My One-of-a-kind Client

Dia adalah klien paling unik di tempat yang unik juga. Dia salah satu pasien di rumah sakit jiwa. Seorang cowok berumur 27 tahun yang dari pertama kali kita ketemu sudah memilih saya sebagai psikolognya. Mungkin namanya love at the first sight, ya.. Bagi dia, bukan bagi saya dong. Hehehe. Ajaibnya, ketika saya dan teman-teman saya mengundi pasien siapa yang akan kami pilih, tidak sengaja saya mendapatkan dia.

Setiap hari dia selalu memuji saya, mengatakan saya cantik, manis, dan sejuta pujian lainnya. Saya nggak pernah mendapatkan sebegitu banyaknya pujian dalam sehari, kecuali dengan dia. Ke manapun saya pergi, dia bisa tiba-tiba ada di sekitar saya. Ketika makan di kantin dan makanan yang saya pesan tak kunjung datang, dia segera mendatangi penjualnya dan menunggui sampai makanan saya siap diantar dan dengan tangannya sendiri mengantarkannya pada saya.

Beberapa kali dia menanyakan apakah saya mau menjadi pacarnya. Bahkan tanpa saya mengiyakan pun, dia sudah menyebut saya pacarnya ke orang-orang di sekitar rumah sakit. Pernah dia sedang membawa setumpuk selimut dan seprai tempat tidur rumah sakit, dan dia bilang, “Naomi, nikah, yuk. Ini baju nikahnya pakai seprei”. Dan saya bengong sambil ketawa simpul. Hikmah yang bisa diambil adalah ternyata orang yang pertama melamar saya adalah seorang pasien rumah sakit jiwa. Haha.

I think he was obsessed with me. Menyambut saya ketika saya datang, melirik-lirik saya setiap dia melakukan aktivitas, mendatangi dan mengajak ngobrol setiap saya sedang duduk tidak melakukan apa-apa, mengundang saya ke rumahnya dan berjanji akan mengajak saya nonton di bioskop nanti. Dia juga bilang dia akan membantu saya dengan menjawab pertanyaan sebaik-baiknya supaya kuliah saya dapat bagus.

Lucunya, ada seorang pasien perempuan yang naksir dia. Jadi si pasien perempuan cemburu sama saya karena klien saya ini terus-menerus memuji dan mendekati saya. Pernah, saya meminta klien saya untuk nggak merokok ketika sedang ngobrol dengan saya, lalu tiba-tiba si pasien perempuan bilang, “Naomi, egois, ya nggak bolehin dia merokok”. Di lain waktu, dia memarahi saya karena saya selalu melipat lengan jaket dokter saya. Dia bilang dokter nggak seharusnya begitu, biar aja nanti kuliahnya nggak lulus. WADOOOH! Saya cuma bisa bengong sambil senyum-senyum nggak jelas.

Tapi sekarang si klien udah balik lagi ke rumahnya. Pertemuan terakhir saya dengan dia, dia lagi senang luar biasa karena sudah boleh pulang. Dia mengajak saya ngobrol terus-menerus. Sekali lagi menawarkan untuk datang ke rumahnya. Memuji saya berkali-kali di depan orang-orang.

Sekarang dia udah pulang sebelum saya sempat ketemu dengan dia karena saya lagi ada di kampus untuk bimbingan. Whoaaa.. gimana nasib laporanku? Sepi deh nggak ada si klien. Nggak ada yang heboh dengan suara besarnya tiap hari. Nggak ada lagi yang nyanyi-nyanyi keras.

Kamu kenapa pulang, sih? Saya belum selesai sama kamu, niiiih..

Advertisements

3 thoughts on “My One-of-a-kind Client

  1. wahaha lucu banget!! berhubung gw suka nonton, gue sedang membayangkan sensasinya diajak nonton sama dia! it’s gonna be fun? or frightening yah, mi? haha

  2. frightening dong in.. dia tuh suka megang2 gituuu.. hiiiii.. apalagi ditambah suasana gelap. waduuuh.. dia kan masuk sana gara2 ga kesampaian mau nikah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s