Another Smoking Thing

Hari ini saya dan teman sekelas berkunjung ke sebuah instansi sosial untuk praktek nanti. Instansi ini untuk anak-anak yang dianggap bermasalah (mencuri, merampok, suka bolos sekolah, dll). Ketika kami menanyakan apa ada peraturan-peraturan yang harus ditaati, mereka menjawab: Tidak boleh merokok di depan anak-anak itu. Tapi, kalau mau merokok di belakang ya nggak papa. Aturan ini dibuat karena rokok diasosiasikan dengan kenakalan dan efek yang kurang baik untuk anak-anak itu.

Suka nggak ngerti, ya sama orang-orang yang bikin peraturan ini. Kalau udah tahu rokok itu nggak baik buat kesehatan, udah tahu efeknya nggak baik, udah tahu kalau merokok akan jadi contoh yang kurang baik buat anak-anak, tapi kok tetap dilakukan, ya?

Kalau bikin peraturan dilarang merokok, ya sekalian aja jangan merokok dong orang-orang di dalamnya. You’re a role model for them, so be a good one, please. Jangan pakai ada pengecualian, terutama karena kalian yang tahu gunanya peraturan itu buat apa. Yah, jadi kalau mereka akhirnya diam-diam merokok di belakang kalian, ya jangan marah juga. Kan, kalian memberi contoh seperti itu.

Saya selalu sewot kalau berhubungan dengan rokok. Saya anti rokok. Anti baunya yang selalu membuat saya sulit bernapas dan membuat badan dan rambut saya jadi bau. Tapi semakin saya anti dengan rokok, semakin banyak saya harus berdekatan dengan orang-orang yang merokok dan nggak bisa saya jauhi.

Terpaksa harus bertahan di samping mereka. Terpaksa harus melihat mereka merokok (walaupun mereka tahu, saya pasti akan selalu cerewet tentang ini). Terpaksa harus membiarkan mereka menghancurkan kesehatan mereka perlahan-perlahan. Rasanya pengen mengambil rokok itu dari bibir mereka ketika dihisap. Rasanya pengen mengambil kotak rokok yang mereka beli atau sembunyikan. Tapi nggak bisa. Huhuhu.

Jadi yang bisa dilakukan adalah berusaha melihat dari sudut pandang mereka yang katanya susaaaah berhenti. Mulai memaklumi (dan cuma bisa menarik napas panjang) saat melihat mereka merokok di depan saya. Tapi tetap belum bisa menerima (dan nggak mau menerima) kalau mereka merokok dan ngabisin uang buat sesuatu yang (menurut saya) nggak berguna. Mendingan uangnya buat beli baju dan sepatu atau nonton di bioskop atau makan makanan enak di restoran mahal.

Jadi buat bapak-bapak dan ibu-ibu yang ada di instansi itu, tolong ya.. don’t ruin your children’s future by giving wrong examples for them.  And for those who smoke around me (especially for them whom I care so much), can’t you see that you’re addicted on this? And addictive to something is never good. So, please save yourself before it’s too late.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s