami kayak keseret-seret. Untung ada Abang yang bantuin menarik saya kalau lagi nggak bisa berenang. Belum lagi, air selalu masuk ke hidung. Aduuuh sakit. Tapiiii pemandangan bawah laut itu emang kereeeen abis deh.

Setelah puas snorkling dan lecet, akhirnya kami memutuskan untuk istirahat dulu karena tampaknya hujan makin deras. Kami diantarkan ke Pulau Semak. Pulau kecil yang punya pasir putih dan laut biruuuu banget. Keren! Di sana kami minum es kelapa asli dan tentunya ga lupa foto-foto dong. Yang paling seru adalah waktu kami lompat ke laut dari dermaga. Wuidiiihhh, rasanya ajaib banget.

Setelah puas main-main di Pulau Semak, kami berangkat snorkling lagi. Kali ini nyari terumbu karang yang jauuuh ke dalam supaya kaki kami nggak luka lagi. Akhirnya ketemu juga spot yang bagus. Airnya nggak sebiru tempat snorkling pertama, sih, tapi tetap asik buat dipakai berenang.

Kali ini saya dan si Abang nyoba buat berenang di tengah laut tanpa pelampung. Awalnya lumayan serem juga soalnya takut tenggelam, tapi ternyata nggak papa lho. Bahkan kami sempat foto-foto di bawah laut pake kamera underwater. Semoga nanti hasilnya bagus.

Setelah puas berenang di lautan lepas dan karena hari mulai gelap, kami dibawa ke sebuah pulau tempat penangkaran ikan. Salah satunya ikan hiu kecil. Kata Anto, ikan hiu kecil nggak berbahaya dan kalaupun gigit cuma kayak digigit semut, tapi teteeep aja nggak ada yang berani buat nyoba masuk ke dalam air. Padahal nggak papa lho masuk dan main-main sama mereka.

Puas lihat-lihat penangkaran ikan, kami kembali ke Pulau Pramuka tempat kami menginap. Naik kapal malam-malam ternyata seru juga, lho. Nggak tahu gimana si nelayan bisa lihat dan tahu arah yang benar. Yang pasti, kami bisa sampai di Pulau Pramuka dengan selamat. Turun dari kapal, kami udah kayak anak kumal. Badan kami lengket banget, rambut pun jadi keras banget, kayak orang yang digimbal. Hihi. Kami pun mulai berebut mandi. Karena kebanyakan ada di laut dan mash dalam tahap adaptasi, kami masih berasa seperti goyang-goyang di laut, padahal udah di darat.

Setelah mandi dan ngobrol-ngobrol di depan villa, ternyata oh ternyata satu pulau mati lampu. Yaak! Ternyata di Pulau ini jam 7 pagi-7 malam listrik mati. Seharusnya jam 7 malam-7 pagi listrik nyala, tapi mungkin karena banyaaaak banget yang nginep di pulau itu, listrik mati. Selama listrik mati, baru sadar langit malam dipenuhi bintang dan bulan purnama yang bersinar terang banget. Ini beneran kayak di film-film.

Supaya nggak mati gaya gara-gara mati lampu, saya, Abang, Santy dan Anes pergi ke pantai. Duduk di tepi pantai ditemani bintang-bintang. Kayak mimpi ada di tengah alam luas begini. Inget banget waktu itu saya pernah nulis di blog ini pengen duduk di pantai melihat bintang-bintang. Daaan, kejadian persis seperti yang saya pengenin. Alamakjang, ini bukan mimpi, kan. Hihi.

Setelah puas di tepi pantai, kami jalan-jalan keliling pulau. Melihat kehidupan malam di pulau itu. Sebagian besar penduduknya adalah nelayan dan jam 10 malam seperti itu biasanya udah sepi. Waktu itu ramai karena banyak pendatang yang berlibur. Kami pergi ke dermaga dan melihat kegiatan di pulau malam hari. Ada yang mancing, barbeque, dan ehm pacaran. Karena pulau ini kecil banget satu sama lain pasti saling kenal. Kalau mau pacaran, ya pacarannya satu pulau atau antar pulau dengan naik angkot kapal bertarif 3000 rupiah. Bayangin, pengorbanan untuk nganter pacar pulang ke pulaunya adalah menghadang badai di laut beneran. Selain itu, ada satu pulau yang khusus untuk tempat pemakaman. Jadi setiap yang meninggal dikubur di situ. Nggak semua pulau punya sekolah. Salah satu pulau yang udah maju adalah pulau Pramuka, jadi kalau mau sekolah, anak-anak naik angkot kapal ke pulau Pramuka. Hebat ya mereka.πŸ™‚

Jam 11 malam, ketika villa kami sudah bisa nyala karena pake genset, akhirnya kami kembali. Angin malam yang sepoi-sepoi bikin kami ngantuuuk banget. Well, it was a nice day.

