Perpustakaan, Oh, Perpustakaan!

Hari ini saya, Neng Melvi, dan Mbak Maya berpetualang ke perpustakaan *gaya banget*. Mereka baiiiiik banget mau nemenin saya ke perpustakaan kajian wanita di UI Salemba. Saya dapat pesan dari dosen pembimbing saya bahwa di sana ada bahan-bahan yang saya butuhkan untuk thesis. Beliau bahkan sampai menelepon khusus kepala perpustakaannya dan memintanya untuk membantu saya mencari keperluan.

Sampai di sana, Ibu Yati (kepala perpustakaan kajian wanita) menyambut saya dengan baik. Ia langsung menunjukkan bagian rak yang tempat bahan-bahan yang saya cari. Kemudian ketika saya memberitahu buku-buku yang ingin saya fotokopi, ia bahkan memilihkan buku yang bagus untuk thesis saya. Ketika saya duduk di meja baca bersama dua teman saya dan kebetulan memang lampunya tidak dinyalakan. Sebenarnya kami tidak terganggu juga dengan hal itu karena cahaya dari luar jendela cukup terang. Seorang petugas perpustakan langsung menyalakan lampunya. Wow! Baik sekali.

Setelah itu, saya dan kedua teman pergi ke perpustakaan pascasarjana UI. Di sana pun, saya disambut dengan baik. Petugasnya tersenyum ramah dan membantu saya menemukan buku yang saya cari. Yang paling saya suka, dia selalu tersenyum.

Puas berkeliling di UI Salemba, kami naik busway ke Atma Jaya. Wuidiiiiih, betapa kangennya saya sama kampus ini. Kami makan dulu di Plasa Semanggi sambil bercerita dan ketawa ketiwi. Setelah itu sekitar jam 17.30 sore kami ke perpustakaan Atma. Aduh, tambah bagus amat perpustakaan ini. Bersih, terang, sunyi, rapi, teratur. Bikin betah di perpustakaannya.

Kami dapat 7 buku yang mau difotokopi. Dari satu buku aja udah banyak halaman yang harus difotokopi. Saya ke meja depan menemui 2 orang petugas laki-laki yang sedang duduk. Saya bertanya, bagaimana cara memfotokopi karena tukang fotokopi di dalam kelihatannya sudah tutup. Petugas itu bilang, masih bisa karena ada fotokopi di perpustakaan lantai yang masih buka dan fotokopi di luar perpustakaan. Dia meminta kami menuliskan halaman yang ingin kami fotokopi. Setelah itu dia membawa semua buku itu untuk difotokopi di luar. Setelah hampir setengah jam menunggu, dia tiba-tiba masuk dan menanyakan ada halaman yang hilang jadi dia minta saya menulis ulang. Dia memintanya dengan sopan dan tersenyum.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 19.00. Saya kira perpustakaan tutup pukul 19.00 dan saya menemukan ada 2 buku lagi yang ingin difotokopi. Saya bertanya pada petugas yang satunya lagi dan katanya tutup jam 19.30. Saya bilang saya ingin memfotokopi dan dia memperbolehkan saya membawa buku tersebut untuk difotokopi di luar. Baru saya keluar, ada petugas perpus yang tadi memfotokopi buku kami. Ia lalu menghampiri saya dan bertanya apakah ada yang mau difotokopi lagi. Saya memberinya dua buku tersebut dan bertanya kalau memang sudah mau tutup nggak papa, kok, kalau nggak bisa difotokopi. Tapi dia bilang masih bisa dan dia akan memfotokopi buku saya.

Yang bikin saya terharu, dia sampai bolak-balik menemui saya karena tempat fotokopi di luar sudah tutup. Akhirnya dia berinisiatif menjalankan mesin fotokopi di lantai atas sendiri. Dia bahkan berinisiatif memfotokopi cover buku-buku saya supaya saya nggak perlu menulis lagi judulnya. Weeeewww, dia baiik sekali. Bless you, mas!

Kenapa saya bisa tersentuh dengan perlakuan mas itu? Karena sudah lama saya nggak merasakan perlakuan ramah dan baik seperti itu di kampus yang sekarang.

