I Heart Bogor

Bogor jadi kota yang berkesan buat saya. Bulan Oktober tahun lalu, saya menghabiskan waktu sebulan penuh di sana untuk praktek di sebuah rumah sakit jiwa terbesar di Indonesia. Karena jarak dari rumah ke Bogor jauuuuuh banget, jadi saya dan 2 teman (Melvi dan Lucky) memutuskan untuk mengungsi ke Bogor selama sebulan itu. Waktu itu kami menginap di rumah temannya kakaknya Melvi, yang kami bertiga nggak kenal sama sekali.

Saya ingat banget, saya ke sana hari Minggu sore dari Jakarta diantarkan si Abang. Waktu itu, dari pagi sampai sorenya saya ada acara ulang tahun gereja. Benar-benar dipakai untuk bersenang-senang, karena saya nggak mau mikirin bakal sebulan jauh dari rumah (padahal sebulan doang, ya) dan tinggal di kota lain. Pas makan siang, saya dan teman-teman saya cabut dari gereja dan makan bareng di sebuah mall untuk ketawa-ketiwi. Baru ketika gereja benar-benar kosong, saya pun nggak kunjung pulang (walaupun bisa aja, sih, kalau mau pulang). Saya menunda sebisa mungkin pulang ke rumah karena artinya saya harus pergi ke kota lain. Saya tunggu Mama saya yang waktu itu jadi panitia ulang tahun gereja sampai selesai menghitung sumbangan yang didapatkan hari itu. Setelah selesai sekitar jam 4 sore, kami pun pulang.

Waktu pulang ke rumah, dengan berat hati saya packing baju-baju saya selama sebulan penuh. Benar-benar nggak niat, sampai saya cuma bawa celana untuk praktek cukup 2 saja, baju tidur juga cuma 2, dan celana jeans 1. Yah, saya pikir nanti kan weekend juga pulang. Mama sudah menyiapakan sebuah selimut super empuk yang dulu juga dipakai waktu saya kos di Depok. Saya cuma perlu satu tas baju, satu tas buat sehari-hari praktek, dan sepasang sepatu. Enggak pentinglah bergaya di sana, pikir saya waktu itu sambil sedih karena mau pergi.

Jam 5 sore, si Abang jemput saya. Duuuh, tambah berat hati aja. Mana suasana rumah lagi sepi, cuma ada si Mama, dan cuaca mendung. Lengkaplah perasaan mellow yellow J-Lo ini. Di mobil, sepanjang rumah sampai jalan tol, saya masih ketawa dan becanda. Apalagi jalanan macet jadi perjalanan tambah lama aja.

Begitu keluar dari tol Bogor, cuaca berubah drastis. Hujan mulai turun dengan deras, apalagi udah malam. Aaah, berarti benar saya udah sampai di kota hujan. Mulai, deh, deg-degan nggak jelas. Sampai di Bogor, kami mampir di sebuah restoran Padang saking laparnya. Tapi begitu disediain makan, kok, jadi nggak nafsu lagi, ya? Uuuh! Sebel.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan mencari tempat tinggal saya. Si Neng Melvi dan Lucky udah sampai duluan di sana dari pagi. Mereka niat banget, ya, ke Bogor dari pagi. Sepanjang jalan saya mulai telepon-teleponan sama Neng Melvi mengenai alamatnya. Saat itu saya udah mulai mellow parah! Sampai akhirnya ketemu Neng Melvi dan temannya yang anak Bogor. Mereka di mobil yang berbeda dan menuntun saya yang berada di mobil belakangnya. Di sepanjang perjalanan, saya mulai diam aja. Kerjaannya merhatiin jendela mulu. Duh, duh, tahan dong, air matanya. Tapi akhirnya si air mata keluar juga. Si Abang sampai kaget, lho, pas sadar saya nangis cuma karena mau pindah ke Bogor sebulan doang, itupun weekend-nya selalu balik ke Jakarta. Dia mulai menghibur dan mengelus-elus rambut saya supaya tenang. Uuuh, itu malah bikin saya tambah nangis karena inget kalau saya bakal jauh dari orang-orang yang sayang dan tinggal di rumah orang yang nggak saya kenal. Begitu sampai di gang tempat tinggal saya, si Abang tiba-tiba memeluk saya. Dia bilang, “Jangan nangis, ya. Semuanya pasti bakal baik-baik aja”. Aaaahhh, itu kan bikin saya tambah sedih, sekaligus senang juga, sih.

