Not An Angel

Saya nggak sempurna. JAUH dari sempurna.

Tapi saya cukup tahu mana yang benar dan salah. Jadi saya tahu mana yang harus saya lakukan, walaupun bukan berarti saya malaikat.

Misalnya saya ambil contoh yang ekstrim: Saya tahu membunuh orang itu salah dan dosa. Jadi kalau ada orang menyuruh saya untuk membunuh orang tentu saja saya tolak. Saya bilang, duh, itu kan dosa. Tuhan pasti nggak suka kalau saya melakukan itu. Walaupun saya tahu mana yang perintah Tuhan, mana yang bukan, bukan berarti saya tiap hari baca kitab suci juga.

Saya masih belajar buat jadi baik. Masih belajar buat taat baca firman Tuhan tiap hari walau sering bolong-bolong dan males. Jadi, kalau menurut kamu saya nggak mau membunuh orang karena saya baca Alkitab tiap hari, ya nggak juga. Tapi saya tahu, Tuhan nggak mau saya melakukan itu.

Kalau kamu jadi menghakimi saya bahwa saya adalah orang yang munafik dan pembohong karena saya nggak baca Alkitab tiap hari (padahal disuruh membunuh juga nggak mau), well, kamu berharap terlalu besar dari saya. Ini jauh lebih baik, kan, dari kamu yang baca Alkitab tiap hari, nggak pernah absen ke Gereja, tahu setiap ayat yang ada di Alkitab, dan mengerti konsep yang baik tentang firman Tuhan, tapi melakukan apa yang Tuhan nggak suka untuk nurutin semua nafsu kamu. Jadi aku bingung sama kamu. Ngomongnya penuh kasih, tapi kelakuannya begitu. Kata kamu, semua orang juga begitu. Masih mending kamu.

Lalu aku cuma bisa terdiam. Karena kalau aku kasih tahu alasanku, mau bikin kamu mengerti ini sesuatu yang Tuhan nggak suka, kamu akan langsung marah. Kamu paksa aku. Kamu bikin aku sedih. Aku mulai kecewa sama kamu. Kamu nggak mencerminkan bentuk dari Tuhan yang selalu kamu bilang itu. Tuhan nggak begitu. Tuhan nggak kayak kamu.

Aku maafin kamu. Tapi susah untuk melupakan itu. Tapi aku nggak benci kamu. Nggak segampang itu bilang benci. Mungkin lebih gampang buat kamu untuk bilang benci. Saya memang nggak baca Alkitab tiap hari, tapi saya tahu benci orang itu nggak baik. Kamulah yang lebih tahu tentang apa yang Tuhan mau. Kamu lebih sering baca Alkitab daripada saya, kan.

Kamu dan aku sama. Sama-sama nggak sinkron antara duniawi dan sorgawi. Kalau kamu selalu menganggap kamu yang paling benar, lebih benar daripada aku. Aku udah nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Itu kan yang selalu kamu lakukan dari dulu. Memaksa dan menganggap diri lebih benar. Memakai waktu kamu. Jadi kalau kamu pikir bisa melakukan seperti itu lagi sama aku, kamu salah.

You haven’t changed at all. That’s the reason why.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s