(Hampir) Seminggu

Minggu ini adalah minggu penuh penyakit.

Senin: Tidur jam 12 malam dan kebangun jam 3 pagi. Habis itu sama sekali nggak bisa tidur lagi sampai akhirnya benar-benar bangun jam 5.30 karena mau bimbingan ke kampus. Entah kenapa akhir-akhir ini kalau mau ke kampus paginya, saya bisa semalaman nggak bisa tidur. Psikosomatis mungkin. Habis sempat ngomel-ngomel ke bokap karena stres jalanan maceeeet banget, sementara Debora udah mau lewat (efek Debora emang sebesar itu!). Akhirnya karena macet yang luar biasa itu, di tengah jalan memutuskan naik ojek sampai ke tempat Debora. Baru turun dari ojek, muncul Debora. FIUH! Lega!

Di kampus cuma 15 menit bimbingan dengan dosen. Bayangkan dengan perjalanannya yang 2 jam! Setelah itu tanpa mampir ke mana-mana lagi, nggak pake sapa-sapaan sama siapapun yang ada di Gedung B, nggak pake ke kantin, saya langsung pulang. Sebegitu antinya saya sama kampus. Seriously, this is a traumatic place for me. No hanging around.

Pulangnya nunggu Debora lagi, untungnya kali ini nggak lama, cuma penuuuuh banget. Saya kedapetan tempat duduk di paling belakang. Sebelah kiri saya seorang ibu tua yang bawa banyak barang, sementara sebelah kanan saya seorang cowok belasan tahun. Duduk paling belakang emang nggak enak banget. Goyangannya terasa banget bikin kepala pusing. Ibu di sebelah saya terpaksa harus berdiri karena mau muntah. Duh, deg-degan abis takut dia muntah beneran. Cowok di sebelah kanan saya asik bertelepon ria dengan volume suara yang besar. Dia ngomongin tentang tante-tante yang suka brondong dan dia mau nemenin tante-tante itu. OH NO! Bikin pengen nguping lebih lanjut. Hihi.

Selasa: Sudah berusaha tidur dari jam 11 malam karena besok pagi jam 8 ada bimbingan dengan dosen lagi. Seperti sebelumnya, saya benar-benar nggak bisa tidur. Saya merasa terjaga semalaman. Ketika alarm berbunyi pagi hari, kepala saya terasa seperti ditusuk-tusuk. Mungkin efek nggak bisa tidur. Sakitnya bukan kepalang sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengabari dosen dan bilang nggak bisa datang karena sakit. Untungnya dosennya baik. Ia mengijinkan saya meneleponnya nanti malam untuk bimbingan via telepon.

Setelah tidur beberapa saat, keadaan saya mulai membaik. Tapi tanpa sebab yang jelas, siangnya tiba-tiba kepala saya sakit lagi. Saya berusaha makan dan minum obat serta tidur lagi, tapi nyerinya masih tetap ada. Kata si Neng Melvi, mungkin akibat PMS, tensi darahnya rendah, dan stres. Dia juga pernah mengalami hal yang sama persis dengan saya. Yah, mungkin benar juga.

Malamnya, saya menelepon dosen dan bimbingan dengannya. Untungnya dia baik dan saya bisa bimbingan dengan lancar. Kabar baik sebenarnya, tapi entah kenapa saya nggak pernah merasa senang.

Rabu: Seharian di rumah. Actually, sebenarnya punya janji dengan si Neng Melvi untuk jalan-jalan ke PIM, tapi sayangnya dia di kampus sampai sore sampai nggak sempat lagi kalau ke PIM. Tadinya sempat senang juga waktu pacar minta ditemani untuk ikut sesi, tapi ternyata harus batal juga karena dia ada kerjaan. Ya sudah seharian di rumah. Sakit kepala sudah mulai membaik kali ini.

Kamis: Hari libur kenaikan Tuhan Yesus ini, saya pergi ke HKBP sama nyokap. Nyokap harus koor jadi dia duduk di barisan paling depan dan saya ditinggalkan sendirian. Untungnya ada si pacar jadi duduk bareng dia, deh. Hm, ternyata udah lama juga, ya, nggak gereja bareng dia. Rasanya menyenangkan.

Pulangnya, ada keponakan-keponakan datang ke rumah. WOOOOW, rumahku rame. Senang sekali ada bocah-bocah kecil yang ramenya minta ampyuun. Bikin suasanan rumah nggak sepi lagi.

Malamnya, si pacar menjemput. Kami, bersama dua teman lainnya makan Ramen Sanpachi di Plaza Pondok Indah. Keluar dari rumah dan bersenang-senang, walaupun cuma makan di luar doang, bikin sakit kepala hilang. Ramen yang pedessss banget ini bikin air mata saya keluar dan si teman-teman keringetan. Lucu sekali. Yang penting bisa lupa dari hal yang bikin stres dan ketawa-ketawa sambil merencanakan liburan.

Anes, Santy, Me, and PacarπŸ˜€

Sampai rumah jam 21.30. Sebelumnya kami sempat ke mini market dulu untuk beli cemilan buat para keponakan dan tentu saja buat kami. Hihi. Aah, malam ini lupakan diet dulu, deh. Sambil melihat foto-foto jaman kecil saya yang AIB banget itu, kami ngemil malam-malam. Padahal perut kami udah buncit. Yang paling menyenangkan dari bertemu si pacar adalah dia selalu bisa membuat saya tertawa, dengan kegaringan dan celetukan-celetukannya. Sungguh, beruntung sekali bersama dengannya.

Setelah si pacar pulang, saya chatting dengan Neng Melvi sampai jam setengah 2 pagi. WOOOW, memang menyenangkan chatting bersama dengan teman baik dan membicarakan hal-hal yang baik juga. Membuat hari jadi jauuuh lebih baik.

Jumat: Bangun pagi dan bermain dengan keponakan seharian. Menyenangkan sekali bersama mereka. Rasanya pengen kembali jadi anak kecil yang nggak usah pusing sama perintilan-perintilan tentang masa depan. Tapi sayangnya, malam hari kepala tiba-tiba pusing lagi. Duh, saya nggak ngerti ada apa sih sama saya?

Anyway, saya kangen si pacar hari ini. Hujan selalu membuat saya kangen dia.

Semoga minggu depan nggak pake acara pusing-pusing lagi, deh. Kalau pusingnya kayak gini, saya nggak bisa ngapa-ngapain jadinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s