Percakapan Dengan Hati Part 3

Ia tidak bisa duduk tenang. Matanya menatap layar telepon genggam yang sedari tadi dipegangnya. Napasnya terdengar cepat. Ia marah. Sangat marah. Tapi di pelupuk matanya, tersimpan tetes air mata yang kapanpun bisa turun kalau ia tidak menahannya.

Hatinya berdenyut. Perih. Selama ini ia diam seakan tidak apa-apa. Ia berharap hatinya baik-baik saja. Tapi Hati tahu ada sesuatu yang salah di sini.

Hati      : “Aku tahu kamu marah…”

Ia terkejut. Melihat Hati yang selama ini hanya diam. Ia mencoba menghapus air matanya yang akhirnya terjatuh juga.

Ia          : “Aku nggak apa-apa, kok.”

Hati      : “Kalau kamu nggak apa-apa, kenapa aku merasa sakit?”

Sakit. Perih. Mungkin sudah berdarah. Berkali-kali diobati, tapi darahnya terus mengucur. Seperti disilet lagi dan lagi.

Ia          : “Kamu sakit? Padahal aku berusaha menjagamu.”

Hati      : “Kamu tidak sedang menjagaku. Kamu tahu itu. Kamu sedang membiarkanku terluka. Tapi kamu nggak mau tahu. Karena kamu nggak mau melihat dia berbuat seperti itu, walaupun kamu tahu itu dia.”

Air matanya turun semakin deras. Matanya menjadi merah. Ia menutup wajahnya dan yang terdengar hanyalah isakannya. Melihatnya seperti itu, Hati merasa perih. Lukanya berdenyut semakin hebat seperti disayat-sayat.

Ia            : “Aku.. aku pikir dia akan selalu menjagamu. Aku pikir dia tidak akan membiarkanmu terluka lagi, tapi…” Ia tidak melanjutkan kata-katanya. Ia kembali terisak.

Hati      : “Tapi ia membiarkanku terluka… dengan luka yang lebih dalam daripada dulu. Ya, kan?”

Ia mengangguk.

Ia            : “Aku mau mengobatimu.. Tapi aku takut.. Aku bingung.. Kalau kubiarkan dia pergi, nanti kamu akan terluka. Tapi kalau membiarkannya tetap di sini, kamu pun terluka.”

Hati      : “Jadi pilih saja mana yang lebih tidak melukaiku.”

Ia menggeleng, “Aku nggak tahu. Aku takut tanpa dia.”

Hati      : “Apa yang kamu takutkan?”

Ia          : “Aku mulai terbiasa hidup dengannya.”

Hati tersenyum sinis, “Bodoh. Kamu sudah tahu itu dari lama kalau aku sakit. Sakit sekali di sini. Kamu bahkan pura-pura tidak tahu. Tidak mau tahu. Tidak peduli bahwa yang kamu sakiti sekarang adalah diri kamu sendiri.”

Ia          : “Aku tahu aku bodoh. Dan aku marah. Marah karena pernah menggantungkan kebahagianku padanya. Bodoh karena aku pikir dia akan jadi penghapus luka yang baik.”

Hati      : “Dan kamu marah sekarang?”

Ia          : “Sangat marah!” matanya manatap hati tajam.

Hati      : “Kamu tahu ketika kamu marah, aku merasa panas, serasa ingin meledak. Jadi yang kurasakan sekarang adalah sakit, perih, dan panas. Aku bahkan bingung mana yang harus kurasakan.”

Ia          : “Aku benci dia, Hati. Aku benci dia yang menyakitiku. Aku benci!”

Hati      : “Dan kamu semakin menyakiti dirimu sendiri karena telah membenci dia.”

Ia mengangguk. Semakin ia marah dan membenci dia, semakin terasa sakit. Semakin terasa tidak nyaman.

Hati      : “Jadi kamu maafkan dia saja.”

Ia melihat hati dengan bingung. Ide paling bodoh yang pernah didengarnya. Memaafkan orang yang sudah menyakitinya? Bodoh.

Ia          : “Kamu udah gila? Maafin dia?”

Hati      : “Iya. Maafin dia. Dan kamu akan disembuhkan. Kamu akan terus terluka dengan membenci dia dan mengharapkan dia merasakan yang kamu rasakan. Dia nggak akan pernah tahu apa yang kamu rasakan. Maafkan saja dia, dear. Aku akan sembuh kalau kamu mau maafin dia.”

Ia menatap Hati bingung. Berusaha mencerna setiap perkataan Hati.

Hati      : “Maafkan dia maka kamu akan mengobati lukaku. Kebahagiaanmu tidak tergantung pada dia. Tuhan menciptakan hatimu baik tanpa luka, dan Tuhan kasih kamu obat kalau kamu melukainya. Semua udah kamu punya. Obatnya cuma mengampuni. Dan kamu bisa pergi bebas. Kamu bisa tersenyum ketika dia bahagia. Maafkan dia, dear.”

Benar. Cuma memaafkan yang bisa membuatnya tenang. Ia akan selalu mencari-cari cara untuk menyakiti dirinya sendiri kalau ia belum memaafkan dia. Dan bukan begini cara yang baik untuk meninggalkan dia.

Ia menarik napas panjang, “Iya, aku maafin dia. Aku mau hatiku sembuh, Jadi aku maafin dia. Lagipula, dia pernah jadi orang yang nyembuhin kamu, kan? Sekarang bukan orang lain lagi yang bertanggung jawab untuk hatiku, tapi aku sendiri.”

Hati memeluknya erat, “Dear, kamu tahu kamu rapuh sekali. Banyak orang yang akan menyakitimu dan membuatmua menangis. Tapi kamu harus ingat ini, seberapa kerasnya usaha mereka untuk membuatmu terluka, kamu punya hati yang besar untuk memaafkan mereka dan membuat hatimu sembuh. Lagipula, Bapamu tidak akan membiarkanmu terjatuh dan terluka. Ia akan menyembuhkanmu, dear. Jangan takut. Kamu baik-baik saja.”

Ia mengangguk. Ia bertanggung jawab akan kebahagiannya, bukan orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s