29 Mei 2010

Saya, Santy, dan Kitin bangun jam 5.30 pagi. Padahal kalau di Jakarta bangunnya siang, kalau di sini gampaaang banget bangun pagi. Sebenarnya karena takut mati lampu, sih. Jadi kami sengaja bangun pagi supaya bisa mandi pake lampu dan sempat mengeringkan rambut dulu. Tugas selanjutnya adalah membangunkan para cowok. Seperti biasa, udah ditelepon berkali-kali, udah dipasangin alarm dari jam 5 pagi, udah diketok-ketok pintu kamarnya sampai gembor teteep aja nggak kedengeran. Butuh 1 jam untuk membangunkan mereka. Itu pun mereka sempat bermalas-malasan dulu. Hadeeeeuuuh!

Sambil nunggu giliran mandi, (Yak, mereka mandi lama banget karena listrik sudah mati dan mereka harus mandi gelap-gelapan. Hihi) saya dan Abang berkeliling pulau. Kami berjalan ke pulau paling ujung. Lihat ada rumah sakit, kegiatan para penduduk asli, orang-orang yang bersiap-siap diving, dan ada pula yang bermain kano. Anak-anak kecilnya jago banget berenang dan mereka nggak takut sama sekali (iyalaah, secara mereka udah lahir dan besar di sana).

Tepat jam 10 pagi kami berangkat. Tujuan kami Pulau Tidung. Pulau yang lagi banyak diomongin orang-orang karena keindahannya. Perjalanan ke Pulau Tidung mebutuhkan waktu kira-kira 1 jam dari Pulau Pramuka. Untuk mencapai Tidung, kami melewati sebuah tempat yang baguuuus banget. Namanya Pulau Air. Pulau Air ini membentuk sebuah selat dengan air yang berwarna biru kehijau-hijauan yang bersih banget. Pemandangan di sini ajaib banget bagusnya. Sambil kapal terus berlayar, kami berebutan untuk foto di tempat ini karena kami nggak bisa singgah. Pulau ini adalah pulau milik pribadi. Jadi tentu saja cuma si pemilik yang boleh singgah.

Sepanjang perjalanan kami bisa melihat burung camar yang terbang rendah sambil berusaha menangkap ikan di laut biru yang jernih banget. You’ll be amazed how great God made this. Tidak lama setelah itu, kami sampai di Tidung. Begitu mendarat aja, udah kelihatan pemandangan di sini bagus banget. Airnya jernih dan biruuuu banget. Tidung terbagi menjadi dua pulau, Tidung besar dan Tidung kecil. Kedua pulau ini dihubungkan oleh sebuah jembatan panjang. Dari atas jembatan bisa kelihatan terumbu karang yang tampak seperti bunga warna-warni yang sedang mekar. Cantiiik banget. Tentu saja kami nggak akan melewatkan tempat ini untuk berfoto-foto ria.

Seharian di sini bikin kulit kami menghitam. Serasa anak pantai beneran. Perjalanan kembali membutuhkan waktu yang lebih lama karena hari semakin sore dan ombak semakin besar. Kami terayun-ayun di kapal, memecah ombak yang besar. Saking besarnya, ombak berkali-kali masuk ke dalam kapal. Kami seperti bermain arung jeram atau kora-kora dengan tingkat keseruan maksimal. Hihi.

Setelah terombang-ambing di kapal selama sejam, kami mampir lagi ke Pulau Air. Jatuh cinta banget deh sama tempat ini sampai kayaknya belum sah kalau belum berenang di sini. Jadiii, kami khusus pergi ke pulau ini untuk berenang. Tentu saja, bukan di perairan pribadinya, ya. Gilaaa, airnya itu mirip kolam renang. Bahkan ada air hangat dan air dingin. Berenang di tempat ini nggak bakal bosan, deh. Walaupun akhirnya kaki saya harus lecet lagi kena batu-batuan yang ada di sana. Well, it was worth it.

Puas berenang, kami kembali ke Pulau Pramuka. Tadinya mau ke tempat penangkaran kura-kura, tapi ternyata udah tutup. Ya sudah, kami kembali ke villa untuk membersihkan diri. Lagi-lagi mati lampu dan cuma bulan cahayanya. Beneran, deh, bulan dan bintang hari ini jauuuuh lebih keren. Ya ampun, pengen banget lihat Jakarta seperti ini.

Kegiatan malam ini kami habiskan dengan barbeque. Para cowok berusaha untuk bakar ikan, tapi nggak berhasil. Padahal gaya mereka udah selangit, lho. Akhirnya, tetap minta tolong orang untuk bakarin ikannya. Hihi. Yummy, ikan bakarnya enaaaaak banget. Setelah makan, pulau diguyur hujan deras. Akhirnya kami menghabiskan waktu dengan bermain kartu. Ehm, sambil menunggu jam 12 malam soalnya si Abang ulang tahun dan kami akan memberikan dia kejutan dan ngerjain sedikit.