Daaan, hari itu petualangan dan pembelajaran saya dimulai. Rumah itu terletak di sebuah jalan kecil yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil saja. Jarak antara satu rumah dengan rumahnya berdekatan. Rumah yang saya tinggali termasuk rumah lama juga. Jendelanya terbuat dari kayu dengan lubang-lubang kecil yang merupakan ventilasi udara. Jendela kamar saya langsung mengarah ke rumah tetangga yang punya anak kecil dan kegiatan mereka selalu dimulai jam 5 pagi. Saya yang terbiasa tidur dengan suara sunyi senyap, di minggu pertama nggak bisa tidur karena suara dari luar selalu terdengar jelas, termasuk suara anak kecil yang menangis meraung-raung setiap jam 5-6 pagi. AAAARRRGGH! Awalnya sempat stres juga. Kepala nyut-nyutan setiap hari.

Bukan cuma itu aja. Bogor itu ternyata nggak sedingin yang saya kira kalau pagi-siang hari. Panaaaas bener. Mana di rumah itu nggak ada AC atau kipas angin. Jadi kalau tidur siang, siap-siap keringetan dan denger suara ribut-ribut di luar, ditambah gonggongan anjing peliharaan di rumah itu. Untung malamnya, udara cukup dingin jadi tidurnya bisa lebih baik, deh.

Biasanya, sehabis pulang dari tempat praktek (yang jaraknya cuma 5 menit naik angkot dari depan gang), saya langsung ganti baju dan tidur siang (kegiatan satu ini nggak berubah, yaaa). Habis itu sorenya, bersama Neng Melvi dan Lucky, kami mulai beres-beres rumah. Neng Lucky tugasnya memasak (dia paling jago masak), saya dan Neng Melvi bagi tugas mengepel dan menyapu rumah, dan sering juga saya dapat tugas mencuci piring. Sehabis beres-beres rumah, saya mandi sambil mencuci baju dan menjemurnya. Dilanjutkan dengan menyeterika baju-baju yang udah kering. Bayangkan, selama hidup saya nggak pernah melakukan semua pekerjaan itu di rumah sendiri karena udah ada pembantu. Jadiii, walaupun capek, saya merasa excited banget karena menyadari kalau sebenarnya saya bisa, kok, melakukan itu semua.

Setelah selesai beres-beres, kami akan berkumpul di meja makan sambil girls talk (aaaahhh, bagian paling menyenangkan, nih) dan bergosip sambil cekikikan. Habis itu, kami akan membuka laptop masing-masing untuk mengerjakan laporan, tapi seringnya gagal karena kami kebanyakan ngobrol dan akhirnya ketiduran karena capek. Biasanya, sih, kalau ketiduran kita pasti ada yang nitip pesan minta dibangunin sejam atau dua jam lagi untuk melanjutkan ngerjain laporan.

Nah, lucunya, begitu jam 10 atau 11 malam, pasti kami stand by dengan HP masing-masing dan sibuk bertelepon ria dengan pacar dan gebetan. Neng Melvi biasanya teleponan di kamar depan, saya di kamar tengah, dan Neng Lucky di ruang tamu. Telepon-teleponan itu bisa berlangsung sampai 2 jam lebih. Bahkan si Neng Lucky pernah teleponan sampai jam 3 atau 4 pagi gitu. Tck tck!

Si Neng Lucky sebagai ibunya anak-anak emang paling rajin bikin makanan dan belanja. Dia selalu bikinin saya dan Neng Melvi sarapan, padahal dia sendiri nggak pernah sarapan, lho. Baik, yaaa. Kalau si Melvi adalah si ibu cerewet yang nggak henti-hentinya untuk ingetin saya mandi. Lucuu banget, deh, dia.

