Cobaan!

Periode baru di dunia praktek selalu bikin saya nggak bersemangat. Dua minggu jeda bikin ritme hidup jadi berubah. Ada waktu buat berleha-leha (kalau nggak dikejar-kejar deadline dan pembimbing, ya) dan bikin hidup jadi lebih santai (sedikiiiiiit). Nah, hari ini saya mulai periode baru yang tempatnya nggak tanggung-tanggung di Bambu Apus sana. Dari rumah saya yang letaknya di daerah barat (pinggiran barat pula), Bambu Apus adalah tempat antah berantah yang letaknya jauuuuuh banget.

Saya bangun jam 05.30 pagi setelah sebelumnya cuma tidur 4 jam (bukan.. bukan ngerjain laporan kali ini. Cuma lagi bergosip dan nggak kenal waktu). Mata terasa berat, mood nggak bagus, dan otak bilang kembali lagi ke tempat tidur. Apa daya, institusi terus memanggil. Jadilah dalam waktu setengah jam saya bersiap-siap (yang berarti saya makan, mandi, dandan. Can you imagine I did it all only for 30 minutes)?

Tepat ketika saya akan pake sublock dan bedak, tiba-tiba mati lampu. GOOOOSSSSH! Apa sih ini? Nggak bisa kelihatan, kan, jadinya. Berusaha menahan rasa bete yang memuncak. Saya cuma diam dan nggak banyak ngomong soalnya saya tahu kalau ngomong yang keluar cuma omelan-omelan. Ditambah lagi rambut saya susah diatur. Poni yang keluar-keluar dan kependekan, serta rambut keriting nggak bisa diatur.

Setelah selesai proses mempercantik diri (yang teteeeep nggak kelihatan cantik di saat mati lampu kayak gini), saya menunggu bokap dengan sabar. Jam 6 tepat kami berangkat dari rumah. Bokap yang tipe sangat berhati-hati di jalan menyetir dengan slow motion padahal saya harus di Bambu Apus jam 8 pagi. Saya cuma diam aja. Masa udah nebeng tapi ngomel-ngomel?

Setelah diantar sampai halte busway terdekat, saya menaiki busway yang penuuuuh, ditambah jalanan macet kayak semua orang pada keluar dan nggak ada yang mau tinggal di rumah. Akhirnya baru sampai tempat perhentian berikutnya jam 7 pagi. Menunggu seorang teman di halte yang tak kunjung. Setelah si teman datang, kami masih menunggu bis ke arah Kampung Rambutan selama 30 menit. Sungguuuuuh, kesabaran saya diuji. Untungnya saya bisa dapat tempat duduk di bis AC itu dan terkantuk-kantuk selama perjalanan.

Sesampainya di Kampung Rambutan, saya naik angkot ke arah Tamini. Maceeeeet pula. Masa untuk jarak kurang dari 100 meter butuh waktu 15 menit? My Gooood! Ada apa, sih, dengan hari ini? Pas saya turun di Tamini, seorang teman sudah menunggu lagi. Dia bilang, sepertinya kami harus balik ke arah sebaliknya. Jadiiiii, tadi macet-macetan gunanya apa? Ya ampuuun! Kami masih harus naik angkot sekali lagi dan ojek karena di depan institusi itu nggak ada angkot yang lewat.

Area institusi itu cukup besar. Cukup bikin saya jalan jauh di tengah terik matahari untuk sampai di ruang psikologinya. Lumayaaaan, olahraga (dengan muka mesem-mesem). Untungnya pekerja sosial di sana ramah dan nggak banyak tingkah. Setelah berbasa-basi sebentar, saya bertemu dengan klien. Seorang remaja berusia 18 tahun. Dia kelihatan pendiam dan nggak banyak ngomong. Pandangannya selalu ke arah lain, kecuali ke saya. Ok, saya dapat klien yang bakal butuh ekstra usaha untuk bikin dia ngobrol banyak. Yang mana sebenarnya saya nggak suka basa-basi dan lebih suka jadi pendengar.

