Sungguh, Aku Kangen Kamu…

Saya lagi kangen-kangennya sama dia. Humm.. udah berapa lama, ya, saya nggak keep in touch sama dia? Padahal saya tiap hari ngobrol sama dia, tapi dia kayak jauuuuh banget. Hari ini puncaknya saya kangen dia. Rasanya kangeeeen banget. Kangen sama sentuhan, obrolan, dan pelukannya. Sudah lama saya nggak merasakan itu sampai benar-benar lupa rasanya seperti apa, ya.

Saya tahu kalau saja saya meruntuhkan semua keegoisan saya, saya bisa dengan sekejap ngobrol sama dia. Tapi daripada ketemu dia, saya lebih milih sibuk. Hm, sibuk? Nggak sibuk juga, sih. Paling saya kuliah, praktek, ketemu teman, ketemu pacar, tidur, nonton infotainment, ke mall, ngobrol sama keluarga, nge-tweet, dan berfacebook ria. Ah, itu, sih cuma alasan saya aja. Intinya, saya emang nggak pernah seniat itu untuk ketemu dia, jadi saya selalu merasionalisasi pikiran saya: saya ini sibuk.

Beberapa minggu ini saya mulai mikir, saya nggak bisa begini terus. Saya harus ketemu dia. Saya kangen. Sungguh kangen. Jadi saya mulai berusaha mengobrol dengan dia. Paling cuma bertahan 10 menit saja. Kadang-kadang saya malah melupakan waktu ngobrol saya dengan dia karena “sibuk”.

Hari ini saya bukan cuma sekedar kangen sama dia. Saya butuh dia. Butuh merasakan sentuhannya. Sampai-sampai dada saya sesak karena saya cuma pengen dia. Saya datang ke sebuah tempat. Tempat di mana saya tahu saya akan bertemu dengan dia. Begitu saya masuk, beberapa orang sudah di sana, duduk melingkar. Satu orang membawa gitar dan bernyanyi, diikuti dengan suara sayup-sayup dari yang lainnya. There he was. Dia di sana. Saya tahu itu. Saya bisa merasakannya. Perasaan saya luar biasa senang. Jika saya dibiarkan merasakan perasaan itu sendiri, pasti air mata ini sudah mengalir.

Tiba saatnya dia bicara. Saya diam. Kalau biasanya saya yang pengen jadi pusat perhatian, kali ini saya biarkan dia yang ambil alih. Saya cuma jadi pendengar dan pengikut. Saya dengar apa maunya dia. Saya biarkan keegoisan saya runtuh seketika. Apa yang dia minta, apa yang dia mau, apa yang dia katakan, akan saya dengar tanpa prentensi apa-apa, tanpa berusaha untuk membantah.

Tepat ketika saya diam. Dia memeluk saya erat sekali. Dia membelai rambut saya dan menggenggam tangan saya. Rasanya hangat sekali, menjalar ke setiap sel-sel yang ada dalam tubuh. Oooh, saya nggak pengin suasana ini berakhir. Saya cuma mau dia, dia, dan dia.

Makasih, ya, kamu mau nggak ninggalin aku. Aku kangeeen kamu banget.

*for my dearly God.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s