Di hari terakhir kami di Bogor, kami berniat untuk bersenang-senang dengan karaoke di Inul Vista. Di Bogor cuma ada satu Inul Vista. Dengan menerjang hujan deras dan cukup jauh juga dari rumah, akhirnya kami sampai di mall itu. Ternyataaaa.. mallnya mati lampu! Oh NO! Mereka tampaknya nggak punya genset karena akhirnya sebagian toko di mall itu tutup padahal baru jam 5 sore. Setelah itu, kami naik angkot lagi dan mau menuju mall lain di tengah hujan deras. Awalnya kami nggak tahu mau ke mall mana, tapi pas melewati sebuah mall yang ada tulisan 21-nya, kami buru-buru turun menerjang hujan sampai basah. Mall-nya mirip ITC. Kami langsung naik ke lantai paling atas menuju bioskop. Nggak disangka ternyata bioskopnya baguus banget. Di depan bioskop ada cafe outdoor yang view-nya adalah kota Bogor di malam hari. Ya ampuuuun! Nggak sia-sia, deh, kehujanan tadi. Yang ada kami malah nongkrong-nongkrong di cafe itu sambil chit-chat ala girls talk. Setelahnya kami nonton Get Married 2 dan tertawa terpingkal-pingkal (dengan kejayusan film itu).

Sejak tinggal di Bogor, kami bertiga makin dekat. Kami saling berbagi rahasia terdalam (*tsah!) dan masih melanjutkan acara ngumpul-ngumpul bertiga di setiap ada kesempatan. Oooh, kabar baiknya adalah teman saya ada yang jadian, lho, setelah pulang dari Bogor. Mungkin akibat pedekate yang lancar selama telpon-telponan sampai pagi di kota Hujan. Hihihi.

Sekarang kalau ke Bogor, saya mulai selalu merasa excited. Saya kenal jalan-jalannya, saya ingat momen-momennya, saya tahu rasanya. Saya selalu rindu Bogor jadinya. Saya belajar buat mandiri dan dapat banyak pengalaman berharga. Oh ya, dan saya dapat persahabatan yang baru di sini. Hope it lasts forever.

I heart you, Bogor.πŸ™‚

4 thoughts on “I Heart Bogor

  1. Hello Naomi!

    Gw sempat kuliah 3 tahun di Bogor. Dan emang bener, kota yang kecil ini ngangenin banget. Bahkan sampai sekarang suka kesana sendirian. Ngider ga jelas.

    Konon, katanya, kalau sudah minum air Bogor, bakal keinget terus deh itu kota.πŸ™‚

    Btw, bagian yang:

    Begitu sampai di gang tempat tinggal saya, si Abang tiba-tiba memeluk saya. Dia bilang, β€œJangan nangis, ya. Semuanya pasti bakal baik-baik aja”. Aaaahhh, itu kan bikin saya tambah sedih, sekaligus senang juga, sih.

    sukses ngebuat gw merinding. Keren dan kok kesannya romantis banget ya. Ditunggu undangannya yaaaπŸ˜€

    Cheers

    • Leo, makasiiiihh ya.. Bogor emang bikin kangen. Serasa pengen balik mulu, apalagi udaranya sejuk banget. Kayanya enak bgt kalo tinggal di sana.

  2. Haha. Klo butuh rekomendasi tempat tinggal yang bagus di Bogor, ask me.

    Ada perumahan kecil setelah Tajur yang nyamannya minta ampun. Amat-sangat gw rekomendasikan deh.

    Perumahan ini punya resto di pintu masuknya, namanya Teras Air. Google aja deh, pasti ada.

    Hei, tukeran link blog yaπŸ™‚

    Cheers.

    • huaaa.. asiiiik ada yg nambah referensi resto di bogor nih.. oke okeee.. makasih ya leo.. siipp.. akan kukunjungi blogmu.πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s