Di insitusi itu cuma sekitar 1,5 jam. Setelah itu untuk keluar area institusi harus menelepon tukang ojek yang tadi mengantarkan ke dalam untuk minta dijemput. Pas abang ojeknya datang cuma bawa 2 motor sementara kami bertiga. Katanya yang lain lagi nggak ada. Mampuslah kami! Saya dan seorang teman berbadan kecil akhirnya naik satu motor yang sama. Ya ampuuuun.. itu bikin saya harus jaga keseimbangan, padahal sih tetap aja mau jatuh.

Lalu pulang dengan naik angkot yang sama. Kok, jaraknya terasa lebih jauh ya? Pas sampai di perempatan Pasar Rebo, eh bis saya yang jarang-jarang lewat itu mendahului angkot yang lagi saya naiki. Yang ada akhirnya saya lari-lari sambil menyebrangi jalan yang ramainya minta ampun dan sampai diketawain abang-abang karena saya kekeeeeuh ngejar bis itu.

Ketika turun dari bis itu, cuaca mulai mendung. Lumayanlah nggak panas-panasan. Walaupun harus berdiri di busway dan bertemu ABG berseragamkan SMP dan membawa BB ke mana-mana yang kerjanya cekikikan mulu ganggu kuping. Turun dari busway saya langsung naik angkot lagi. Yaaah, di tengah-tengah perjalanan turun hujan deras. Karena kaca angkotnya nggak bisa ditutup akhirnya saya kebasahan. Saya turun di sebuah supermarket dekat rumah untuk mengambil uang di ATM. Setelah itu saya harus berjalan beberapa meter untuk naik angkot ke rumah. Payung saya yang mini itu bikin saya tetap saja kecipratan air hujan dan sepatu kesayangan jadi kotor.

Menaiki angkot kuning menuju rumah dengan penumpang yang nyaris cuma saya aja, bikin si sopir ngetem lamaaaaa banget. Itupun nggak dapet penumpang. Bikin emosi saya naik ke ubun-ubun. Begitu sampai depan rumah dan mengebel rumah berkali-kali tapi nggak dibuka, padahal saya udah kehujanan.

Begitu masuk untungnya lampu sudah menyala. Tapi sayang seribu sayang, nggak ada makanan di rumah. Terpaksalah saya masak dulu untuk makan siang saya sendiri. Waktu makan saya udah menyusun jadwal untuk hari ini: tidur siang, mandi, dan mengerjakan laporan tanpa ditunda. Perfect plan.

Tidur siang berjalan dengan baik. Mimpi indah. Baruuuu aja bangun, tiba-tiba lampu mati pada saat saya sedang asik-asiknya mengupload foto dan batre laptop tidak terpasang. OH MY GOD! Masa mati lampu 2x sehari di rumah!

Mati lampu bikin saya mati gaya. Akhirnya saya minta mama yang lagi di jalan beliin saya cemilan. Masa bodo dengan segala perut gendut dan diet yang berantakan. Saya butuh coklat untuk bikin mood jadi baik. Sejam mati lampu masih baik-baik aja, masih ada bokap dan nyokap yang diajak ngobrol. Berikutnya mereka udah ketiduran dan tinggal saya bengong. Akhirnya saya mengambil laptop yang kebetulan batrenya masih penuh dan mengerjakan laporan. WOOOW! Ternyata rencananya tetap berjalan lancar ya. Jadi bisa lebih fokus karena nggak ngerjain laporan sambil buka-buka facebook atau twitter.

Tepat sejam berikutnya lampu menyala dan laporan sudah beres. Asiiiik! Hikmahnya laporan hari ini nggak tertunda sama sekali. Hikmah lainnya? Nggak ada. Saya masih tetap bete dengan banyak hal hari ini. Semoga besok lebih baik dan tolong ya PLN, nggak pake mati lampu lagi. Emang saya hidup di jaman batu! Hey bung, ini Jakarta!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s