Boys Lessons

Sudah lama nggak meng-update blog ini. Akhir-akhir ini saya lagi nggak punya energi untuk melakukan apapun (apalagi ngerjain laporan yang nggak banget itu, deh). Saya lagi praktek di sebuah rehabilitasi di daerah Puncak sana. Itu dilakukan tiap hari bolak-balik bikin badan saya jadi rontok. Pulang ke rumah pasti bawaannya cuma pengen leyeh-leyeh di depan TV, n0ntonin gosip (yeah, cuma ini yang mampu dicerna otak saya kala mumet), atau langsung bablas tidur sampai pagi.

Anywaaay, di tengah kesumpekan jadi gadis antar kota. Ada beberapa pria di sekeliling saya yang menarik:

1. Dia adalah salah seorang klien saya. Soal siapa dia, itu nggak penting. Di antara kisah hidupnya yang keras seperti di film-film, ternyata yang bikin dia ketakutan setengah mati bukanlah mati, ditangkap polisi, jadi gila, atau apapun yang orang normal pikir bakal menakutkan. Buat dia yang paling menakutkan adalah patah hati. Dia bilang, itu perasaan paling menyakitkan yang pernah dia alami. Yang bikin saya terperanjat adalah dia bilang yang bisa bikin dia patah hati itu bukan cewek cantik, populer, keren, dan semacam itu, tapi cewek baik-baik. Cewek yang mungkin tipikal kayak kamu dan saya. Yang mungkin biasa-biasa saja, yang nggak bakal bikin cowok menoleh saat kita lewat. Tapi cewek baik-baik dan ordinary seperti ini yang bisa bikin dia patah hati. Menurutnya, cewek seperti ini membuat dia merasa attached. Ketika kedekatan itu udah dia rasakan, kehilangan cewek seperti ini rasanya sangat menyakitkan. And he called it as disaster. Dia juga bilang ke saya, sekuat dan setengil apapun cowok saat putus cinta, mereka itu sebenarnya hancur berantakan, cuma mereka terlalu gengsi aja untuk menunjukkan, apalagi mengakui ke orang-orang. Jadiiii, para perempuan, tenanglah.. cowok-cowok itu juga merasakan seperti yang kita rasakan. Mungkin lebih parah lagi karena kan mereka harus selalu pura-pura kuat. Nggak kayak kita yang bisa langsung nangis.

2. Entah kenapa saya selalu bermasalah dengan klien-klien pria saya. Mereka benar-benar ajaib. Ada yang ngajak saya nikah, ada yang nggak mau mengentikan sesi konselingnya sama saya, dan yang terbaru adalah si brondong yang mengejar-ngejar saya. Umurnya masih 18 tahun. Wajahnya tampan. Berkulit putih, berambut agak ikal. Hm, mirip pemain di serial Boys Before Flower. Benar-benar cute. Belum lagi ditambah badannya yang berbentuk ototnya karena rajin nge-gym. Sebenarnya dia bukan klien saya. Dia cuma berada di institusi yang sama saja. Suatu hari, dia mendatangi saya yang lagi makan. Dia bilang mau minta account facebook dan nomor handphone saya. Wajahnya tegang dan dia berkeringat. Dia benar-benar ketakutan ketahuan karena nanti bisa dimarahi (yah, walaupun akhirnya tetap saja ketahuan). Dia bilang suka sama saya dan ingin menghubungi saya siapa tahu butuh konseling kalau sudah keluar dari sana. AJAIB! Dia seumur adik saya! Menghadapi klien yang begini bikin saya panas dingin kebingungan. Saya memang bermasalah dengan menolak orang. Tapi saya cukup waras untuk tidak memberikan identitas pribadi pada klien. Namanya saja sudah klien, mereka kan pasti bermasalah. Jadi otak saya berpikir dua kali lebih keras untuk memikirkan alasan-alasan menolak tapi dengan cara halus. Hari ini saya selamat dengan tidak memberikan dia apapun. Tapiii, masih ada klien-klien lain lagi yang tidak henti-hentinya menggoda saya. Walaupun kadang-kadang bikin risih, tapi sering juga, kok, saya menikmatinya. Untung mereka nggak minta bayaran untuk setiap pujian yang mereka keluarkan. Hihi. Anywaaay, coba kalau mereka ketemu saya 10 tahun lalu, waktu saya masih ABG dan bertampang seperti Bett. Mungkin nggak ya, mereka akan berlaku yang sama? Maybe not. So, pria memang selalu melihat perempuan dari penampilan (pada awalnya). That’s just my conclusion.

3. Nah, pria yang satu ini palig menarik buat saya. Entah kenapa, kemarin saya sedang bermellow-mellow ria. Mungkin sindrom hari minggu, sehari sebelum mulai aktivitas padat minggu berikutnya. I felt unwanted. Sebagai perempuan, saya pengen diperhatiin, pengen ditanyain, “kapan, nih, kita ketemu lagi?”, pengen merasa dia excited kalau ketemu. Sebagai seorang yang sibuk, mungkin dia nggak kepikiran sampai segitu. Akhirnya saya tidak menjawab SMS dan teleponnya. Luckily, he’s a fast learner. Dia tahu ciri-ciri saya lagi ngambek dan minta perhatian. Dia berusaha beberapa kali telepon saya dan dengan cepat menebak bahwa ada sesuatu, nih, yang salah. Hampir seharian, lho, saya berlaku nggak jelas dan (hebatnya) dia nggak terpengaruh sama sekali. Dia tetap SMS saya dengan baik, bahkan menelepon saya di tengah-tengah dia harus membantu ayahnya melakukan sesuatu. Malamnya dia juga kembali menelepon saya dan menanyakan keadaan saya, di tengah-tengah kesibukannya mengerjakan tugas kuliahnya yang penting banget. Hm, saya bisa sangat kayak anak kecil memang kalau lagi butuh diperhatikan. Ketika dia mendengar saya menangis tersedu-sedu (yeaaah, saya memang cengeng), dia langsung bilang, “Aku ke rumah kamu sekarang, ya. Biar kamu nggak suntuk di rumah terus”. Beberapa kali saya menolak karena mata saya sudah bengkak dan malu aja kalau harus keluar. Dia bilang saya cuma harus cuci muka aja biar bengkaknya nggak kelihatan, dan dia benar-benar ke rumah saya. Dia membawa saya makan, ngobrol-ngobrol sebentar dan langsung mengembalikan saya ke rumah lagi tidak lama kemudian. Di rumah, dia berusaha membuat saya tertawa dengan lelucon-leluconnya. Niat pengen bikin muka cemberut, terpaksa buyar semua. Malam itu dia bilang sesuatu yang bikin saya ingat banget, “Jangan nangis untuk hal begini, karena ke depannya masih banyak yang lebih berat dari ini”. I was so speechless. He was right. He could calm me down. Setelah itu ia kembali ke rumah, berkutat dengan tugasnya lagi, dan harus begadang sampai jam 2 pagi. Sementara saya sudah tertidur lelap tepat setelah dia pulang. Uh uh.. this man is the reason why any other handsome men can’t make me interested.

Well, thanks for the lessons, boys.

Advertisements

One thought on “Boys Lessons

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s