2009: Mari Belajar!

Tahun ini adalah tahun jilat ludah sendiri buat saya. Banyak hal yang sebelumnya nggak mau saya lakukan tapi akhirnya dilakukan juga. Tapi yang pasti tahun ini saya belajar banyaaaak banget.

1. Berteman dengan orang-orang Batak. OH NO! Dulu saya terlalu anti sama orang Batak, padahal saya sendiri Batak. Dengan alasan, dari luar kelihatannya mereka nggak menyenangkan dan kampungan *minta digebukin sama orang-orang Tapanuli*. Tapiii.. here I am. Out of nowhere, gara-gara kebetulan yang nggak disengaja, saya berteman dengan orang-orang Batak dan mereka sangat sangat menyenangkan (dan tentunya nggak kampungan, dong).

2. Sebagai orang yang (pernah) anti Batak, tentunya saya anti HKBP. Duluuuu, mana mau saya pergi gereja di sana. Sekarang, walaupun tetap nggak rutin juga gereja ke sana, tapi setidaknya saya sudah nggak anti dan nggak marah-marah lagi kalau diajak ke sana. Bahkaaaan, saya aktif, lho, di wilayah saya. Hmm.. suka bikin malu, sih, kalau saudara-saudara jadi nanya, “Oh, sekarang kamu aktif di Naposo HKBP, yaa?”. Saya cuma bisa senyum-senyum malu karena mereka semua tahu betapa antinya saya sama HKBP.

3. Duluuuu saya pernah ngeledekin teman karena ngelakuin sesuatu yang bukan dia banget (mau diceritain di sini tapi entar orangnya nyadar lagi. Hihi). Waktu itu saya nggak ngerti jalan pikirannya. How come? Tapi sekarang, saya melakukan yang sama seperti dia. OMG! Mau ngakak rasanya. OK, jadi ngerti deh kenapa kamu begitu. Hihihi.

4. Saya nggak pernah mau tidur kurang dari 8 jam dengan alasan apapun juga, termasuk tugas. Dan lihatlah saya sekarang, bisa tidur cuma 4-5 jam bukan untuk alasan tugas, tapi cuma untuk ngegosip. Gila emang, karena habis itu saya sakit. Hahaha!

5. Tahun ini saya banyak keluar dari comfort zone saya. Melakukan banyak hal yang dulu nggak berani saya lakukan. WOOOOW! I feel alive. Menyenangkan dapat pengalaman-pengalaman baru. Bukan cuma karena peristiwanya membahagiakan, tapi saya juga berani keluar dari hubungan yang saya tahu udah nggak sehat lagi. Betapa saya harus jungkir balik nangis darah ada di kondisi nggak menyenangkan itu dan saya pikir saya harusnya bertahan karena hubungan ini udah lama. Bahkan ketika saya tahu saya sudah sangat nggak nyaman lagi ada di dalamnya. Was I blind because of love? Maybe. But it was a right decision, even though he may not understand and think that I’ve changed. Nope, darling. I haven’t changed, it’s because I’ve grown up. I just want a healthy relationship. But after all, he taught me a lot in life and for that I have to thank him.πŸ™‚ Keluar dari hubungan yang saya pikir dulu bisa everlasting dan jadi satu-satunya tujuan hidup saya cukup menyusahkan. Akhirnya sendiri lagi, mencari kesibukan dengan jalan-jalan bareng teman-teman baru, dan berusaha happy di depan orang banyak. Padahal di kamar saya bisa nangis bombay dan cuma 1 orang teman saja yang saya curhatin. Dia tahu fase nangis-nangis, denial, pengen balik saya. Dia selalu membuat saya berpikir waras dan logis, mengesampingkan perasaan-perasaan bersalah dari dalam diri saya. Makasiiiih, ya.

6. Belajar mencintai diri sendiri. Melihat diri saya sebagai satu paket yang baik dan punya banyaaaak banget potensi yang bisa dikembangkan. Membebaskan saya berkreasi dan terbang ke manapun saya suka. No limit, only fun. For this, I have to thank someone for releasing all the burdens inside me. You do great on me.πŸ™‚

7. Belajar berorganisasi. Betapa malasnya saya ikut organisasi. Kadang-kadang nggak tahan terikat dalam waktu yang lama. Tapiii tahun ini saya belajar berorganisasi yang benar dengan penuh tanggung jawab. Dari meramu sebuah acara sampai matang, semua saya kerjain dengan senang hati. Dan ketika hasilnya bagus, rasanya PUAS tak terkira. Semua kerja keras selama berbulan-bulan jadi nggak kerasa lagi.

8. Belajar rendah hati. Kalau ada orang yang ngomongnya nggak sopan atau menurut saya sensitif banget, mana mau saya berurusan lagi sama dia. Mendingan ditinggalin aja, deh. Tapiiii tahun ini, saya belajar buat jadi rendah hati. Buat nerima semua omelan, kemarahan, dan kritik dengan lapang dada. Belajar memaafkan dan tidak membesar-besarkan masalah. I’m still on process, but so far it was good. Membuat langkah jadi lebih ringan dan perasaan jadi lebih positif.

9. Saya belajar banyaaaaak banget dari klien-klien di tempat praktek. Betapa susahnya kehidupan mereka dan berwarna. Bikin saya bersyukur dengan kehidupan saya sendiri. Bukan saya yang membantu mereka, tapi mereka yang membantu saya dengan banyak pelajaran hidup. Thanks, clients.πŸ™‚

Sampai sekarang itu dulu. Nanti dilanjutkan lagi dengan pelajaran-pelajaran lainnya. Tapi tahun ini adalah tahun jilat ludah sendiri dan jadi tahun yang kasih banyak pelajaran buat saya. Nggak selalu menyenangkan memang, tapi saya berhasil menemukan kekuatan saya sendiri.

It’s good, it’s for my best.πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s