Peer Pressure

Sudah pernah saya ceritakan kalau saya dan dia adalah dua orang yang sangat berbeda. Misalnya seperti ini:

  • Dia nggak betah lama-lama di rumah, saya bisa aja seharian di rumah dan nggak merasa bosan sama sekali.
  • Dia bisa ngajak orang yang nggak dikenal ngobrol, saya lebih baik diam aja. Pura-pura sibuk malah, supaya nggak diajak ngobrol orang yang nggak dikenal, terutama kalau di pesawat, nunggu bis, atau tempat umum lainnya.
  • Dia kuat begadang semalaman, saya jam 10 malam aja udah ngantuk.
  • Dia masih mau olahraga, saya malesnya minta ampun.
  • Dan masih banyaaaak perbedaan lainnya.

Beda dunia bikin kami pada awalnya susah payah menemukan cara supaya ketemu di tengah-tengah. Dan, voilaaaaaa! Here we are! Perbedaan justru bikin kami saling melengkapi. Saya belajar mengenal dunianya dan dia belajar mengenal dunia saya. Sangat menyenangkan dan berwarna.

Karena dunia yang berbeda itu tentu saja teman-teman sepermainan kami juga beda tipe orang-orangnya. Di awal hubungan kami, ketika dia ngajak untuk ketemu teman-temannya saya ketakutan setengah mati. Saya selalu punya alasan untuk menghindar, sibuklah, ada tugaslah, inilah, itulah. Dia pun jadi harus kreatif ketika teman-temannya menanyakan kenapa saya nggak diajak.

Lama-kelamaan saya merasa nggak enak, dong, kalau menghindar terus. Apalagi sebenarnya saya tahu teman-temannya ini, kok. Akhirnya suatu hari ketika saya lagi jalan sama dia, tiba-tiba dia mengajak saya ketemu teman-temannya. Pas mau turun dari mobil aja rasanya deg-degan setengah mati.

Aduh, nanti ngomong apa? Harus gimana? Gimana kalau saya nggak ngerti mereka ngomong apa?

Untungnyaaa, mereka sangat baik sekali. Mereka menyapa dan ngajak saya ngobrol, berusaha basa-basi. FIUH! Lega banget rasanya. Itu bikin saya nggak terlalu takut lagi kalau ketemu mereka. Walaupun setiap ketemu saya biasanya diam dan nggak banyak ngomong. Nggak tahu kenapa kalau ada di lingkungan yang baru saya harus mengobservasi dulu biar tahu saya harus gimana dan gaya becandaan mereka gimana. Jangan sampai tiba-tiba malah nggak nyambung dan jadi basi.

I respect his friends. Itu bikin saya mau mengenal mereka lebih dekat dan mau bergabung dengan mereka. Yah, walaupun kendala beda dunia itu masih ada. Tapi mengenal teman-temannya berarti berusaha mengenal dia lebih dekat lagi dan berusaha mengerti dunianya juga.

Suatu hari, dia mengajak saya untuk pergi bareng teman-temannya lagi. Saya semangat banget waktu itu karena merasa dihargai dan merasa dia melibatkan saya di dalam kehidupannya. Saya tahu bakal seharian bareng teman-temannya, tapi nggak terlintas perasaan takut lagi. Saya sempat beberapa kali chatting dan ngobrol dengan mereka, mereka baik sekali sama saya. Jadi saya pikir nggak ada yang perlu ditakutin. Lagipula ada dia di samping saya, bukan?

Ketika dia datang menjemput saya, sebelum masuk ke mobil, dia bilang ke saya lagi ada konflik antara teman-temannya sebelum berangkat. Dia nggak menjelaskan lebih lanjut lagi karena kami harus masuk ke dalam mobil dan di dalamnya sudah ada temannya. Saya duduk di depan dan dia yang menyetir. Sepanjang perjalanan, saya mendengar mereka berkeluh-kesah. Ada yang marah, ada yang bete-betean. Saya yang nggak tahu apa-apa cuma diam dan merasa nggak enak. Saya dan dia cuma diam. Dia berkonsentrasi menyetir mobil, sementara saya sibuk memainkan HP. Sibuk ber-chatting ria dengan teman-teman dan menanyakan dalam situasi canggung dan lagi nggak nyaman gitu apa yang harus saya lakukan. Mereka semua kompak menjawab: diam saja. Oh baiklah, saya diam saja, deh.

