What Eli Taught Me

The Book of Eli.

Disclaimer: Kalau belum nonton dan berniat nonton, lebih baik ditahan dulu baca tulisan ini. Tapi kalau emang nggak berniat nonton, ya monggo dibaca. Bakal agak spoiler, nih.

Awalnya saya nggak tahu film ini tentang apa. Saya cuma tahu yang main Denzel Washington. Kalau yang main dia pasti jaminan filmnya bagus, deh. Jadilah saya dan Neng Melvi nonton film ini.

Inti dari film ini sih sebenarnya sederhana: memperebutkan sebuah buku yang cuma dipunya sama Eli (Denzel Washington). Banyak adegan-adegan yang sadis juga, seperti tangan keputus, ditusuk, ditembak. Duh, lumayan bikin stres juga buat saya yang nggak tahan lihat darah. Selain dari itu, pesannya bagus banget.

Film ini mengambil cerita suata saat di masa depan. Saat itu, dunia udah hancur karena perang dan radiasi matahari jadi setiap orang harus pakai baju tebal dan kacamata hitam kalau di luar rumah. Kalau nggak pake kacamata hitam bisa buta kena sinar matahari. Pada saat perang, semua buku-buku habis dibakar. Peradaban hampir hancur. Setelah perang, cuma ada sedikit orang yang bisa baca. Yah, kan, nggak ada buku lagi, jadi orang nggak belajar untuk baca. Semua saling curiga karena mereka harus membunuh satu sama lain untuk bisa bertahan. Nah, si Eli ini bisa menyelamatkan satu buku yang sekarang lagi dicari-cari karena udah punah. Buku itu Alkitab.

Eli mempertahankan buku ini mati-matian. Dia baca setiap hari selama 30 tahun setelah masa perang. Dia hampir nggak pernah tertidur cuma untuk menjaga buku ini. Misinya adalah ke daerah barat, karena Tuhan menyuruhnya begitu. Dia nggak tahu di sana ada apa, tapi Tuhan bilang bawa Alkitab itu ke sana dan dia akan terselamatkan. Jadi walaupun Eli harus nemuin banyak tantangan dan masalah dia tetap keukeuh berjalan ke barat. Dia menyebut itu iman.

“No, I walk by faith, not by sight. It means that you know something even if you don’t know something. It doesn’t have to make sense, it’s faith, it’s faith.”

Sampai suatu saat dia harus memilih: mempertahankan buku itu atau melepaskannya demi seorang perempuan yang akan dibunuh. Eli memilih untuk melepaskan buku itu. Si perempuan, Solara, bertanya kenapa sekarang Eli berani melepaskan buku itu. Eli menjawab, “In all these years I’ve been carring it and reading it every day I got so caught up in keeping it safe that I forgot to live by what I learned form it. Do for others more than what you do for yourself, that’s what I got from it anyway.” Eli belajar bahwa bukan bukunya yang harus dia pertahankan, tapi bagaimana melakukan apa yang tertulis di dalamnya.

Film ini seperti menampar saya. Sementara di rumah, saya punya beberapa Alkitab dalam berbagai bahasa: bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahkan bahasa Batak. Tapi untuk membacanya setiap hari aja jarang. Gimana jadinya kalau dunia Eli beneran terjadi sama saya, kalau Alkitab dimusnahkan?

Dengan keadaan dunia hancur dan kacau balau seperti itu aja, Eli masih mampu untuk bilang God is good all the time. Padahal setiap hari dia harus hidup dengan penuh ketakutan, ancaman, ketidakamanan. Hidup sendirian dan nggak tahu siapa yang harus dipercaya. Seperti itu saja, dia masih bisa mengucap syukur untuk hal-hal kecil yang bagi saya nggak kelihatan ada bagusnya dan bilang Tuhan itu baik.

Aaah, sungguh saya ditampar bolak-balik.

Sementara saya, hidup nyaman, nggak kekurangan, bisa hura-hura, dan masih ngeluh sana-sini. Merasa nggak punya kekuatan untuk bikin laporan atau thesis. Ya tentu saja saya nggak punya kekuatan, saya dikasih kekuatan tapi nggak pernah dipakai. Kalau kata si penjahat, Alkitab itu disebut senjata. Senjata yang bikin orang semakin kuat dan bisa menjalani kehidupan seperti itu. Saya punya senjata di depan mata saya dan nggak pernah digunakan. Duh, miris rasanya.

Film ini ngajarin saya untuk selalu mengucap syukur bagaimanapun keadaan kita. Nggak peduli kalau kayaknya suram dan nggak ada akhirnya, tapi kalau Tuhan udah janji pasti Dia tepati. Just keep the faith. It never fails you.

Pada akhirnya, ini ucapan Eli ketika dia sudah menjalankan misinya: “Dear Lord, thank you for giving me the conviction and the strength to complete the task you entrusted to me. Thank you for guiding me straight and true through the many obstacles in my path and for keeping me resolute when all around seemed lost. Thank you for your protection and the many signs along the way. Thank you for any good I may have done, I am so sorry about the bad. Thank you for the friend I’ve made and please watch over her as you did for me. Thank you for finally allowing me to rest. I’m so very tired but I go now to my rest and peace knowing that I have done right with my time on this Earth. I fought the good fight, I finished the race, I kept the faith.”

I wish I had faith as much as Eli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s