OCD

Hari ini di kampus ada role play konseling CBT (Cognitive Behavioral Therapy). Saya pura-puranya jadi kliennya. Saya cerita soal betapa saya terganggu ketika saya mulai merasa rambut saya nggak rapi. Teman saya yang berperan sebagai konselor mulai mengarahkan pertanyaa-pertanyaannya supaya saya mendapat insight. Tapi justru di situ saya baru sadar masalah saya nggak cuma soal rambut yang nggak rapi. Saya punya gejala obssessive compulsive. Terobsesi dengan kerapihan dan kebersihan.

1. Ketika saya sudah keluar dari kamar kos dan menguncinya dan melihat sepatu yang tergeletak di depan kamar kos miring, saya nggak akan ragu-ragu balik lagi cuma untuk merapikannya. Biasanya saya akan mikir, penting nggak sih yang kayak gitu dirapihin lagi. Udah lumayan jauh juga jaraknya. Tapi perasaan gregetan dan ga tahan lihat sesuatu yang nggak rapi membuat saya akhirnya kembali dan membetulkannya.

2. Sudah mengunci kamar kos dan teringat ada buku yang masih diletakkan bukan pada tempatnya. Saya pasti akan kembali lagi ke kamar cuma untuk meletakkan buku itu pada tempatnya.

3. Membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk merapikan rambut. Everything gotta be perfect. Tadi sih ditanyain sama teman, gimana kalau terlambat. Well, saya udah mikirin itu. Saya nggak pernah telat. Saya pasti akan memilih bangun lebih pagi atau mempersiapkan diri sejam sebelum pergi.Kalau merasa rambut saya nggak rapi, saya bisa berkali-kali melihat ke kaca untuk memastikan rambut saya rapi. Padahal orang-orang belum tentu merhatiin rambut saya, lho. Tapi saya ngerasa nggak enak aja kalau ada yang berantakan.

4. Kalau udah pakai baju dan melihat ada yang lecek bajunya walaupun cuma bagian yang kecil dan nggak bakal kelihatan orang, saya bakal buka baju dan memilih untuk menyetrikanya dulu sampai benar-benar rapi.

5. Pulang dari kampus, walau capek, saya akan tetap menyapu dan mengepel kamar saya setiap hari. Nah, sekarang saya udah menemukan solusinya. Saya tidur dulu baru habis bangun saya pel dan sapu kamar saya.

6. Pernah karena lihat kamar mandi kos teman bersih banget, besoknya selama seminggu penuh saya sikat kamar mandi saya setiap hari. Padahal bersihin kamar mandi adalah sesuatu yang nggak saya suka, tapi saya pengen kamar mandi saya bersih.

7. Buku-buku kuliah selalu saya susun dari yang paling besar sampai yang paling kecil. Fotokopi-fotokopi selalu saya masukkan ke amplop besar berdasarkan mata kuliahnya. Jadi nggak ada tuh yang namanya fotokopi dari jaman kuliah semester satu dulu hilang.

8. Saya nggak akan pergi keluar dan meninggalkan kamar saya dalam keadaan berantakan. Pasti dirapihin dulu dan dibalikin ke tempatnya. Saya pengen pas pulang semua dalam keadaan rapi dan bersih, jadi nyaman untuk ditidurin.

9. Catatan saya harus rapi. Jangan sampai ada yang lecek dan ada coret-coretannya.

10. Ini bukan cuma berlaku buat saya, tapi buat orang lain, lho. Saya suka gregetan lihat orang yang nggak rapi. Misalnya, rambutnya ke mana-mana dan berantakan. Pengen disisirin deh jadinya. Hehe. Saya juga suka gregetan lihat orang yang bajunya nggak pas. Duh, dia nggak ngaca dulu apa sebelum ke luar? Trus misalnya saya masuk ke mobil orang dan mobilnya kotor, pasti saya komentar, “Mobilnya belum dicuci, ya? Kok banyak debunya?”. Hahaha.. Tapi untungnya saya masih bisa menahan ini untung orang-orang yang sudah saya kenal aja. Kalau nggak bisa dipelototin saya. Hihi.

Setelah dipikir-pikir saya begini karena nyokap juga begini. Nyokap itu adalah orang yang paling bersih sedunia. Rumah saya pasti dalam keadaan rapi dan bersih. Harus dipel setiap hari dan disapu dua kali sehari. Kamar mandi dibersihkan setiap hari. Mobil dicuci tiap hari. Nyokap bisa marah kalau lihat kamar berantakan. Nyokap tahu setiap sudut yang belum dibersihkan. Ada pigura yang miring sedikit pasti dibersihkan. Nyokap juga biasanya mengomentari pakaian saya sebelum pergi. Dia memastikan saya akan memakai baju yang serasi, rapi, dan enak dilihat. Kalau rambut saya udah mulai panjang dan nggak enak bentuknya, nyokap pasti nyuruh ke salon. Kalau mau ke Gereja dan bajunya nggak enak dilihat, pasti disuruh ganti.

Dulu saya pikir nyokap tuh bawel banget, ya. Semuanya harus serba rapi. Tapi begitu saya nge-kos, saya baru sadar saya juga begitu. Saya mau semuanya rapi dan di tempatnya. Bahkan kalau diingat-ingat lagi, dari SD saya udah menyusun buku sesuai ukurannya. Ukuran paling tinggi di paling belakang, yang paling rendah di depan.

Saya hapal di mana saya meletakkan sesuatu. Jadi saya nggak susah nyarinya lagi kalau mau ngambil. Ini juga berguna karena saya agak pelupa.

Sebenarnya yang begini agak mengganggu, ya. Orang-orang sampai bingung melihat saya bisa se-rese itu sama kerapihan. Tapi buat saya semua yang rapi itu pasti enak dipandang. Saya juga berusaha untuk nggak rese untuk orang yang belum kenal dekat, kok. Tapi kalau udah kenal dekat banget sama saya, pasti sadar betapa saya pengen semuanya terletak teratur, rapi, dan bersih. Dan biasanya saya jadi rese ngingetin mereka untuk rapi: yah soal pakaianlah, soal potongan rambutlah, soal sepatulah, dll.

Tapiii, tenang saja. Saya berusaha untuk merelakan sesuatu yang berantakan asal itu bukan saya, kok. Hahaha.. Duh, ini perlu dihilangin nggak, sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s