Helping Him, Helping Me

Disclaimer: Maaf ya, kalau akhir-akhir ini saya akan menulis sesuatu yang isinya emosi negatif mulu. It’s PMS and I just can’t control it.

Kemarin, seharian saya merasa super duper mellow nggak jelas. Kembali ke kos sendirian. Sepiiii banget rasanya. Bingung mau nelepon siapa karena semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Lalu saya memutuskan untuk tidur cepat saja karena kebetulan badan saya lelahnya minta ampun.

Waktu masih menunjukkan jam 10 ketika saya menutup laptop dan bersiap-siap untuk tidur. Gosh, rasanya air mata sudah di pelupuk mata saya dan saya tetap nggak tahu harus cerita sama siapa. Saya merasa aneh saja kalau tiba-tiba SMS orang dan bilang: “Duh, gue lagi mellow, nih. Tapi nggak tahu kenapa”. Trus apakah dia akan menanggapi saya atau merasa keluhan saya sangat amat nggak penting sehingga memutuskan untuk nggak usah menanggapi saya. Yup, saya takut di-reject. Saya takut perasaan nggak jelas ini dianggap remeh sama orang. Jadi lebih baik saya simpan sendiri, saya tahan-tahan saja. Siapa tahu besok pagi akan hilang dengan sendirinya.

Tepat ketika saya mau tidur, seorang teman lama menelepon. Teman cela-celaan dulu ketika SMA, teman yang rasanya nggak pernah serius dalam segala hal, teman yang jarang SMSan atau telponan tapi selalu jadi tempat curhat saya untuk masalah-masalah besar dalam hidup saya. He called me that night, said he was on the way home and needed me to acompany him. Sebenarnya lagi agak malas ya menanggapi dia karena pasti bawaannya cela-celaan mulu dan saya sedang nggak mood untuk main cela-celaan. Tapi dia tetap berbicara dan tetap memaksa saya untuk menemani dia.

Lalu mengobrollah kami. Ternyata dia tidak hanya menelepon saya untuk berbasa-basi atau cela-celaan saja. Dia ternyata mau curhat. Agak kaget juga, sih, secara dia jaraaaaang banget curhat beneran. Hm, terahir kali saya dengar dia curhat itu waktu dia mau putus sama pacarnya dan itu udah lumayan lama. Sekarang dia udah putus sama pacar terdahulunya dan menemukan seseorang yang baru (yang selalu dia tekankan belum jadi pacarnya).

Jadi dia menceritakan masalah ini sama saya karena dia pengen dengar nasehat dari segi psikologi (yeeaaah, like I didn’t know that you always need me to help you solving your BIG problems. Haha!). Dia sedang dekat dengan seorang cewek di kantornya yang umurnya 4 tahun lebih tua dari dia. Selain beda umur, mereka beda suku juga. Dua suku yang sama-sama keras kalau soal penentuan pasangan hidup (yeah, can you what race they are?). They are both in love. Mereka udah mengutarakan perasaannya masing-masing. Sama-sama tahu kalau mereka saling suka. Menghabiskan banyak waktu sama-sama. Tapi si cewek tetap nggak bisa memberiksan status pacaran karena orang tua si cewek ini nggak mau anaknya pacaran dengan beda suku. Apalagi cewek ini anak pertama dan kemungkinan ini akan menjadi pacar pertamanya yang diumumkan ke publik dan diperkenalkan ke keluarganya.

Sampai sini si teman merasa baik-baik saja. Dia bisa ngerti cewek itu butuh keberanian yang sangat besar untuk memperkenalkan dia ke keluarganya dan memberikan status pacaran. Jadi sampai saat ini, si teman selalu menganggap mereka nggak pacaran. Sampai si teman menceritakan pada saya, bahwa ia sudah mencium cewek ini dua kali. Dan ia merasa sangat bersalah karena cewek ini kan bukan pacarnya.

Saya tanya ke dia, cewek ini nolak nggak dicium? Dan dia bilang nggak. Naaaah, what’s the problem then? Saya menganggap mereka berdua sudah pacaran. Mereka melakukan hal-hal yang selayaknya orang pacaran lakukan. They hug, hold hands, and kiss. Mereka selalu menelepon setiap hari dan jalan berdua. Mereka merasa cemburu kalau salah satunya jalan dengan cowok atau cewek lain tanpa bilang. Mereka sama-sama tahu kalau mereka saling suka. Soooo? Itu kan yang orang pacaran lakukan? Perbedaannya adalah mereka nggak bilang kalau mereka pacaran.

Lalu saya bilang, sangat bermasalahkah kalau si cewek nggak menyebut status pacaran itu karena takut sama keluarganya? Kalau iya, lebih baik bilang sama cewek itu kalau lebih baik disahkan mereka pacaran tapi backstreet saja. Lalu dia bilang, “Lho, berarti sama kayak sekarang dong? Sekarang aja kayak backstreet”. Dan saya tanya ke dia, apa dia masih bisa ngerti sama situasi yang dihadapi cewek itu sehingga dia harus backstreet. Dia bilang iya. Jadi, apa bedanya bilang pacaran atau nggak pacaran karena mereka berdua sebenarnya sudah sama-sama tahu kalau mereka berdua udah kayak pacaran. Sampai pada akhirnya teman saya mulai menerima bahwa, iya situasi mereka udah kayak pacaran and they knew it and fine with it.

Dan apa yang saya dapat? Perasaan saya jadi jauuuuuh lebih baik. Saya merasa nggak kesepian, merasa ada yang menemani, dan merasa terhibur. Ternyata menolong orang lain membantu saya menolong diri saya sendiri. Duh, untung teman saya ini menelepon, ya. Kalau nggak kemarin adalah hari paling miserable deh.

Hey you, saya tunggu update dari kisah cintamu dan kapan kita ketemuan, nih? Kemarin-kemarin janji mau ketemu, lho. Jangan dia mulu dong yang diajak ketemu. Hehe. Goodluck to you!

One thought on “Helping Him, Helping Me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s