My Gratitude

Hari ini saya masih menerapkan energi positif saya. Nggak mau kalah sama PMS yang melanda. Hari ini masih training kepribadian sehat dan dari 2 hari yang sudah terlewati, saya sudah merasakan manfaatnya.

Sesi pertam training pagi ini dilalui dengan biasa-biasa saja. Materinya tidak terlalu menarik, mengenai asas etos kerja. Asas etis kerja itu adalah jangan menunda-nunda, semangat, disiplin, dan tepat waktu. Sesuatu yang sudah berkali-kali saya dengar belakangan ini.

Saya pikir hari ini akan sangat membosankan, tapi ternyata tidak. Di sesi kedua, kami diminta untuk menulis surat kepada teman-teman. Isi surat itu nggak boleh kritik, tapi ucapan terima kasih kepada teman-teman itu yang suah memberikan sesuatu untuk hidup kami.

Menulis surat membuat saya menyadari bahwa saya beruntung sekali punya teman-teman ini di sekitar saya. Ternyata udah banyak yang mereka lakukan walaupun kami baru bersama selama 2 semester. Setelah selesai menulis beberapa surat untuk beberapa orang, surat-surat itu dikumpulkan dan dosen-dosen tersebut memasukkannya ke dalam amplop-amplop. Lalu amplop-amplop tersebut dibagikan kepada kami sesuai dengan tujuan surat-surat itu.

Menerima sebuah amplop yang di dalamnya berisi beberapa surat dan saya tahu isinya adalah ucapan-ucapan terima kasih kepada saya membuat saya deg-degan untuk membacanya. Pertama kali membaca saya melihatnya sekilas-kilas saja. Bukan saya tidak mau membacanya, tapi karena saya terlalu malu membaca mereka berterima kasih kepada saya. Apa yang saya lakukan kan bukan apa-apa. Tapi kemudian saya memberanikan diri membaca semuanya. Membentuk satu senyum simpul di bibir saya.

Kemudian, dosen meminta kami untuk memilih satu surat dan membacakannya. Mendengar teman-teman membacakan surat tersebut saya merasa senang. Ternyata perbuatan sederhana memberi dampak besar bagi orang lain. Beberapa di antara kami mulai menangis terharu. Saya melirik pada Andi dan kita sama-sama ketawa, “Kita anaknya nggak gampang terharu banget, ya,” kata Andi. Yeah, kami berdua nggak menangis sama sekali!

Ketika giliran Ade A. untuk membacakan suratnya, ia memilih surat yang saya tulis untuknya. Suaranya mulai tercekat dan matanya berkaca-kaca. Melihat ia berkaca-kaca membuat saya ikutan berkaca-kaca juga. Padahal saya pikir sampai akhir sesi ini saya nggak akan menangis. Tapi ternyata saya menangis lagi. Saya menangis terharu melihat teman saya, Ade, yang ternyata tersentuh dengan surat yang saya bacakan. Sebuah surat sederhana yang saya tulis karena ia membantu membuat saya mandiri dan mendorong saya untuk rajin belajar dan menemani saya setiap makan malam walaupun ia sendiri sedang tidak makan malam. Simple, but it means a lot to me.

Tiba saatnya saya membacakan surat yang telah dikirim seorang teman buat saya. Saya pilih surat dari Neng Melvi. Sebelum membaca surat itu, saya ceritakan kenapa saya memilih surat itu. Suara saya mulai tercekat dan air mata saya mulai mengalir. Saya menarik napas panjang untuk menahan air mata itu jatuh, tapi tetap nggak bisa. Lalu saya menoleh pada Andi dan berkata, “Di, kok gue jadi ikutan nangis, ya?”.

Membaca surat yang berisi ucapan terima kasih dari seorang teman dekat, lalu harus membacakannya di depan orangnya membuat saya sadar betapa berharganya orang itu. Betapa perasaan bahagia itu terlalu mendesak dalam dada saya, sampai saya nggak tahu bagaimana harus mengeluarkannya kecuali dengan menangis.