  • Si bapak penjaga penitipan di kampus saya wajahnya selalu cemberut. Dia sering marah dan ngedumel kalau ada yang lupa bawa nomor penitipan. Hampir 2 tahun kuliah di situ, saya nggak pernah lihat dia tersenyum.
  • Petugas perpustakaan jarang tersenyum, apalagi kalau sama anak dari luar kampus. Padahal senyum doang, kan, nggak susah, nggak bayar pula lagi.
  • Orang luar kampus untuk masuk ke perpustakaan saja harus bayar Rp 5000,-.
  • Untuk memfotokopi buku perpustakaan di perpustakaan, anak kampus harus bayar Rp 200/lembar dan anak luar kampus harus bayar Rp 300/lembar. Sungguh pemerasan! Entah kenapa harus dibedakan. (FYI, di Atma tadi saya fotokopi, saya tetap dikenakan biaya yang sama seperti anak Atma dan tidak ada biaya masuk perpustakaan segala).
  • Bukunya acak-acakan sekali. Jadi walaupun sudah cari di komputer dan mendatangi rak yang benar, bukunya bisa nggak ada di sana karena nyempil di rak yang lain. Belum lagi urutannya yang ngacak. Bikin pusing, deh, kalau cari buku di sana. Ya ampun, Pak dan Bu, bukannya ini pekerjaan Anda ya untuk mengatur buku itu sesuai dengan urutannya di tempat yang benar.
  • Udah mereka nggak menempatkan buku di tempat yang benar, malah suruh mahasiswa menaruh bukunya kembali di rak yang benar. Pantes urutannya acak-acakan. Mahasiswanya, kan, nggak tahu di mana tempatnya. T_T
  • Kalau lagi jam istirahat, walaupun mereka sudah balik ke tempat dan nggak lagi mengerjakan apa-apa, ada mahasiswa yang mau pinjam atau mengembalikan buku, mereka nggak mau melayani. Katanya masih jam istirahat. Padahal tinggal 10 menit aja gituuh! Kalau mereka lagi makan atau sibuk ngapain gitu sih nggak apa-apa, deh. Ini mereka nggak ngapa-ngapain dan cuma cekikikan nggak jelas. Ya olooooh! Selama jam kerja, Anda kan juga nggak sibuk-sibuk amat gitu!

Untuk kampus saya yang sekarang, saya tahu bahwa nama kampus ini sudah melegenda dan jadi bagian dari kampus ini adalah suatu kebanggaan. Tapi, kan, anda perlu usaha lagi untuk meningkatkan sistem dan sumber daya manusianya. Coba, ya, tolong ada pelatihan attitude sebelum bekerja *emosi tingkat tinggi*. Anda nggak bisa cuma hidup dari nama besar saja *menyesal membayar mahal untuk kuliah di sini, tapi pelayanannya buruk*.

Andaikan ini bisnis, anda perlu melatih karyawan untuk memperlakukan pelanggan dengan baik dan ramah karena ketika pelanggan pulang, merekalah yang akan jadi media promosi paling ampuh buat anda. Kalau nggak, ya pelanggannya pergi ke tempat lain.

Saya membandingkan kedua kampus ini karena saya pernah kuliah di keduanya. Jadi saya berusaha se-objektif mungkin karena saya pernah merasakan pelayanan keduanya. Mungkin saja orang-orang di kampus ini akan mencibir saya, tapi kalau mereka belum punya perbandingan yang lain karena mereka S1-nya di situ-situ juga, ya, mana mereka ngerti.

Intinya, tolong, diperbaiki, ya perpustakannya. Sebelum benar, saya kayaknya bakal punya hobi baru: berkeliling perpustakaan-perpustakaan lain selain kampus saya.😄

One thought on “Perpustakaan, Oh, Perpustakaan!

  1. ah, memang mi, gue selalu cinta perpus UAJ.. bahkan perpus PKPM nya semuanya deh.. asal ada buku, pasti rapih (tempat penyewaan komik aja bisa rapih) hwahahahaha..
    kalo kampus lo yg skrg, gw baru 1x kesana, pas bikin skripsi, emg lebih ribet dan fotokopinya mahaaaall.. huhuhu

    hiyaak, makasih ya,another reason why i hv to think twice to enroll magister program there , bwahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s