Bullying

Kita udah sering mendengar soal bullying. Bullying sendiri adalah suatu bentuk perilaku yang menyakiti orang lain, baik dalam bentuk fisik, emosional, dan fisik. Akhir-akhir ini banyak berita tentang bullying yang dilakukan di sekolah. Misalnya aja senior yang memperlakukan juniornya dengan kejam, seperti memukul, menendang, dan menghina-hina dengan kata kasar. Dulu kasus yang marak dibicarakan adalah kasus bullying di STPDN, di mana korbannya sampai meninggal karena dipukul habis-habisan.

Korban bullying biasanya nggak melaporkan tindakan pelakunya. Mereka takut jika dilaporkan mereka akan semakin dibuat menderita, makin parah disiksanya, atau malah dimusuhi satu sekolah. Kalau pelakunya senior aja, korban udah nggak berani melaporkan pada guru atau pihak berwenang lainnya, bagaimana jika pelakunya adalah guru atau dosen itu sendiri? Posisi korban akan semakin lemah. Sejauh manakah mereka bisa melapor dan laporannya tersebut akan ditindaklanjuti?

Seorang teman sedang mengalami bullying yang dilakukan oleh pengajarnya sendiri. Ironisnya, pengajar tersebut mempunyai profesi yang seharusnya tahu banget efek dari bullying tersebut. But she keeps doing it. Hasilnya, dua orang muridnya keluar karena nggak tahan dengan perlakuannya. Kalau sekedar dimarahin aja, sih, itu udah biasa. But it’s more than that. Dia menyakiti secara emosional. Kata-katanya nyinyir, dia selalu merasa paling benar, dia butuh afeksi alias pendekatan spesial dari para murid yang menghadap padanya, dan dia sangat subyektif. Kalau dia udah mulai nggak suka dengan si murid–yang berarti penilaiannya bisa sangat subyektif– dia bisa memberikan nilai jelek, nggak peduli seberapa usaha yang kita lakukan untuk membuat tugas tersebut. Yang paling menyakitkan adalah kata-katanya yang membuat seseorang bisa sakit hati.

Sekarang teman saya merasa kepalanya pusing dan darahnya drop ketika harus mengerjakan tugas itu. Dia membutuhkan obat untuk membuat pusing kepalanya hilang, itu pun sering nggak mempan. Selain itu, setiap dia mengerjakan tugas itu, dia benar-benar nggak bisa mengeluarkan apa yang ingin dikeluarkan. AS if someone’s blocking her brain. Seorang psikolog mengatakan bahwa peristiwa tersebut sudah masuk ke alam bawah sadarnya dan ia berusaha menekannya sehingga menyebabkan ia psikosomatis dan mem-blocking pikirannya.

Dan apa yang ia bisa lakukan? Almost nothing! Dia berusaha melaporkannya ke pimpinan dan hampir nggak ada yang bisa mereka lakukan, kecuali bilang, “Yang sabar, ya. Kamu nggak apa-apa, kan? Sudah siap kalau dia memberikan kamu nilai jelek?”. WTF! Si pengajar itu selalu menceritakan ke orang-orang dengan versinya dia, bahwa si muridlah yang menyebabkan dia pantas diperlakukan seperti. Well, hellooooo! Kalau udah ada 2 orang yang keluar, tidakkah bisa dilihat bahwa apa yang dia lakukan itu mempunyai dampak yang besar bagi psikologis mereka? Tidakkah para pimpinan bisa melakukan sesuatu untuk menindaklanjuti hal tersebut?

Teman saya nggak bisa melakukan apa-apa. Dia merasa posisinya cuma sebagai murid akan kalah dibandingkan dengan dia. Nilai-nilainya bisa hancur seketika dan pengajar-pengajar lain bisa memandanganya jelek, sesuai dengan persepsi si pengajar tadi. Jadi dia cuma bisa diam dan mati-matian berusaha mengerjakan tugasnya itu. Dia bahkan butuh saya untuk menemaninya supaya ketakutannya berkurang.

Saya yang tahu ceritanya dari awal dan tentu saja tahu siapa pengajar itu ikut merasa kesal, marah, dan gregetan. Saya tahu banget teman saya ini punya kemampuan basa-basi yang baik. Jauuuuh lebih baik daripada saya. Dia bisa beramah-tamah dengan siapapun, bahkan dengan orang yang baru dikenal sekalipun. Saya nggak mengerti kenapa dengan yang ini gagal. Bahkan teman saya yang lain, harus ‘menjilat’ berlebihan agar mood si pengajar selalu baik. Bagaimana kalau kita nggak bisa menjilat? Sungguh saya sampai kaget karena dia harus sampai segitunya. Bukankah itu kewajiban mereka untuk membimbing seperti apapun moodnya? Dia pernah pedulikah bahwa murid-muridnya juga mengalami masalah dan moodnya hancur berantakan, tapi harus tetap tersenyum hanya untuk bertemu dengannya?

Mungkin teman saya punya kesulitan untuk melawan atau mungkin sulit juga karena posisinya sebagai murid. Kalau saya ada di posisi dia, saya nggak akan bisa sesabar itu. Saya akan melaporkan pada siapapun yang berwenang, entah itu sampai pihak dekan atau rektor sekalipun. Kalau perlu saya akan membawa orang tua saya jika memang itu akan membuahkan hasil yang berarti. Itu salah satu bentuk bullying dan nggak bisa didiamkan karena posisi kita lebih rendah. Anyway, you pay for that intitution, you have the right to get the education properly, not some emotional abuse. Apalagi dilakukan oleh seseorang yang seharusnya menjadi contoh yang baik.

Untuk menuliskan ini saja, saya harus berhati-hati. Seandainya saya bisa menuliskan nama orang dan institusinya, tanpa harus dianggap mencemarkan nama baik seseorang. Sedih dan kecewa sekali melihatnya. Lebih sedih lagi karena kita nggak bisa melakukan banyak terhadap hal ini. Saya harap, tindakan ini bisa dihentikan secepatnya oleh orang-orang yang berwenang.

Menurut kalian apa yang seharusnya bisa dilakukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s