Cukup Sudah Pesta Batak Tahun Ini

Hari ini berniat bermalas-malasan di rumah dengan nonton DVD yang baru dibeli. Tapiii berniat baik hati untuk nemenin Mama ke pesta salah seorang teman gereja. Sekalian juga, dia ngundang saya secara khusus. Agak malas juga, sih, karena ini adalah pesta Batak dan pesta Batak berarti lamaaaaaaaaaa dan membosankan. Tapi nggak mungkin juga, kan, selama itu, secara ini kan cuma teman gereja, bukan saudara yang nikah.

Jadi walaupun libur, saya bangun jam 6 pagi untuk nyalon. Jam 8 pagi udah di gereja. Duduk manis sendirian karena Mama duduk di kursi koor bersama teman-temannya. Setelah acara gereja langsung capcus ke gedung Mulia Raja di Jakarta Timur sana. Jauuuuh bener.

Baru sampai masih tenang-tenang saja mengagumi gedung yang besar, dingin, dan cukup bagus untuk ukuran pesta Batak. Ditambah dekornya yang manis. Jam 12 siang masih belum ada tanda-tanda bakal makan padahal perut udah meronta-ronta pengen makan. Belum lagi keribetan harus duduk di mana karena banyak kursi-kursi yang ditandai untuk saudara-saudara yang menikah. Begitu dapat tempat duduk yang aman, saya langsung makan. Tentu saja makan makanan Batak dan nggak terlalu membuat saya kenyang itu. Yang penting perut keisi, deh.

Habis makan masih seru lihat prosesi adat Batak yang sedang berlangsung. Gimana mereka menari tor-tor (dan mikirin gimana nasib saya entar kalau udah tua karena saya nggak bisa nari tor-tor sama sekali) dan adat-adat lainnya yang nggak saya ngerti sama sekali. Yang saya tahu pengantin cuma duduk manis di pelaminan selama berjam-jam dan senyum sana-sini. Kalau saya jadi mereka pasti HP harus ada di tangan dan saya sibuk berfesbuk dan bertwitter ria, mengeluh sepanjang masa karena terjebak dalam kebosanan ini sampai sore.

Well anywaaaay, ternyata kemampuan saya untuk bertahan di pesta Batak cuma sampai jam 2 siang. Selebihnya, saya mulai gelisah dan bawaannya pengen pulang. Sayang seribu sayang, si Mama masih harus tinggal di sana karena harus mangulosi (memberi ulos pada pengantin) dan itu berarti masih lamaaaaaaa banget karena itu acara terakhir. Aaaaargggh!

Ya sudah, saya berusah membunuh waktu dengan chatting, fesbukan, dan twitteran, tapi itu teteeep bikin saya bosan. Belum lagi mendengar para ibu-ibu ini bergosip ria tentang banyaaaaak hal. Gila yaaa, dalam sehari saya bisa update gosip sebanyak ini.

Kepala mulai berat menjelang sore. Pusiiiiing setengah mati. Capek. Tapi si Mama masih sibuk dengan gengnya, ketawa-ketawa, sementara muka saya udah berlipat sepuluh. Dan dengan baik hatinya, si teman Mama bilang ngapain saya bengong di antara ibu-ibu sendirian. Dipanggilnyalah anak perempuannya yang seumuran saya. Aaarrrghhh! Saya lagi malas untuk berbasa-basi dengan orang yang baru dikenal. Tapi anak perempuannya sudah datang dan ikutlah saya dengan dia. Untungnya dia baiiik dan banyak ngomong jadi bikin saya nggak ngerasa males. Sebenarnya, sih, bukannya saya nggak kenal dia, tapi biasanya cuma sepintas lalu. Baru kali ini ngobrol beneran.Dia bertanya tentang banyak hal yang susaaaaah saya jawab. Dan akhirnya yang keluar cuma senyum-senyum nggak jelas dan jawaban, “yaaa gitu, deh”. Jawaban paling aman untuk memuaskan rasa ingin tahu seseorang.

Menjelang sore hujan deras mulai mengguyur Jakarta. Lagu-lagu Batak masih terdengar keras, berusaha mengalahkan suara hujan. Dan saya masih manyun karena kepala udah berat banget. Untungnya setelah mangulosi, Mama memutuskan untuk pulang. Ya ampuuuuun.. itu kata-kata paling indah yang saya dengar hari ini *lebay*.

OOOOhhh, jangan harap kisah selanjutnya bakal lebih indah. Nope! Kami terjebak macet total, banjir yang hampir membuat mobil kecil ini mogok, dan motor-motor yang tanpa belas kasihan menyerobot sana-sini membuat kami tambaaah stres. Belum lagi softlense yang mulai mengering sehingga membuat mata perih kena AC mobil, kedinginan karena pake dress tanpa lengan, daaan kelaparan teramat sangat. Sepanjang jalan saya cuma diam. Sementara Mama masih sibuk mengobrol dengan orang gereja yang menebeng di mobil kami. Oooh Tuhan, kirimkan helikopter, mobil presiden, atau apapun itu yang bisa bikin saya keluar dari kemacetan ini segera!

Macet di Jakarta emang gila-gilaan, deh. Mana hujan pula. Jadiiii.. kami terjebak di kemacetan ini selama 3 jam. Dari Medan ke Jakarta aja naik pesawat cuma 2 jama. Dengan 3 jam, mah, saya bisa ke Manado dan habis itu sunbathing di atas kapal menuju Manado (okaaaay.. ini mulai nggak fokus).

Sampai ke rumah jam 9 malam. Ya ampuuuuuuun! Seharian ada di luar cuma untuk menghadiri satu pernikahan. Jadiiii pelajaran hari ini: nggak lagi-lagi, deh, mencoba berbaik hati menemani Mama ke pesta Batak. Ini pesta Batak terakhir di tahun ini. Tunggu tahun depan buat pesta Batak selanjutnya. Grrrrhhhh!

Btw, ini, kan, Friday the 13th. Hmmm.. apakah ada hubungannya dengan kesialan hari ini?

Anywaaaay, wanna say happy wedding for you.. Have a very wonderful family.πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s