Puncak dan PMS. Are they related?

Puncak-Pass

Baru saja pulang dari Puncak bersama teman-teman. Niatnya mau survey buat retret beberapa bulan (dan tentunya niat itu dilaksanakan, dong). Mendatangi beberapa tempat retret dan mulai mengira-ngira (dan ngareeeep banget villa yang itu bisa dibooking nantinya). But what made this trip was enjoyable  for me cuz I could escape for a moment from my daily routine.

Melihat pemandangan yang serba hijau dan udara yang sejuk rasanya priceless. Udah lama nggak ngerasain yang seperti itu. Udah lama nggak kepikiran bahwa besok harus melakukan hal-hal rutin yang akhir-akhir ini sungguh membosankan buat saya. It was priceless.

Berfoto-foto di Kota Bunga di antara paung singa, kereta api mini, rumah-rumah ala kota-kota di luar negeri dan tertawa terbahak-bahak karenanya. Lalu mendorong mobil yang mogok di Puncak (can’t stop laughing when I remember it). Makan di restoran Padang dengan kuah gulai yang sepertinya basi sampai bikin saya mules. Mengujungi sebuah tempat retret yang tanjakan dan turunannya curam banget sampai bikin sport jantung. Makan di restoran super beken Rindu Alam yang ternyata sekarang rasanya biasaaa banget. Beli susu segar di Cimory.

Tapi yang paling menyenangkan dalam seluruh jalan-jalan itu buat saya adalah ketika dalam perjalanan pulang. Waktu itu udah mulai malam. Teman-teman udah mulai capek. Jadi kami memasang lagu-lagu dari handphone dan main tebak-tebakan siapa penyanyinya. Simple but fun.

Lalu ketika yang terbangun adalah saya dan Bang Echi dan Bang Atur (saya tahu, sih, sebenarnya mereka sudah ngantuk dan capeeeeeeek banget karena mereka yang nyetir mobil sementara saya cuma duduk tenang di belakang, but I just couldn’t be quite), jadi saya bertanya beberapa hal. Pertanyaan-pertanyaan yang sering melintas di kepala saya dan biasanya selalu saya tanyakan ke teman-teman cewek, tapi saya tanyakan ke mereka. Biasanya saya menahan bertanya karena pada akhirnya orang-orang akan capek meladeni setiap pertanyaan saya yang nggak berujung. Tapi senangnya karena mereka (yang meskipun capek setengah mati) masih mau sabar meladeni saya (yang entah kenapa hari ini nggak bisa diam karena terlalu senang). Pada akhirnya, saya sendiri mendapat insight untuk tiap pertanyaan saya. Huaaaa.. senangnya. Makasiiiiiih ya, karena udah nggak bosen jawab pertanyaan saya. Terutama makasih untuk sabar dengan pertanyaan-peranyaan saya. I wanna hug you guys. =)

I wish I could stop the time and still be there. I wish I could enjoy every second like I enjoyed in there. Beginilah kalau lagi PMS, bisa sangaaaat senag dan begitu sampai di rumah bisa tiba-tiba terdiam seperti sekarang dan tiba-tiba ingin menangis karena terharu mempunyai orang-orang yang baik banget. Kadang-kadang saya mikir, do they feel the same? Do I mean something to them or was I just another friend to them? But is it important anyway cuz what matters is they mean something to me. And I keep them in my heart. (sampai baris ini tolong salahkan PMS karena membuat saya menganggap momen Puncak sebagai sesuatu yang besar. Hihihi. Tanpa mereka saya akan tetap bosan dengan rutinitas saya dan kehilangan makna hidup –> masih terpengaruh logoterapi. Hihihi).

So I pray to God for them. For every happiness (not just happiness, but the joy in their hearts) and for everything they want in life. You are Godsents.

My hug for you.

BIG LOVE.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s