Thomas Brings Back Memories

Setelah sekian lama nggak pernah lagi nonton pertandingan bulutangkis, hari ini saya nonton pertandingan final Thomas Cup antara Indonesia vs China yang diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia. Dari jam 11 saya udah pasang TV. Saya pikir pertandingannya jam 11.45, tapi kok ditunggu-tunggu nggak muncul-muncul, ya? Oalaaaah, salah lihat jadwal, ternyata pertandingannya jam 12.45.

Nonton pertandingan Thomas Cup kali ini cukup membuat saya deg-degan setengah mati. Ketemu pacar aja saya nggak pake deg-degan kayak gini, lho. *maaf pacar, kamu dibandingin sama si Thomas. Hihi*.

Dari semua pemain bulutangkis Indonesia, saya cuma kenal Taufik Hidayat. Yang lain seperti Markis-Hendra dan Santoso nggak terlalu kenal, cuma pernah dengar namanya selintas lewat aja. Pertandingan pertama, Indonesia menurunkan Taufik Hidayat. Agak kecewa juga karena (kayaknya) gampang banget kalah 2 set langsung sama Lin Dan. Patut diakui, sih, Lin Dan ini jagooo banget. Badannya kayak karet lentur ke sana-ke mari nangkepin kok.Pas Taufik kalah merasa cukup ngenes juga karena tadinya ngarep Indonesia bisa nyuri satu nilai dari partai ini.

Partai kedua ada Markis Kido-Hendra. Saya hampir nggak pernah lihat pasangan ganda ini bertanding. Terakhir saya cuma ingat masa-masanya Ricky-Rexy main, setelah itu nggak buta deh kalau ditanya soal pasangan ganda Indonesia. Nah, pas hari ini lihat Markis-Hendra main, wuidiih itu jantung makin kerasa aja berdebarnya. Saya bahkan bisa teriak sendiri menyemangati mereka main (yang tentu saja nggak bakal didengar, sih). Kaguuum banget sama Markis yang walaupun badannya nggak tinggi-tinggi amat, tapi gesitnya minta ampun. Kecepatannya bikin saya nggak bisa lihat kok ada di mana sekarang. Mirip The Flash!πŸ˜€ Walaupun di partai ini tim Indonesia juga harus kalah, tapiiii setidaknya nggak kalah dengan mudah. Mereka harus main rubber set dan skor akhirnya juga tipis banget. Nah, gitu dooong, setidaknya berikan kami permainan yang cantik, jadi walaupun kalah nggak merasa nyesel-nyesel banget karena tahu mereka sudah jatuh bangun berusaha.

Setelah kalah 0-2 dari China, udah agak lemas, sih, nontonnya. Apalagi partai ketiga ini Indonesia diwakilkan oleh Simon Santoso. Siapa pula dia ini? Pas dia muncul, woooow, cute juga. Selama pertandingan ekspresinya benar-benar datar. Mau dia menang atau kalah, ekspresinya sama. Bikin gemes beneran, deh.πŸ˜‰ Tapiii yang penting Simon bermain dengan bagus dan konsisten. Di set pertama dia bahkan bisa menang atas pemain China. Sayangnya pas set kedua dan ketiga dia kalah. Well hey, kalau kalah dengan terhormat itu nggak papa. Yang penting dia udah berusaha banget. Ehm, dan saya jadi punya pemain idola baru: si cute Simon Santoso.

Indonesia emang harus kalah 0-3 dari China dan (lagi-lagi) gagal merebut Thomas Cup, tapiiii pertandingan ini sungguh mengingatkan kembali pada masa kecil saya. Dulu saya benar-benar penggila bulutangkis. Setiap Indonesia bertanding, saya pasti nonton di TV mau semalam apapun itu. Bahkan kalau udah mau kalah, saya bisa melipir ke kamar cuma untuk berdoa dan janji sama Tuhan untuk rajin belajar kalau Indonesia bisa menang. Nggak selalu dikabulkan, sih, dan kalaupun menang kadang-kadang janjinya udah lupa kalau kelamaan. Hihi.

Untungnya saya punya orang tua yang juga senang olahraga. Dulu waktu PON diadakan di Jakarta, saya sempat beberapa kali nonton pertandingan bulu tangkisnya. Waktu itu bahkan saya bisa mendapatkan tanda tangan Joko Supriyanto, Mia Audina, Susi Susanti, Ricky Subagdja, dan banyaaaak lagi pemain bulutangkis favorit lainnya (sayang, teteeeep nggak bisa dapat tanda tangan Rexy Mainaky). Tanda tangan di atas kaos itu selalu saya simpan dan lihat-lihat kembali kalau lagi kangen.

Bukan cuma itu aja, saya juga punya kliping tentang pemain favorit saya: Ricky-Rexy. Saya bahkan jadi rajin baca tabloid Bola cuma untuk dengar kabar terakhir dari mereka. Saya memantau peringkat IBF mereka, saya tahu nama istri dan anak mereka, dan saya mencari tahu Pelatnas itu di mana. Setiap lewat daerah Cipayung, saya langsung deg-degan berharap tiba-tiba pemain bulutangkis favorit saya lewat atau nyebrang jalan. Hihihi.

Seiring dengan merosotnya prestasi bulutangkis kita, memudar pula kegilaan saya pada bulutangkis. Saya jarang melihat pertandingannya di TV dan makin sedih karena jarang banget pertandingan internasional bulutangkis diadakan lagi di Indonesia. Tapi hari ini melihat pertandingan Thomas Cup dan komentar-komentar teman-teman di twitter yang juga mendukung tim Indonesia bikin ingatan masa kecil itu kembali lagi. I felt so alive!

Makasih Trans TV dan Trans 7 yang sudah menyiarkan pertangingan Thomas dan Uber Cup tahun ini. Buat tim Indonesia, makasih sudah jadi pejuang bangsa dan membela negara mati-matian di luar sana. We love you!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s