This V is For You

Valentine’s Day is comiiiiing!

Saya bukan orang yang terlalu menggebu-gebu merayakan Valentine. Merasa malu sendiri sama umur karena masih mikirin coklat, bantal berbentuk hati, dan bunga. Aaah, cinta, kan, nggak selalu ditandai dengan itu. Selain itu, suka geli sendiri kalau ke toko coklat dan banyaaaak banget ABG berkerumun mau beli coklat. Merasa nggak ABG lagi, nih. Hihi.

Tapiiii, ternyata segala pernak-pernik valentine itu bikin saya tergoda juga untuk memberi kejutan sama si pacar. Sebenarnya saya cuma pengen kasih kartu aja yang isinya momen-momen kami berdua. Kami itu bukan pasangan yang romantis. Isi pacaran kami adalah dengan ketawa ngakak sambil berjayus-jayusan ria dan gombal tingkat tinggi yang bikin orang lain suka bingung melihat kami. Selain itu, kami juga suka main berantem-beranteman, tampar-tamparan, tendang-tendangan. Sungguh, kami memang pasangan yang aneh.

Nah, momen Valentine ini yang saya jadikan alasan untuk mengabadikan semua momen-momen kami. Yaah, siapa tahu suatu hari salah satu di antara kami terkena amnesia (amit-amit! *ketok-ketok meja*), kartu ini bisa mengingatkan lagi.

Jadi sekitar 2 minggu yang lalu, saya mulai sibuk membongkar album foto kami. Membuka program Photoshop lagi yang udah lamaaa banget nggak saya gunakan lagi. Akhirnya harus googling dan baca-baca lagi teknik-teknik Photoshop. Duuh, banyak yang lupa ternyata. Selama 2 minggu, mendesain pakai Photoshop, wara-wiri cari percetakan karena tinta printer berwarna habis dan berakhir beli tinta warna asli yang (ternyata) mahal ya, cari kertas yang pas (karena saya agak perfeksionis soal ini), dan banyak kesibukan lainnya demi bikin kartu ini. Tapi ini bikin saya excited banget selama 2 minggu ini, seperti saya yang bakal dapat hadiah, padahal nggak juga, ya. Hihi.

Setelah kartu jadi dan saya PUASSS banget sama hasilnya, saya mulai mikir, kasih coklat lucu juga, ya. Jadi saya mulai tanya ke teman-teman gimana caranya bikin coklat sendiri (padahal kemampuan memasak saya nihil berat, lho). Setelah menimbang-nimbang dan keterbatasan waktu akhirnya, saya memutuskan nggak perlu bikin coklat, deh. Saya perlu belajar dulu, nih. Akhirnya, saya mengajak neng Melvi untuk menemani saya membeli coklat. Waduuuuuh, ini kenapa coklat-coklatnya berbentuk hati semua. Iiih aku suka malu membelinya. Saya dan neng Melvi cukup lama juga di toko itu milih-milih coklat. Akhirnyaaa.. saya beli coklat berbentuk kucing rasa milk chocolate. Kucingnya lucuuu dan nggak berbentuk hati (ya iyalaaaah!). Jadi nggak terlalu noraklah. Hihi.

Niat hati inginnya kasih di tanggal 14 Februari. Tapi tampaknya hari itu kami nggak akan bertemu atauuu malah menghabiskan waktu bareng teman-teman. Jadi saya kasih tanggal 13 Februari malam. Tadinya saya suruh dia untuk buka kadonya di depan saya tapi dia nggak mau. Katanya dibuka di rumah aja. Ya sudahlaaah. Tapi saya minta ditelepon setelah buka fotonya. Cuma pengen tahu apa dia suka sama kado yang saya kasih.

Setelah dia pulang, setengah jam kemudian dia telepon saya. Waaah, cepat banget. Biasanya, kan, ritual dia setelah pulang adalah mandi, ngobrol-ngobrol sama keluarganya, baru telepon saya. Jadi butuh waktu yang cukup lama juga sebelum telepon saya.Tumben kemarin cepat sekali.

Ketika saya mengatakan halo, dia bilang sudah membuka kadonya. Saya tanya apakah dia suka dengan coklat saya. Dia bilang lucu bentuknya, tapi belum dimakan karena sayang. Lalu dia terdiam beberapa saat dan kemudian bilang, “Aku udah baca kartunya. Aku terharu”. Waaaa… saya senaaaang sekali! Dia suka! HORE!

Dia terdiam lagi. Cuma terdengar kata sepatah-patah: bagus, aku suka, terharu. Saya yang waktu itu sebenarnya perhatiannya lagi terpecah karena sambil nonton film The Break-Up, nggak sadar kalau dia tampak diam sekali. Tiba-tiba terdengar: srot.. srot.. Eh, perasaan tadi dia nggak lagi pilek, deh. Tunggu.. tunggu, dia nggak lagi nangis, kan?

Setelah saya tanya apa dia nangis, ternyata IYA. Dia bilang terharuuuu banget sama kartu yang saya kasih. Dia nggak pernah dikasih kartu bikinan sendiri dan itu jadi kejutan yang dia sukaaa banget. Jadilah malam itu saya ikutan berkaca-kaca juga. His reaction was beyond my expectation. For me, it was a magical moment. Kalau lihat wajahnya si pacar, pasti mikirnya dia mana mungkin nangis. Lihat dia berkaca-kaca aja nggak pernah. Eh, sekarang dia malah terharu gara-gara hadiah yang saya kasih. Whoaaa.. senangnya! Rasanya pengen peluk dia saat itu juga.

Happy valentine’s day, dear. I have a great one, hope you too.

*cups*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s