Kasuistik dan Perut Melilit

Hari ini akhirnya sidang kasuistik juga. Didahului dengan dua sidang teman dan mengharuskan saya menjadi penanya. Saya giliran terakhir. Lumayan deg-degan juga karena sudah tahu pasti ada yang salah sama laporan saya (tentu saja karena ini kan kasuistik pertama saya). Mana pengujinya adalah Mas tampan murah senyum itu. Yaiiiiy! Bikin saya deg-degan jadinya.

Ketika presentasi laporan, semua berjalan lancar. Saya bisa bicara dengan lancar dan jelas. Semua memperhatikan dengan baik dan serius melihat flip chart power point saya. Tapi entah di menit ke berapa, saya menyadari bahwa tiba-tiba maag saya kambuh. OK, jangan-jangan saya mulai psikosomatis, nih. Bukan cuma maag, perut saya tiba-tiba melilit. Bukan mules. Bukan sakit perut. Tapi melilit seperti mau datang bulan. Duuuh, gawat.

Saya masih tetap berdiri, berusaha mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Tapi perut saya makin melilit. Saya mulai menyandarkan diri ke tembok. Mulai memegang perut. Makin nggak tahan sama rasa sakitnya. Ini pasti mau ‘dapet’. Saya udah mulai nggak konsentrasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Saya ingin duduk, ingin ke kamar mandi. Duuuh, sakit banget.

Di kepala saya cuma kepikiran, gimana caranya bilang kalau saya mau permisi sebentar ke kamar mandi mau lihat apa saya ‘dapet’ atau nggak. Duh, mana dosen pengujinya cowok lagi. Kan, jadi makin sungkan akhirnya.

Tiba-tiba si Mas dosen bilang, “Kamu nggak papa, kan?”

Saya mengangguk cepat. Lalu bertanya, “Boleh duduk, Mas?”

Dia mempersilahkan saya duduk. Lumayan lega, tapi tetap saja perut terasa sakit dan saya sibuk memegangi perut saya. Konsentrasi saya benar-benar terpecah. Saya cuma pengen ke kamar mandi.

Lalu si Mas Dosen bilang lagi, “Kamu nggak papa? Kelihatannya kamu kaget dengan perbaikannya? Ini semua cuma saran-saran aja supaya laporan kamu lebih baik.”

Oooh tentu saja dia berpikir gitu. Muka saya nggak ada senyum-senyumnya sama sekali. Tatapan lurus ke depan. Yeaaah, muka menahan rasa sakit.

Lalu saya berusaha tersenyum lebar, “Oh iya, Mas, nggak papa. Saya lagi sakit perut aja”. OOOHHH, I wish he knew it was my period!

Suara saya makin bergetar, makin mengecil, makin seperti inferior.

Ketika kasuistik itu selesai, saya langsung meminta pembalut pada seorang teman saya dan berlari ke teman saya. Yaaa, benar, saya emang lagi ‘dapet’. OOOH GOD, bisa-bisanya dapet pas lagi kasuistik di jam saya pula.

Bener-bener, deh, kasuistik itu hebat. Akhirnya PMS yang mengganggu selama 2 minggu terakhir ini berujung juga. So, should I thank him for that? Hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s