Sepanjang perjalanan akhirnya saya lebih banyak diam dan baru ngobrol kalau ditanya. Iyalah, takutnya mereka lagi bete trus ditanya macam-macam, nggak tepat banget kan waktunya. Sampai di tempat, mereka tampaknya sudah lebih mengenal orang-orang di sana, sementara saya NIHIL. Lagi-lagi saya memilih lebih banyak diam dan berusaha berlaku sewajarnya aja. Untungnya dia di dekat saya mulu. Untungnya lagi ada pacar si teman (yang notabene anggota tambahan kayak saya juga) yang baiiiiik banget nggak berhenti ngajak saya ngobrol ini-itu sampai bikin ketawa ngakak mulu. Jadi kira-kira yang ngobrol itu saya, pacar, teman, pacarnya si teman, dan sepupu pacar.

Sayangnya si teman dan pacarnya ini harus pulang ketika waktu menunjukkan jam 8 malam karena rumah si pacar jauuuh bener. Nah, mulai, deh, kebingungan harus gimana. Sementara di ruang sebelah mereka sedang dancing dengan lagu-lagu upbeat. Ini bikin saya lumayan takut juga karena saya nggak bisa nari sama sekali. KAKU BANGET! Duh duh! Soalnya dulu waktu ada acara juga, mereka pernah ngajak saya nari dan itu bikin saya panik. Untungnya tiba-tiba ada distraksi dan tari-tariannya terpaksa berhenti. FIUH! Tapi untungnya kali ini nggak. Lumayan canggung juga, sih, karena serius deh banyak ungkapan-ungkapan yang mereka keluarin dan saya nggak ngerti. *Duh duh, Mama, selamatkan saya, dooong!*

Nah, waktu jam udah menunjukkan jam 9 malam, mereka mulai grasak-grusuk, “Habis ini mau ke mana kita?”. Waduh duh, gawat ini. Secara udah segede ini, jam malam saya adalah jam 23.00. Kalau jam segini baru mau pergi, belum lagi jalanan malam minggu itu macetnya minta ampun, dan tempat yang dituju lumayan jauh, entah jam berapa saya bisa sampai rumah. Ini lagi perbedaannya, mereka sudah terbiasa pulang malam, dan saya mikir seribu kali buat pulang malam karena pasti kena omel dasyatnya si Mama dan terutama karena saya emang nggak kuat buat begadang. Apalagi kalau udah seharian pergi begini.

Tapi tentu saja (lagi-lagi) saya diam. Masa sih saya merengek-rengek minta pulang. Lagian saya kan pengen menciptakan impresi yang baik di depan teman-temannya. Jadi ketika di mobil saya diam aja walaupun otak mulai berputar mencari alasan apa yang bakal dikasih ke Mama kalau saya bakal telat pulangnya. Telat banget malah. Mulailah saya bermain-main dengan HP lagi.

Ketika di tengah perjalanan, dia bertanya pada saya,

Kamu nggak papa pulang malam?

Saya bilang nggak tahu dan mau coba SMS si Mama dulu. Tapi selama saya pegang HP, saya nggak menemukan alasan penting untuk bisa pulang malam (banget) malam ini. Kalau pulang lebih dari jam 12 malam pasti si Mama bakal marah besar, nih. Mana besoknya saya mau pergi lagi, bisa-bisa nanti nggak dibolehin pergi. Udah gitu, saya bakal pulang malam banget ini sama si pacar. Orang rumah pasti akan mengira dia yang bertanggung jawab memulangkan saya tepat waktu di rumah. Duh, dilema! Antara mau memberi impresi dan peraturan rumah.

