Mr B

Kasuistik alias ujian kasus adalah salah satu hal yang paling nggak saya suka. Apalagi kalau saya udah ngerasa laporan saya amburadul kayak sekarang. Belum lagi menyalin satu alat tes yang belum selesai. Oke, salah saya, sih, malah main-main satu hari sebelum kasuistik dan begadang (tapi gimana dong, lebih tempting daripada ngerjain tugas, sih.. *prioritas yang salah.. i know*).

Bangun pagi-pagi dengan kepala yang pusing banget. Migrain saya kambuh! Uuuh! Belum lagi nggak tahu kenapa pinggang saya sakit.. Berusaha tidur di bis, tapi nggak berhasil. Belum lagi, saya harus lari-lari pake high heels naik jembatan penyebrangan UI yang tinggi dan di bawahnya ada jalur kereta itu, bikin kaki saya gemetaran, terutama kalau kereta itu lewat tepat di bawahnya.

Sampai di kelas, dosennya udah datang. Jam pertama adalah kasuistik teman saya. Sepanjang kasuistik migrain saya kambuh.. nyeri banget. Benar-benar nggak bisa mikir dan konsentrasi. Hey, jangan-jangan ini psikosomatis sebelum saya presentasi, ya?

Begitu jam menunjukkan jam 10.00, jantung saya langsung berdebar-debar. Dosen penguji ini bikin saya deg-degan setengah mati. Dulu waktu mau diajar dia, teman-teman bilang dia orangnya nakutin jadi terbentuklah image menakutkan di benak saya. Mana pas ngajar dia memang kelihatan smart banget, I didn’t even know what he was talking about. Hahaha!

Begitu tahu dosen pengujinya dia dan menghubungi dia untuk memberi tahu jadwal ujian. Sempat kena omel juga karena saya nggak konfirmasi jadwal lagi ke dia. Huuu.. sempat serem juga, sih. Gila booo.. ketemu aja nggak tapi udah ngomel.

Begitu dia muncul di hadapan saya di ruangan, kaki saya lemeees banget. Aaaahhhh! Deg-degan banget lihat dia. Mulailah saya berceloteh ria mengenai kasus saya dengan sok tenang. Tiba-tiba menyuruh saya berhenti, mempertanyakan kenapa yang saya dapat hanya data, mana aspek psikologisnya. Dan bahwa ini untuk level S1, dangkal, dan seribu kritikan lainnya. Lalu dia membahas teori-teori Freud, yang tiba-tiba bikin saya blank. Saya nggak tahu si Freud ini mau ngomongin apa.

Tapi nggak tahu kenapa pas dia ngomong begitu, saya nggak merasa dipojokkan atau dijatuhkan sama sekali. This was really my bad because I knew it wasn’t a good one. Mungkin juga karena dia SANGAT smart jadi bikin saya nggak fokus sama kritikan dia, tapi mengagumi betapa orang ini sangat pintar. Dan saya selalu KAGUM sama orang yang pintar.

Belum lagi pas dia sedang ngisi kolom nilai di buku kasuistik saya, tiba-tiba dia mengkritik kertas presentasi saya yang menurut dia tulisannya kecil banget jadi nggak bisa dibaca (hahahaha.. emang, sih. Biar menghemat kertas). Dia bilang, “Untuk presentasi saya kasih nilai 50, harusnya sih 0, karena saya nggak bisa kelihatan”. Iya juga sih, dia kan udah tua, pake kacamata, masa disuruh lihat tulisan kecil-kecil. Hihi.

Pas terakhir, dia tanya sama saya, apa ada kata penutup dari saya. Hmm.. baru kali ini kasuistik disuruh kasih kata penutup. Dan saya bilang apa yang saya rasakan, bahwa saya belajar banyak banget dari kasuistik ini, belajar gimana mewawancara, belajar letak kekurangan saya di mana. And it was priceless.

Mungkin secara nilai, ada bagian yang dapat nilai jelek, tapi selebihnya saya merasa senaaaaang banget. Ini lebih dari sekedar nilai. Dia bikin saya kagum, dia bikin saya belajar banyak banget. And I was so happy after that. Thanks Mr. B.

Yang lucunya lagi, setiap saya stres di kasuistik pasti tiba-tiba saya datang bulan pas kasuistik. Pasti stresornya besar banget ya. Hahaha.

But overall, I’m happy to learn a lot from him.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s