Quarter Life Crisis

Akhir-akhir ini saya sering berada di rumah. Apalagi kalau bukan karena thesis, dan emang karena belum punya pekerjaan jadi nggak mungkin jalan-jalan terus, ngabisin duit orang tua *sigh*. Karena keseringan di rumah dan buka laptop, situs yang paling sering dibuka adalah Facebook dan Twitter.

Facebook dan Twitter adalah cara paling mudah mendapatkan update dari kehidupan teman-teman. Sekarang yang paling marak adalah mendapatkan kabar seseorang sudah bertunangan dan akan menikah. Beberapa juga sedang ada yang hamil atau bahkan udah punya anak.

Kalau dulu, saya bisa senang dan semangat ’45 kalau mendapatkan teman akan menikah. Saya pasti akan mengingat tanggal itu baik-baik dan tidak akan melewatkannya. Mau yang nikah teman dekat atau teman jauh pasti saya datangin. Nah, kalau sekarang tiap ada yang bertunangan atau menikah bikin saya deg-degan. Hm, mungkin panik lebih tepatnya. Seakan-akan langsung muncul pertanyaan di kepala saya: kapan giliran saya? Sampai akhirnya, saya mulai nggak berminat datang ke pesta pernikahan kalau nggak dekat-dekat amat dan males lihat facebook karena takut ada berita pernikahan lagi. This is killing me.

Bukan cuma soal pernikahan aja, tapi juga soal pekerjaan. Di usia yang hampir 25 tahun ini, saya masih kuliah S2 dan belum punya pekerjaan tetap. Sementara orang seusia saya mungkin udah sampai ke mana-mana pekerjaannya. Udah bisa jalan-jalan dan beli ini-itu pakai gajinya sendiri. Saya masih bergantung secara finansial kepada orang tua. Doooh!

Mungkin ini yang dinamakan quarter life crisis. Dari Wikipedia saya mendapatkan beberapa karakteristik dari quarter life crisis yang sesuai dengan keadaan saya ini:

1. Insecurity regarding the fact that their actions are meaningless
Bener banget! Suka merasa apa yang dilakukan nggak berguna. Mempertanyakan kembali buat apa ngambil S2, emang nanti menjamin saya bakal dapat pekerjaan yang lebih baik? Lalu tiba-tiba merasa semuanya nggak berguna.

2. Insecurity regarding present accomplishments
Sering banget merasa semua yang saya capai saat ini nggak ada artinya. Menganggap saya belum berhasil melakukan sesuatu yang berguna. Sama sekali.

3. Re-evaluation of close interpersonal relationship
I do this almost everytime. Kalau kata Armada, mau dibawa ke mana hubungan kita. Kalau emang cuma buat bersenang-senang dan nggak ada tujuannya, hm lebih baik nggak perlu menjalaninya. Saking seriusnya, baru kali ini saya sampai rela baca buku tentang relationship yang baik dan bertanya-tanya ke orang yang berpengalaman bagaimana cara menjalani hubungan yang baik.

4. Dissapointment with one’s job
Saya memang belum punya pekerjaan, sih. Justru lebih parah makanya. Sering buka lowongan pekerjaan dan melihat pekerjaan apa yang saya inginkan dan mendapati bahwa kemungkinannya saya akan menjalani pekerjaan yang nggak saya suka. OH NO!

5. Nostalgia for university, college, high school, or elementary school life
BANGET!! Rasanya pengen balik ke masa-masa itu, di mana hal paling menakutkan yang harus dipikirkan adalah ujian. Selain itu, nggak ada yang perlu ditakutin. Semua kelihatan lebih mudah dan menyenangkan. Nggak perlu takut ini-itu. Kalah saya bisa balik ke masa itu, saya pengen bilang ke diri saya sendiri untuk menikmati masa-masa itu sepuasnya karena itu masa-masa paling menyenangkan.

6. Boredom with social interactions
Ini juga sedang saya alami. Saya bosan setengah mati dengan interaksi sosial saya saat ini. Orang-orang yang saya temui saat ini adalah orang-orang yang paling bikin saya males untuk ngobrol sama mereka.

7. Loss of closeness to high school and college friends
IYA! Masih ada yang berhubungan, sih, tapi nggak terlalu intens kayak dulu lagi. Berhubung masing-masing punya kesibukan dan kehidupan yang udah jauh beda, untuk sekedar ngumpul aja butuh nyusun jadwal yang ribet. Kalau mau semuanya ngumpul pasti susaaah banget ngatur jadwalnya. Bisa harus bulan depan ketemunya lagi. Kalau nggak semuanya ngumpul, paling yang bisa beberapa doang.

8. Financially-rooted stress
Apalagi kalau nggak punya pekerjaan berarti nggak punya penghasilan. Artinya lagi tahan semua nafsu untuk jalan-jalan, liburan, dan beli barang-barang kesukaan. Hura-hura cuma di weekend aja.

9. Desire to have children
Pengen banget! Ini berhubungan dengan pernyataan nomor 4. Kenapa saya mulai sering mengevaluasi hubungan saya karena saya pengen punya anak. Segera. Secepat-cepatnya.

10. A sense that everyone is, somehow, doing better that you
TEPAT! Semua orang kelihatan bahagia dan sukses, sementara saya stuck di tempat. Nggak tahu mau ngapain, nggak jelas masa depannya gimana. Apalagi kalau udah jadi profile stalker, tambah minder seminder-mindernya, deh. Sungguh bikin takut aja.

There you go. Saya positif mengidap quarter life crisis. Semoga ini ada obatnya.

2 thoughts on “Quarter Life Crisis

  1. sama banget mi,
    gue aja masih suka labil ama pilihan2 hidup gue sendiri..
    sama pekerjaan gue, sama rencana2 hidup gue, kayaknya orang-orang lebih sukses dari gue, apalagi yang udah pada nikah.. wah gue kapaaaan bangettt hahaha *nasib single* ==> sekalian iklan

    cuman gue mikirnya, as long as it makes me happy, ya udah dijalanin aja. Rumput tetangga memang terlihat lebih hijau kan mi.. hehe
    aku aja suka sirik looh dirimu bisa kuliah lagi *ih tetep bahasan gue*

    gue setuju!! masa2 sekolah & kuliah itu udah paling bener deeeeh.. ga perlu mikirin hari kiamat juga hidup lo bakal asik2 terus santai kayak di pantai..

    Semangat ya mi we actually have the similar cases.. hahahahaπŸ™‚

    • hahaha.. benar2 in. rumput tetangga selalu lebih hijau. lo pengen kuliah, gue pengen kerja. emang deh ga pernah puas. Ayooooo, semoga sukses ya ujiannya!πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s