Seperti Ini Rasanya…

Heeeey, I’m back. Sudah lama, ya, sejak terakhir saya nulis. Tulisan terakhir pun tampak desperate banget. Well, I am that desperate.

Mungkin pernah baca tulisan saya tentang betapa kesalnya saya dengan kampus saya ini. Ajaibya, setelah beberapa bulan (atau mungkin tahun, ya) penilaian saya itu nggak berubah. Makin buruk sih iya banget.

Pada awalnya saya bangga banget bisa masuk kampus ini. Yah, secara dulu saya sampai nangis-nangis bombay waktu kuliah S1 nggak diterima di kampus ini. Nah, makanya begitu bisa masuk kampus ini saya merasa senang. Tapi ternyata kesenangan saya berhenti sampai di situ aja. Selanjutnya buat saya adalah ketidaksenangan. Semester 1 dan 2, saya masih punya semangat. Cita-cita jadi psikolog terpampang di depan mata. Walaupun udah mulai menyadari kenapa sistem yang ada di sini jelek banget. Jadwal bisa berubah seenaknya. Maju, mundur, batal, tiba-tiba ada. Kalau rumah saya di sebelah kampus, sih, masih mending, ya. Rumah saya jauh di ujung Jakarta Barat sana. Kendaraan ke kampus adalah bis yang datangnya sejam sekali dan nggak bisa diprediksi. Alternatif lainnya adalah dengan naik busway dan menggantinya dengan bis yang datangnya 15 menit sekali dan penuhnya bisa sampai keluar. Jadi bisa dibayangkan untuk menempuh perjalanan ke kampus saya bisa lho sampai 3 jam sendiri.

Begitu masuk semester 3 dan harus ke institusi, saya lebih banyak lagi menemukan ketidakjelasan. Peraturan-peraturan yang saya nggak bisa mengerti buat apa dan apakah emang harus dipatuhi karena di tengah-tengah bisa berubah begitu aja. Misalnya, kami para mahasiswa harus tepat waktu, sementara mereka bisa telat dan bahkan lupa kalau hari itu harus mengajar kuliah. Belum lagi beberapa dosen yang kelakuannya sungguh tidak bisa saya mengerti, yang harus dibaik-baikin dan dipuji. Justru pelajaran yang bisa diambil dari S2 ini dan sayang nggak ada di kurikulum adalah menurunkan ego. Susyaaaah, bos!

Beberapa bulan ini kekesalan, kegundahan, dan kejenuhan saya udah sampai pada titik puncaknya. Mood saya berubah drastis. Dalam sehari saya bisa sedih, senang, kecewa, marah dalam waktu yang singkat. Saya nggak perlu pakai acara PMS lagi untuk hal ini karena setiap hari mengalaminya.

Saya bisa bangun tidur dan orang tua menanyakan soal kuliah dan tiba-tiba nangis. Melihat iklan kampus saya di TV, saya bisa marah-marah. Di kampus saya juga merasa luar biasa tidak nyaman. Ada sajalah orang-orang yang hobinya ngomongin soal laporan, padahal ada orang-orang yang laporannya jauh tertinggal dari mereka. Buat saya mereka jadi nggak berempati. Saya udah di tingkat avoidance sama pembicaraan laporan, thesis, kuliah. Walaupun laporan saya nggak bermasalah dan (untungnya) nggak pernah bermasalah sama dosen juga, tapi saya sudah jenuh. Saya pernah meng-unfollow beberapa teman di twitter karena mereka selalu membicarakan laporan mulu. Ya, sebegitu antinya saya.

Yang paling saya sesali adalah kuliah per semester di kampus ini mahal. Sampai 1,5 tahun kuliah di sana, saya, kok, nggak merasa mendapatkan apa-apa, ya? Ilmu saya biasa-biasa aja. Bahkan saya udah nggak peduli lagi kalau saya nggak dapat apa-apa. Saya cuma pengen segera keluar dari kampus ini. Setiap hari saya merasa nggak punya excitement lagi untuk menjalani kegiatan. Yang saya tahu, saya harus bangun, ke kampus atau ketemu klien, dan buru-buru pulang. Kadang-kadang saya merasa kelelahan luar biasa, secara fisik dan emosional. I’m not happy.

Orang yang terdekat dengan saya yang kena getahnya. Si Neng Melvi sering mendengar betapa tidak stabilnya mood saya dan dia juga merasakan hal yang sama. Untungnya kami berdua berasal dari kampus yang sama ketika S1 dulu sehingga tahu benar perbedaannya. Selain itu, si pacar juga kena omelan saya terus-menerus. Dia tahu gimana perubahan mood saya bisa drastis banget. Pada akhirnya saya harus menjelaskan sama dia apa yang saya rasakan dan cobalah buat mengerti selama beberapa bulan ini.

Saya nggak pernah mengalami yang seperti ini. Hm, DSM IV-TR menyebut ini apa ya? Mild depression? Mungkin. Tapi buat saya, saya nggak punya kualitas dan makna hidup yang baik lagi. Setiap hari saya bangun, saya berusaha banget untuk bilang, “I’m happy. Everything will be good today”. Kadang-kadang berhasil, seringkali gagal. Saya malah pernah sampai pengen konsultasi ke psikolog, karena saya butuh banget orang yang mengerti apa yang saya rasakan sekarang. Tapi untuk konsultasi sama psikolog di kampus saya kayanya nggak, deh. I don’t trust them anymore.

Sebegitu kesalnya sama kampus ini, saya bertekad tidak akan menyekolahkan anak saya ke sana suatu hari nanti. Lebih baik saya bekerja keras untuk menyekolahkan anak ke luar negeri sekalian. Oh ya ampun, tampaknya saya sudah terlalu trauma berada di kampus ini, ya.

Sekarang saya cuma pengen lulus aja. Keluar dan tidak akan pernah lagi berhubungan sama kampus ini. ENOUGH is ENOUGH!

2 thoughts on “Seperti Ini Rasanya…

  1. am i going to feel the same way? or should i just simply change my mind into something more worth it than this? hwaaa naomii.. but thanks for sharing..🙂

  2. hahaha.. don’t change! seperti kata samuel mulia pernah berkata, di manapun kita berada, di tempat yg sudah kita pilih sekalipun, pasti akan ada hambatannya. AYooo in, go for it. Siapa tau di masa lo, mereka sudah bertobat semua. hahaha!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s