Let’s Move On

Kemarin baru saja menyelesaikan kasuistik terakhir dengan dosen yang teramat sangat pintar. Dia baru saja dioperasi karena ada pendarahan di otaknya karena tumor otak. Waktu itu sempat berpikir apakah kepintarannya akan menurun, ternyata sama sekali nggak. Dia tetap pintar, tetap kritis, dan tetap bikin saya merasa inferior.

Dia cuma baca laporan orang dan bisa tahu karakteristik dan pola orang itu kayak apa. Sementara si pemeriksa yang udah ketemu orangnya langsung nggak bisa meraba-raba si klien itu seperti apa. Padahal si pemeriksa cukup pintar juga, lho, di kelas.

Saya cuma bisa bengong, nggak ngerti apa-apa. Makin takut, makin inferior, dan makin merasa terpojok karena panik dan merasa bodoh duluan. Kepala saya tiba-tiba pusing dan nggak bisa berhenti mikir. Will I be a good psychologist?

Tapi ada beberapa hal yang bisa saya pelajari dari kasuistik terakhir itu. Pola asuh ternyata sangat sangat berpengaruh terhadap perkembangan seseorang. Ambil contohnya aja: diri sendiri.

Saya dibesarkan dalam keluarga di mana mama sangat dominan. Semua diatur oleh mama. Ke mana saya harus sekolah, baju apa yang harus saya pakai dulu waktu mau ke sekolah minggu, atau potongan rambut apa yang paling tepat buat saya. Sebegitu dominannya mama, dulu saya sampai nggak berani pilih baju sendiri ke gereja, selalu nunggu mama yang milihin. Semakin besar, mama membebaskan saya untuk memilih baju sendiri, tapi saya jadi selalu takut untuk bereksperimen mix and match baju karena takut dengan penilaian mama. Akibatnya, saya tumbuh jadi seorang perempuan yang nggak percaya diri, pencemas, penakut, dan sering takut atau ragu mengambil keputusan sendiri.

Mereka bilang apa, sih, yang kurang dari saya: secara fisik ideal (tinggi 170 cm, berat 55 kg), wajah yang nggak memalukan, banyak potensi, well educated, IPK yang lumayan, dan bla bla bla. Mereka bisa lihat saya dengan segudang kelebihan, tapi saya selalu melihat kekurangan. Saya nggak pernah percaya diri untuk tampil di depan orang-orang. Saya selalu milih untuk lebih banyak diam dan nggak mengutarakan pendapat saya karena saya selalu nggak percaya diri untuk menganggap pendapat saya itu cukup pintar.

Saya nggak pernah berani mengutarakan pendapat di depan mama. Kalaupun saya sampai harus berdebat dan akhirnya mengutarakan pendapat, saya harus melakukannya sambil menangis. Dan saya nggak pernah tahu kenapa bisa begitu. Mungkin karena deep down inside pendapat mama tentang saya sangat penting.

Saya juga nggak berani untuk belajar mobil lagi, bukan karena dulu saya pernah nabrak. Tapi efek dari nabrak itu adalah saya ketakutan setengah mati bakal dimarahin mama karena itu adalah mobil kesayangannya. Efeknya, sekarang saya selalu mikir saya akan belajar nyetir mobil kalau saya udah punya mobil sendiri jadi kalau saya harus nabrak, saya nggak perlu takut dimarahin lagi.

Saya tumbuh jadi orang yang merasa inferior. In icukup bikin saya stres. Terutama setelah belajar psikologi dan tahu akar masalahnya di mana (FYI, ngambil kuliah psikologi itu untuk berobat jalan, lhooo. Hihi), I blamed her for everything. Waktu kuliah semester-semester akhir S1 dulu, saya seringkali berpikir untuk konseling dengan psikolog untuk mengatasi semua masalah itu. Tapi saya tidak pernah memberanikan diri untuk melakukannya karena mereka semua adalah dosen saya. Ini berlanjut sampai saya kuliah S2 di psikologi juga dan mulai belajar soal terapi. Saya tahu dosen-dosen saya adalah orang yang canggih di bidangnya dan mereka menyarankan kami semua untuk konseling dan mengatasi masalah kami sebelum kami mulai menangani orang lain. Waktu itu keinginan untuk konseling sangat besar, tapi lagi-lagi saya tidak pernah berani melakukannya.

Akhirnya saya mikir, saya nggak bisa begini terus. Sampai suatu hari saya bilang ke mama apa yang saya rasakan dan pikirkan. Betapa pola asuh yang diterapkannya membuat saya sekarang ini. Saya mendengar alasan mama dan dia tetap punya alasan yang melandasi perlakuannya. Dia bilang dia pengen saya menjadi yang terbaik dan kelihatan jelek. Yes, my mom is soooo perfectionist. Mungkin akan sulit untuk merubah dominasi mama, tapi setidaknya sejak saat itu saya merasa sangat lega. Beban pikiran dan perasaan sudah saya keluarkan, dia sudah tahu. Saya berhenti untuk menyalahkan dia. Dan mulai melangkah ke depan. Oh ya dan itu baru saja terjadi tahun 2009 ini. Anehnya, seberapapun kadang-kadang saya suka menyalahkan dia, tapi dia orang yang paling dekat dengan saya. Saya ceritain semua ke dia. Dan patut diakui bahwa usahanya ‘mempercantik’ saya selama ini emang berhasil.πŸ™‚

Kita mungkin punya luka di masa lalu yang diakibatkan orang lain. Dulu kita nggak punya pilihan karena kita cuma anak kecil yang menerima apa saja yang orang tua mau taruh di dalam diri kita. Tapi kita sekarang punya banyak pilihan. Mau tinggal di dalam masa lalu dan menyalahkan orang lain atau menyelesaikan masa lalu dan melangkah ke depan. Semuanya nggak gampang (saya aja butuh bertahun-tahun belajar psikologi untuk belajar itu), tapiii nggak ada yang nggak mungkin. Intinya seberapa inginkah kita berubah dan berhenti mengasihani diri kita sendiri.

Ayooooo, let’s move on, guys. Your life is too beautiful to be regretted. Kalau kamu merasa tidak bisa menyelesaikannya sendiri, minta bantuan orang lain, bisa ke teman, saudara, atau orang yang kamu percaya lainnya. Atau kalau perlu ke orang profesional, seperti psikolog. Mmm… boleeeeh, kok, kalau mau konseling sama saya. Hihi. *wink wink*

One thought on “Let’s Move On

  1. pelajaran terbesar dengan menjalani kuliah S2 di klinis dewasa itu adalah kalau kita akhirnya bisa ‘mengatasi’ masalah kita sendiri, bukan cuma masalah orang lain:mrgreen:

    dan kalau pun butuh orang lain untuk jadi temen cerita, si dosen pengujimu yang sangat pintar itu bisa jadi orang yang tepat kokπŸ˜‰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s