Melawan si Mood

Dimulai dari Jumat, tanggal 16 April 2010, saya bertekad untuk nggak gampang marah atau ngambek lagi. Sebelumnya saya gampang banget kebawa emosi alias moody. Sifat moody ini bikin saya merasa perlu diperhatikan oleh orang lain dengan alasan saya, kan, lagi pusing, stres, dan ribet dengan masalah kampus, jadi wajar, dong, saya bersikap seperti itu. Yang keluar dari mulut saya biasanya adalah keluhan-keluhan dan pengen disenangkan oleh orang lain, terutama orang-orang terdekat saya, seperti keluarga dan pacar.

Saya nggak sadar bahwa sifat moody ini bikin orang-orang di sekitar saya jadi kerepotan. Mereka nggak tahu apa-apa tiba-tiba kena omelan saya. Akhirnya mereka membiarkan saya dan sangat berhati-hati dengan saya. Mereka mulai mengeluh dengan saya.

Sampai Jumat minggu lalu saya menonton film Book of Eli. Adegan Eli mengucap syukur ketika makan bikin saya tersentak. Secara kasat mata nggak ada yang benar-benar perlu disyukuri, keadaannya mengenaskan, tapi dia bisa aja mensyukuri hal-hal kecil yang nggak kelihatan bagi saya. Dibandingin sama keadaan saya, apa sih sebenarnya yang patut saya keluhkan? Hampir nggak ada.

Selain itu, si Abang juga pergi berlibur sama teman-temannya ke Phuket. Liburan yang patut dia dapatkan di tengah-tengah kesibukannya. Kami nggak pernah benar-benar susah berkomunikasi kecuali saat 3 hari dia di luar negeri itu. Baru sadar, kalau dia dekat selaluuu saya omelin, tapi kalau jauh rasanya kangeeeen banget.

Dua alasan itu, bikin saya bertekad untuk nggak mempersoalkan hal-hal yang kecil lagi. Berusaha untuk bersikap positif dan punya hati gembira.

Hasilnya?

Sudah 9 hari saya bisa bersikap baik dan nggak ngomel-ngomel. Mau si Abang pulang malam, ketiduran sampai nggak bisa telepon, mau di-SMS cuma sekali doang dalam sehari, saya nggak marah. Saya tahu dia bukan lagi leyeh-leyeh, tapi lagi ribet sama kerjaannya di kantor. Belum lagi harus kuliah lagi malamnya dan masih harus mengerjakan tugas lagi kalau pulang. Mendapatkan sejam dari waktunya untuk berbincang-bincang dengan saya adalah hal yang istimewa.

Ajaib! Berpikiran positif bikin saya merasa jauuuuh lebih bahagia. Saya nggak gampang stres, nggak gampang mengeluh, dan sikap saya terhadap orang lain juga jauh lebih baik. Saya bisa menerima berita-berita yang tadinya pasti bikin saya kesal, dengan baik. Saya bisa bergembira terhadap kebahagiaan orang lain. Semuanya terasa menyenangkan.

Ketika bertemu si Abang hari Sabtu kemarin, dia memuji sikap saya yang positif. Biasanya kalau saya udah mulai ngomel-ngomel, dia akan menggoda saya dengan sebutan ibu tiri. Katanya si ibu tiri udah nggak muncul lagi. Senang sekali rasanya.

Jadi, begitu hari ini tiba-tiba moody saya kambuh lagi. Saya berusaha melawannya mati-matian. NOPE! Saya cuma boleh bete kalau memang ada alasan yang jelas dan nyata. Bukan karena tiba-tiba bete aja. Saya nggak mau kalah. Saya tahu, saya pasti bisa.

Well, hati yang gembira adalah obat.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s