Tapi tampaknya angin sepoi-sepoi dan udara sejuk malam itu bikin kami cepat mengantuk. Selagi para cowok bermain kartu, saya melipir ke tempat tidur untuk tidur sebentar. Ternyata anak-anak yang lain juga nggak kuat dan malah ketiduran juga.

30 Mei 2010

Jam 12 kurang 15 menit, Anes membangunkan kami para cewek (sayangnya Kitin nggak bisa terbangun). Dia bilang Abang masih bangun dan sibuk upload foto dari HPnya. Padahal tadi rencananya mau kasih kejutan pas Abang tidur. Ya udah, deh, nggak papa.

Saya langsung menyalakan lilin di atas cupcake yang saya bawa dari Jakarta. Begitu tiba di villa Abang, lilinnya sempat mati pula gara-gara kena kipas angin. Setelah semua siap, akhirnya kami mengagetkan Abang dengan menyanyikan lagu happy birthday dan memberikannya cupcake itu. Dia kageeet banget dan nggak mengira bakal ada yang mengingat ulang tahunnya. Senang, deh, lihat si Abang kaget. Hihi.

Setelah itu, kami keluar kamar semua. Abang ikut keluar, cuma belakangan. Pas dia keluar.. PLAAAK! Dia diceplokin telur sama Anes. Horeeee! Dia langsung kaget tapi ketawa ngakak. Dia tanya lagi, ada yang mau ceplokin telur lagi nggak. Lah, malah minta. Hihi. Dia langsung masuk ke dalam untuk mencuci rambutnya. Setelah mencuci rambutnya, dia keluar lagi untuk menemui kami, daaaan diceplokin telur lagi. Hahahaha. Lucunya, dia masuk ke dalam lagi untuk mencuci rambut. Begitu dia keluar lagi, dia mengendap-endap siapa tahu ada yang bakal melempar telur lagi. Pas dia pikir keadaannya aman, dia keluar.. dan PLAAAK PLAAAK! Diceplokin dua telur sama Iyus dan Bang Ian. Lucuuuu sekali tampangnya. Ia pun, lagi-lagi masuk ke dalam dan kali ini ia keramas.

Malam itu, saya kasih si Abang hadiah dan kartu yang saya bikin sendiri. Dia bilang entar aja lihatnya, nanti dia bakal nangis lagi kayak kejadian Valentine kemarin, tapi kali ini saya pengen dia buka di depan saya. Untunglah dia nggak nangis, tapi teteeep aja berkaca-kaca. Berkali-kali dia bilang nggak nyangka dan terharu. Waaah, senangnya dia bahagia.

Jam 1.30 pagi baru kami kembali ke kamar masing-masing. Itu juga karena ingat harus bangun pagi lagi karena mau main kano. Yihaaa!

Jam 7 pagi kami bangun. Untunglah kali ini para cowok itu nggak terlalu susah untuk dibangunin. Tanpa mandi dulu kami langsung bermain kano. Saya satu kano sama si Abang. Tadinya mikir kalau main kano itu romantis ya kayak di flm-film. Kenyataannya.. berat buuung! Mengayuh kano itu susaaaah banget. Berkali-kali kano kami malah kemasukan air dan mandek jalan. Belum lagi saking hebohnya mengayuh, kami malah terjatuh.πŸ˜€ Ternyata main kano bikin tangan pegal dan badan keringetan.

Setelah itu, kami ke tempat penangkaran penyu. Sayangnya, lagi nggak bisa dimasuki karena listrik mati dan air belum diganti jadi bauuu banget. Sempat nyolong-nyolong liat penyu yang lucu. Tapi yang paling seru adalah liat ikan nemo. Aslinya keciiiiil banget tapi lucu. Di sana dijual 1000 rupiah per 1 ikan nemo. Tapi susah juga buat dibawa ke Jakarta karena dia hidup di air asin. Padahal pengeeeen!

Kembali ke Villa dan mandi serta packing buat pulang, kami sempat merayakan ulang tahun Abang lagi pake terompet kecil dan topeng. Seruuuunya.

Perjalanan pulang adalah yang paling seru. Kami harus berebutan naik ke kapal karena banyaaaak banget yang mau pulang juga. Benar-benar harus melompat dari dermaga ke kapal. Kami duduk bersempit-sempitan, tapi begitu di tengah perjalanan bisa-bisanya satu kapal tertidur dengan berbagai gaya. Hihi. Belum lagi si nahkoda kapal masang lagu Indonesia tahun 80an. Bikin tidur makin pulassss!

Puas bangeet sama liburan kali ini. Kulit menghitam, tapi hati senang. You should try it.πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s