Setelah sekian lama bermain-main HP dan nggak memberikan jawaban juga, dia bertanya lagi (untungnya teman-temannya lagi becanda heboh di belakang jadi nggak mendengarkan kami yang ngomong aja sambil bisik-bisik),

Ya udah, aku anterin kamu dulu, ya. Aku juga nggak ikut pergi, deh.

Tapi aku nggak enak. Masa nganterin kita dulu ke rumah.

Ya nggak papa, daripada nanti dimarahin kalau pulang kemalaman.

Nggak usah, deh. Kita pulang naik taksi aja, ya. Biar acaranya nggak keganggu.

Waktu itu saya merasa nggak enak banget. Mengantarkan saya pulang berarti menganggu acara mereka banget. Kalau nggak harus ngaterin saya pulang, mereka bisa langsung sampai ke tempat tujuan dengan cepat. Tapi kemudian dia tiba-tiba bersuara,

Eh, kita pulang duluan aja, ya. Naik taksi.

Saya cuma bisa melihat dia dengan bengong. Oh no! Dia benar-benar mengucapkannya. Jantung saya mulai berdetak cepat, apa nih reaksi teman-temannya nanti. Mereka mulai bertanya, kenapa, kok begitu? Sampai akhirnya mereka bilang untuk mengantarkan saya dulu. Waktu itu rasanya pengen tenggelam aja *lebay* karena udah merasa bikin rencana mereka berantakan.

Ketika sampai di rumah, mereka bertanya emang saya nggak boleh pulang malam, bukannya boleh sampai jam 11 malam, ya. Saat itu rasanya mendapat tamparan di wajah. Saya memberikan alasan dan mereka mengangguk. Dia ikut turun untuk mengantarkan saya sampai gerbang. Lalu dia pergi bersama teman-temannya melanjutkan perjalanan. Hati saya rasanya campur aduk. Yang saya tahu waktu itu saya mau nangis. Mungkin saya kecewa, mungkin saya sedih. Entahlah. Waktu itu merasa pengen banget memberi impresi yang baik, tapi ternyata gagal. Mana belakangan saya baru tau bahwa dari rumah saya maceeeeet banget sampai akhirnya mereka membatalkan rencana ke tempat semula dan makan di dekat rumah saja. Rasanya merasa bersalaaaaaaah banget.

Seumur-umur saya jarang peduli omongan orang. Mau mereka pulang pagi, mau saya dibilang cupu karena nggak mau ngikutin mereka, saya nggak peduli. I am who I am. Baru kali ini rasanya saya tertekan karena nggak bisa ngikutin teman-temannya dia, padahal saya pengen memberi impresi yang baik, bahwa saya bisa ngerti banget dunianya mereka. Tapi ternyata nggak. Saya mulai minder, mulai merasa cupu. Saya pengeeeen banget bisa masuk, tapi entah kenapa tetap aja merasa jadi outsider. For the first time, I can understand why peer pressure can give such big impacts in people’s life. The feeling to be fit in and accepted. Saya merasa saya dikasih kesempatan itu seharian penuh dan saya malah bikin berantakan karena harus pulang. Merasa gagal. Mungkin itu yang saya rasakan.

One thing that makes me realize why I bother this time is because I love this man. It makes me willing to know his world. Getting along with his friends and family is one thing that I really wanna do.

Untungnya, dia nggak pernah memaksa saya. Dia nggak pernah menganggap saya yang anak rumahan adalah sesuatu yang patut diubah. Dia bilang,

Kamu bisa jadi contoh buat mereka bahwa anak gadis nggak baik pulang malam-malam.

He said I should not be ashamed for what I believed in, that nothing was wrong with me. Cukup lega juga mendengar dia berkata seperti itu dan merasa dia akan selalu ada untuk saya. Tapiiii keinginan untuk diterima ternyata cukup besar sehingga sampai saat ini kalau ingat itu rasanya masih sediiiiih aja. Well, peer pressure is definetely hard.

Hopefully, next time I won’t fail or maybe I should accept that our world is different, but I still respect them. Well, let’s give it another try.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s