Complicated Mind and Undesirable Feeling

Sabtu pagi.

Terbangun dengan perasaan tidak enak. Maag yang masih kambuh dari tadi malam padahal sudah minum obat, kepala yang serasa ditindih beban seberat 10 ton, hormon-hormon yang sangat mengganggu, dan perasaan yang menganggu sampai harus memimpikannya tiap malam.

Pernahkah ada yang mengalami seperti ini?

Anyway, I don’t like the world for it keeps people busy all the time. Have to reach this and that. Have to do this and that. For what? I just want a little happiness: quality time, either it’s with me myself, or the people I love.

Tugas-tugas yang nggak kelihatan di mana ujungnya, menyita perhatian dan pikiran setiap hari, menghilangkan motivasi dalam diri sendiri karena tampaknya ini sudah menjadi rutinitas yang (terlalu) membosankan dan nggak menemukan di mana kesenangan dan menariknya lagi. Kesehatan yang sudah nggak bisa diajak kompromi lagi (karena sudah di titik di mana saya sampai harus ke UGD rumah sakit jam 3 pagi). Dan kegiatan-kegiatan di luar yang juga butuh perhatian sama besarnya.

Oh, kalau kamu mengira saya sedang mengeluh. Iya, saat ini saya sedang mengeluh dan saya tidak peduli kalau kamu menganggap saya seharusnya bersyukur untuk apa yang saya dapatkan. Kamu nggak mau melihat dari sudut pandang saya. Kamu cuma lihat dari sudut pandang kamu. Kamu nggak akan pernah mengerti. Jadi jangan bawel!

Dan buat kamu yang menuntut saya macam-macam. Saya capek! Saya capek menuruti setiap permintaan kamu. Saya capek karena kamu nggak pernah meminta dengan sopan. Saya capek karena mungkin hati saya bukan di sana. Atau mungkin karena semuanya harus dilewati dengan kamu? Mungkin.

Buat kamu yang selalu menjadikan salah satu dari kami anak emas. Walaupun kamu bilang tidak. Walaupun kamu selalu menyangkalnya. Walaupun kamu berusaha memberikan seribu satu alasan untuk mempertahankan pendirianmu. Kenyataan, kamu memang melakukannya. Dan saya seringkali tidak bisa menerimanya. Cuma karena saya perempuan.

Dan kali ini, buat kamu yang tahu seberapa kronisnya perasaan yang saya rasakan saat ini. Menyelinap di waktu REM ku setiap malam. Dengan berbagai cara, berbagai rupa, berbagai peristiwa. Kamu tahu, ini sudah stadium lanjut. Ini seperti drugs dan saya butuh dosis yang lebih tinggi setiap hari. Dosisnya sudah terlalu tinggi dan saya sedang berusaha menahan untuk tidak menginginkan lebih dari ini. Sudah berusaha untuk menyibukkan diri, mengalihkan perhatian, bahkan dengan menulis ini pun saya sedang berusaha untuk menyingkirkan semua perasaan itu. Well I guess, I’m just a terrible psychologist because I can’t cope with this. Yes, I’m addicted to you. Right now. Right here. And too bad, maybe you don’t know.

And I write this because I don’t know how to say it right. To you who make my life so uncomfortable lately, to you who unconsiously always put someone to be number one and the other is just another number, to you whom I never can’t get enough, and for the time who’s very cruel because it always takes my quality time.

I just wanna be with you, my REM sleep; because at this point, you’re the one who keeps me sane. That’s how much you mean to me.

Or simply because I’m sad right now and you don’t even know that.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s