My Super-Nice Lecturer

Not all bad things happen in one time. Sometimes it just happens to make the good one even looks better.

Hari ini, saya bertemu dengan pembimbing thesis. Bukan karena saya udah punya segudang rencana untuk thesis, tapi lebih karena saya cemas udah bulan segini masih berkutat dengan laporan dan belum mengerjakan thesis sama sekali, tapi nggak tahu harus mulai dari mana. Jadilah saya menghubungi pembimbing thesis dan berjanji ingin ketemu, hanya untuk bilang saya ingin sedikit merubah apa yang ingin saya lakukan pada thesis saya.

Pagi-pagi ketika berada di ruangannya dengan penuh deg-degan, karena sungguh saya benar-benar nggak tahu mau membicarakan apa dan bagaimana. Beliau tersenyum ramah. Hal pertama yang beliau tanyakan adalah apakah saya udah eneg dengan laporan-laporan. Saya bilang saya mulai jenuh dan kehilangan motivasi, belum lagi masih ada klien yang belum selesai sehingga laporannya belum bisa saya selesaikan. Beliau tersenyum ramah dan bilang mengerti apa yang saya rasakan. Perubahan jadwal yang sering terjadi di kampus memang mengesalkan, namun seperti itulah yang harus dihadapi terutama berhadapan dengan klien. Beliau bisa menebak bahwa saya adalah orang yang mengatur semuanya sesuai dengan jadwal dan ketika jadwal yang saya tetapkan berubah mendadak, saya pasti kesal. Beliau bisa mengerti kekesalan dan kegundahan yang sedang saya rasakan (saya malah sempat mikir jangan-jangan beliau punya twitter dan baca segala keluh kesah saya, nih. Hihi). Beliau menyemangati saya dan mengatakan nggak perlu khawatir karena semua akan baik-baik saja. Saya pasti bisa melakukan semuanya dengan baik. Beliau mengatakan saya cukup pintar dan bisa menyelesaikannya dengan baik. Lalu beliau mengatur jadwal apa yang harus saya kerjakan dan menyediakan waktunya khusus buat saya.

Di tengah-tengah kekesalan saya dengan banyak dosen yang ribeeeet banget dan perubahan jadwal di sana-sini, beliau salah satu penyegar. Ketika mendengar apa yang dikatakannya, rasanya saya ingin menangis terharu karena akhirnya setelah sekian lama berkutat dengan perasaan ini ada juga yang mengerti dan dia pembimbing saya sendiri. Legaaa banget ada yang bisa memahami ini. Beliau berusaha membuat semua ini menjadi lebih mudah untuk saya. Beliau memperbolehkan saya melakukan yang termudah dan terbaik bagi saya di tengah kepadatan jadwal yang ada. Bahkan ketika saya menghilang lama dari pertemuan pertama saya dengan beliau, beliau meng-SMS saya dan mengatakan, “Ayo, kapan kita mulai mengerjakan thesisnya?”. Wah, beliau sungguh baik.

Mempunyai beliau sebagai pembimbing thesis, membuat saya berpikir beliau pasti ditempatkan menjadi penyelamat saya. It’s destiny. Ketika pikiran saya sedang ruwet-ruwetnya and I can’t handle it alone anymore, she came and made it look easier to me. Semua memang sudah ditetapkan dari sananya.๐Ÿ™‚ Because of her, I can see that a true psychologist should be like her: comforting.

Oh ya, dan kebetulaaaan banget, pembimbing skripsi saya di S1, Mbak Wieka, adalah mahasiswa bimbingan thesis dengan beliau di S2. What a coincidence. Jadi beliau ini yang membimbing saya dan Mbak Wieka, di mana Mbak Wieka adalah pembimbing yang super menyenangkan juga. Well, let’s just say that I am so lucky.

Nah, mari kita semangaaaat!๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s