Ada beberapa surat yang saya terima dan akan saya perlihatkan di sini:

1. Neng Melvi.

Dear Naomi,

Naomi yang gue lihat awalnya jutek. Trus beralih menjadi anak yang sangat kekanak-kanakan dan ABG lebih tepatnya. Tapi bersyukur juga, sih, berkat lo nunggu Debi jadi nggak kerasa lama dan berkat lo juga gue jadi disangka satu angkatan ama lo alias awet muda. Hihihihi. Senangnya…

Hm, tapi akhir-akhir ini lebih senang lagi lo ternyata berkembang menjadi sangat dewasa, bahkan dibanding gue. Hm… cukup terbantu dengan kata-kata bijak lo, yang gue tahu itu ga akan ngemeng doang. Tapi lo juga lakuin, seperti sisi religius lo yang gue ga pernah tahu. Percaya tau ga, baru ini gue dapat teman yang lebih muda dari gue nyuruh gue baca Alkitab.🙂

Tapi gue lebih bersyukur lagi bisa kenal sama lo karena dari lo gue bisa belajar memaafkan dan menyingkirkan. Semoga lo ga bosen nyemangatin gue ya. Hahaha. Tenang, Mi, gue akan berusaha dan gue pasti bisa. Thanks to you.

Gimana saya nggak nangis tersedu-sedu kalau ternyata saya teman saya meng-appreciate saya lebih yang saya harapkan sendiri. Cup cup muaach buat Melvi.

2. Simuk

To Naomi,

Mi, sebenarnya gue dari semester 1 merasa bahwa gue sama lo paling jarang interaksi. Gue sempat merasa ada yang kurang dari diri gue. But, now, after mengenal lo.. WAW!! Ternyata anaknya model abes, penyanyi, idola, jauh dari yang gue bayangin. Makasih udah mengembalikan spirit “gaul 4ever” gue. Hahaha! Makasih juga sharing-sharingnya, Mi.

Setelah baca surat ini, saya senyum-senyum geli sendiri. Spirit gaul 4ever? Hm, nggak nyangka saya punya spirit itu. Hahaha. Makasih ya, Muk.

3. Wita

Buat Naomi…

Naomi… lo tempat curhat gue satu-satunya yang mendengarkan curhat lengkap gue. Gue ngerasa nyaman cerita sama lo. Lo ga ngejudge gue apapun cerita gue mulai dari curhat sampah kecil sampai curhat tumpukan sampah. Haha.

Lo orang paling santai, paling mantap yang pernah gue temuin. Tapi yang paling hebat semua kerjaan lo selesai. Gue salut sama karya-karya tulis lo. Lo adalah orang yang enak diajak gila dan bergenit-genit ria.. Intinya Naomi top abis. Hahaha.

Membaca surat ini mengingatkan beberapa hari belakangan ini di mana kami berdua sedang mengalami mellow berat dan satu-satunya yang mengerti ya Wita ini. Kami adalah orang yang agak mirip. Bisa tertawa terbahak-bahak di depan, tapi di belakangnya bisa nangis meraung-raung. Makasih ya atas hari-hari penguatan dari lo, Wit.

Cukup 3 aja yang saya tulis ini. Semakin banyak menulis yang lainnya, semakin bercucuran air mata terharu nanti. Masih banyak yang lainnya, mungkin lain kali akan saya tulis lagi.

Tiga hari yang sungguh menyenangkan. Tiga hari yang membuat saya belajar untuk menjadi lebih positif dan bersyukur. Hari ini saya memang menangis, tapi menangis terharu. Saya sudah nggak tahu lagi gimana menggambarkan rasa bahagia di dada ini.

Terima kasih buat teman-teman yang hebat di samping saya. You guys are soooo great!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s