It’s Love and It’s not Pink

What is love?

Saya tahu saya jatuh cinta ketika merasa ada kupu-kupu beterbangan di perut saya dan merasa berdebar-debar hanya dengan melihat ID-nya muncul di Yahoo Messenger atau namanya muncul di layar HP. Saya tahu saya jatuh cinta ketika berusaha sok cool tapi sebenarnya lutut saya lemas setengah mati karena harus berhadapan dengan dia. Saya tahu saya jatuh cinta ketika saya selalu menantikan setiap pertemuan dengan dia dan rela begadang hanya untuk mendengar suaranya walau hanya untuk mengucapkan selamat tidur. Dan saya tahu saya jatuh cinta ketika saya tidak ragu lagi untuk menyatakan, “I love you”.

Jatuh cinta membuat saya berani menunggu, berani menekan semua egoisme saya, berani mengalah, dan berani meminta maaf. Jatuh cinta berarti sama-sama belajar untuk menjadi lebih positif. Jatuh cinta berarti belajar bertanggung jawab terhadap cinta itu sendiri.

Saya senang ketika sedang jatuh cinta. Melihatnya tertidur lelap setelah seharian berusaha menjaga saya. Menyandarkan kepala di bahunya dan merasa berada di tempat paling aman. Menangis di depannya dan tahu bahwa ia akan menghapus setiap tetes air mata yang jatuh. Membiarkannya mengelus rambut saya dan merasa ia tidak akan membiarkan apapun menyakiti saya. Tertawa bersama dan tahu dunia ini menjadi lebih menyenangkan karena bersamanya.

Buat saya jatuh cinta memang seindah itu. Seperti bunga-bunga bertebaran, burung-burung yang berkicau, dan semua serba pink.

Tapi warna cinta ternyata tidak selalu berwarna pink. Dan saya melihatnya dalam bentuk nyata beberapa hari ini ketika saya praktek di sebuah rumah sakit jiwa. Ia adalah seorang ibu berusia 54 tahun. Sejak pertama kali saya datang, ia tidak pernah berbicara. Diam seribu bahasa. Bukan karena dia tidak bisa berbicara tapi karena dia memang tidak mau bicara. Ia tidak akan bergerak kalau tidak ditemani atau dipapah.

Saya cukup hopeless dengan ibu ini. Ia tidak mau berbicara, tidak mau bergerak, dan diam saja. Seperti berbicara dengan tembok. Belum lagi kalau dia mulai berhalusinasi mengenai kebakaran dan ia langsung saja membuka celananya dan kami yang ada di sana harus memegang tangannya dengan erat agar ia tidak membuka celananya sambil berbicara satu arah kepadanya.

Hari kedua di sana, suami ibu ini datang seorang diri mengunjungi. Ia berusaha mengajak ibu berbicara, walau ibu ini hanya diam seribu bahasa. Tapi suaminya tetap menghabiskan beberapa jam hanya untuk bicara sendiri dengan ibu ini.

Pertama kali melihat bapak ini, saya biasa-biasa saja. Melihatnya hanya sebagai seorang pengunjung yang mengunjungi kerabatanya yang sedang sakit. Tapi ketika kedua kalinya, ia datang bersama anak keduanya yang menderita keterbelakangan mental. Ia menemani istrinya mengikuti kebaktian. Salah satu tangannya menggandeng tangan istrinya, sedangkan tangan satunya lagi menggandengan tangan anaknya.

Bapak ini bermain gitar, mengiringi setiap lagu yang dinyanyikan di kebaktian. Ia menunggui istrinya sampai selesai melakukan kegiatan. Di tengah-tengah kebaktian, istrinya tiba-tiba ingin membuka celana lagi. Begitu berkali-kali sampai kebaktian selesai. Saya menggandeng tangan ibu itu agar ia tidak membuka celananya, dan suaminya menggandeng tangan satunya lagi. Saya tahu betapa keras perlawanan ibu itu untuk melepaskan tangan kami. Suaminya tetap menggandeng dan mengatakan jangan membuka celananya nanti malu dilihat orang. Ibu itu tetap diam seperti biasa.

Ibu ini dibawa ke dalam kamarnya, sementara suami dan anaknya tetap menemani. Suaminya berusaha berbincang-bincang dengan istrinya, sementara si anak duduk di teras sambil berbicara berulang-ulang sendirian dan kemudian tertawa. Sampai kami selesai makan, si bapak masih menemani istrinya, menjaganya agar tidak membuka celana, dan tetap berusaha berbincang-bincang. Ia mengatakan pada kami bahwa besok ia tidak akan datang karena ia ingin puasa untuk kesembuhan istrinya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00, si bapak ingin pulang. Ia berpamitan dengan istrinya, tapi istrinya memegang tangan suaminya dengan erat sambil berkata jangan dengan sepatah-patah. Ia tidak ingin melepaskan tangan suaminya, sementara si anak hanya cengengesan dan tidak mengerti apa yang sedang dihadapinya. Seorang suster mengajak ibu ini ke ruang makan bersama beberapa teman saya. Saya yang masih di teras kamar ibu ini, tidak sengaja melihat sang suami mengusap wajahnya, habis menangis. Sementara si anak mencari-cari keberadaan bapaknya. Kemudian si bapak muncul dari balik tembok sambil menggandeng anaknya dan mengajak pulang.

Buat saya ini cinta dalam warna yang lain. Bukan warna pink dengan segala romantismenya. Si bapak bisa saja melepaskan istrinya. Tidak perlu bersusah payah menjenguk istrinya tiap hari karena toh istrinya tidak mau berbicara juga, sudah gila kata mereka. Ia juga bisa saja datang selama 15 menit dan pulang. Tapi dia memilih untuk mengajak istrinya berbicara, walau tahu tak akan ada jawaban darinya. Dia tetap berada di samping istrinya, ketika istrinya tidak bisa berfungsi secara normal lagi. Dia tetap mengurusi anaknya ketika sang anak susah untuk diurusi karena keterbelakangan mental.

Ini bukan cinta pink seperti saya. Saya nggak tahu warna apa cinta yang seperti ini, tapi saya tahu cintanya tulus. Seberapa banyak orang yang akan bertahan bersama seseorang yang pikirannya tidak normal lagi. Seberapa banyak orang yang rela menghabiskan banyak uang untuk kesembuhan istrinya, walau sebenarnya ia juga kekurangan. Seberapa banyak orang yang akan tetap mencintai istrinya seperti apapun dia.

Love is about sacrifice. You’re not in love when you’re not willing to sacrifice. And it’s unconditional.

Betapa beruntungnya saya ada di sana. Kalaupun saya harus berada jauh dari rumah dan berusah payah mengatasi homesick, tapi saya belajar banyak dari mereka yang katanya tidak normal. They’re not just data. Buat saya, mereka sudah mengajari saya banyak hal. Lebih dari yang kampus bisa ajarkan.

And yes, I fall in love with this job over and over again because from them I learn about life and love.

2 thoughts on “It’s Love and It’s not Pink

  1. wah mi, salut deh.. plus sirik juga jadinya lo bisa belajar banyak dari kehidupan. hehe.. cerita yang menyentuh. ternyata cinta ada di sekitar kita yah.. hihi🙂
    sukses buat prakteknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s