Not-So-Easy Marshanda’s Life

rambut_marshanda

Beberapa hari ini lagi heboh videonya Marshanda yang marah-marah sama teman SDnya. Jujur pas lihat videonya saya ngakak setengah mati di tengah malam. Marshanda alias Caca (akrab beneeeur) yang imagenya anak baik-baik ternyata bisa bertingkah laku mengejutkan kayak gitu: joget-joget sambil nyanyi kayak orang gila, dan mencak-mencak sama teman SDnya. Oh, she really made my night.

Tapi, ya, setelah saya follow Twitter-nya (oh no, it’s my guilty pleasure) dan baca postingan dia, duh saya merasa kasihan sekali sama dia. Tema postingannya sebagian besar gimana dia kangen sama Papanya yang udah bercerai sama Mamanya sejak dia umur 5 atau 6 tahun. Dan gimana dia pengen Mamanya maafin Papanya. Lalu ada juga dia marah-marah karena orang-orang mengusik keluarganya. Lalu dia juga cerita soal dia dimusuhin satu angkatan pas SD.

Padahal kelihatannya dia cantik, baik hati, pintar, dan manis. Siapa, sih, yang nggak mau temenan sama dia.

Saya ingat waktu saya masih SD, duh, saya bukan salah satu anak yang cantik, manis, apalagi pinter. Saya biasa banget. Mana pendiem, tertutup, dan pemalu. Bayangin betapa susahnya saya beradaptasi setiap naik kelas dengan teman-teman yang baru. Tapi saya nggak pernah dimusuhin satu angkatan dan tiap saya naik kelas pun akhirnya saya punya teman-teman baru.

Kejadian yang paling menyedihkan yang saya ingat pas SD adalah waktu kelas 6 SD saya duduk sebangku dengan seorang cowok paling nyebelin sedunia. And one day he hit me, right on my stomach. Sakiiiit! Terutama karena yang mukul adalah cowok. Dan nggak ada excuse bagi seorang cowok untuk memukul cewek. Dan saya pernah benciiii banget sama cowok ini sampai saya nggak pernah mau sekelas lagi sama dia. Tapi sayangnya, pas kelas 2 SMP saya sekelas sama dia dan saya nggak pernah mau lihat atau ngomongan sama dia. Lalu, ternyata pas kuliah saya satu kampus dengan dia walau beda jurusan. Duh, saya masih sebel. Tapi setelah dipikir-pikir, itu kan kejadian pas masih SD dan sekarang saya udah besar, ngapain sih saya ingat-ingat lagi, belum tentu dia ingat juga. So, I forgave him. Rasanya lega. Dan saya nggak benci dia lagi.

Setelah itu, saya cuma ingat masa SD saya adalah sesuatu yang menyenangkan. Saya masih ingat setiap istirahat, saya dan dua sahabat, memanjat tiang basket dan duduk di sana sambil makan dan mengobrol sampai istirahat selesai. Saya juga masih ingat bagaimana saya sering tertawa bersama teman-teman di kelas dan menghabiskan banyak waktu bersama. They’re all good moments to me.

Beda dengan Marshanda, keluarga saya baik-baik saja. Nggak ada perceraian atau berantem-berantem yang super heboh. Kalaupun heboh nggak sampai masuk TV juga kali ya. Hihi. Dan saya tahu betapa Marshanda kangen punya keluarga yang utuh dan harmonis kayak orang lain.

So, I truly feel sorry for Marshanda. Life’s been so hard for her. But Caca, you enternain me so much.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s