Have Faith in Myself

Hari ini saya mencoba untuk lebih positif. Setelah apa yang saya yakini pagi ini, saya nggak akan membiarkan pikiran negatif dan perasaan sedih menguasai saya hari ini. Dan beruntunglah saya karena tema training hari ini agak mirip dengan the secret.

Dibuka dengan mengisi sebuah lembar yang meminta saya untuk menceritakan mengenai kelebihan-kelebihan saya. (Kalimat-kalimat berikut ini sebagian akan bilang itu narsis, tapi dosen saya bilang, nggak perlu malu untuk mengutarakan kelebihan kita secara positif).

FISIK:

  • Saya merasa mepunyai badan yang tinggi dan berat badan yang ideal.
  • Saya mempunyai rambut keriting jadi tidak perlu lagi repot-repot mengeritingnya.

MENTAL:

  • Saya bisa menerima semua kekurangan saya (kenapa nggak say sebut kelebihan? Karena akan jauh lebih mudah menerima kelebihan).
  • Saya menerima kritik dengan baik.

SOSIAL:

  • Saya punya teman-teman yang mendukung saya.
  • Saya punya kegiatan bermakna yang saya lakukan selain di bidang akademis: freelancer, associate di lembaga psikologis, kegiatan Gereja, dan tentunya kegiatan bermain-main bersama teman.

SPIRITUAL:

  • Saya selalu beribadah ke Gereja tiap Minggu.
  • Saya berusaha ingat Dia untuk tiap hal yang saya lakukan (belum maksimal, sih, tapi saya punya hubungan yang spesial denan Dia).

Lalu pertanyaan kedua adalah hal-hal apa sajakah yang sering membuahkan pujian dari orang lain tentangmu:

  1. Bakat menulis
  2. Cara berpakaian
  3. Tekun
  4. Kerapihan
  5. Positive Thinking

Dari hal-hal yang telah disebutkan di atas, apa saja yang bisa mendukungmu menjalani karir yang sedang kamu capai saat ini:

  1. Bakat menulis: saya tahu saya punya bakat menulis. Dan yang saya lakukan adalah menulis novel dan mengirimkannya ke penerbit, menjadi penulis artikel di sebuah majalah, dan membuat blog.
  2. Cara berpakaian: saya bisa menempatkan diri memakai pakaian yang sesuai dengan situasi. Jadi kalau saya jadi psikolog, pasti saya akan memakai pakaian yang profesional.
  3. Tekun: ini pujian dari Mama. Katanya saya tekun. Dan karena tekun ini, saya bisa sabar mengerjakan sesuatu sampai selesai.
  4. Kerapihan: saya selalu mencatat dengan rapi, menyimpannya di tempat yang saya pasti tahu kalau ingin membacanya lagi, dan memasukkan semua kertas fotokopi dan catatan dalam satu amplop besar berdasarkan mata kuliahnya.
  5. Positive thinking: saya berteman dengan siapa saja, dari yang dianggap cupu, aneh, sampai yang normal-normal aja. Tapi saya paling bangga bisa berteman dengan orang aneh karena nggak ada yang mau temenan sama mereka dan saya selalu berusaha tidak memikirkan hal negatif tentang mereka. Pada akhirya mereka nggak seaneh yang orang-orang kira, kok. Malah saya bisa belajar banyak dari mereka.

Bagian ini selesai, dan beberapa orang diminta untuk sharing. Sampai seorang teman saya sharing, dia bilang kalau pada pertanyaan ketiga dia bingung apa yang sudah dia lakukan untuk mencapai karirnya karena dia nggak merasa melakukan apa-apa. Lalu akhirnya dia menyadari bahwa saat-saat ketika dia meluangkan waktu untuk mendengarkan temannya bercerita adalah salah satu usahanya untuk menjadi seorang psikolog. Waktu dengar itu, saya merasa bangga sama diri saya sendiri karena saya telah melakukan lebih dari sekedar mendengarkan orang. Saya pengen jadi penulis dan saya sudah mencoba menulis artikel di majalah, mengirimkan novel ke penerbit, dan menulis blog. Sebagai usaha menjadi psikolog, saya sudah berusaha bekerja di sebuah lembaga psikologis, mengetes banyak orang, membuat dan melakukan training, dan menjadi seorang konselor. I’ve done my efforts.

Saya jadi melihat ke belakang dan bertanya-tanya kenapa selama ini saya selalu nggak percaya diri, ya? Selalu merasa yang saya lakukan itu nggak ada apa-apanya dibanding orang lain. Tapi ternyata saya melakukan sesuatu, lho, selama ini.

Setelah itu, dosen menunjukkan sebuah gambar sebuah pohon tinggi banget dan kering, hanya ranting-ranting tanpa daun. Pohon itu berdiri tegak dan kokoh di padang rumput hijau dengan latar belakang gunung di belakangnya. Dosen itu meminta kami membut sebuah karya dengan pohon itu sebagai inspirasinya. Saya bingung juga apa yang harus bikin. Lalu teringatlah saya dengan kejadian kemarin, ketika saya sedih dan pegangan saya satu-satunya adalah Tuhan. Jadi saya membuat sebuah surat dari Tuhan yang intinya adalah: Aku membuat kamu jatuh dan terpuruk, karena Aku mau membuatmu semakin kuat dan kokoh.

Banyak yang mengira itu surat dari seorang pacar untuk pacarnya yang lagi sedih. Saya cuma tersenyum dan bilang itu surat dari Tuhan. Lagipula saya kan memang mempelai perempuan Tuhan, jadi pasti hubungannya intim, dong.๐Ÿ™‚ Oh ya, ada satu kalimat dari teman saya: Nadia Maria, waktu dia membacakan karyanya di depan kelas. Dia bilang: Apa yang menyakitimu, tapi tidak sampai membuatmu mati, pasti membuatmu menjadi lebih kuat. Yup, benar. Dan hari ini saya pasti jadi orang yang lebih kuat dari kemarin.

Sesi kedua setelah istirahat mirip-mirip konsep the secret. Sang dosen bilang, apapun yang pengen kita impikan, kita harus yakin sama impian kita. Kita harus memvisualisasikan mimpi kita sedetil-detilnya dan pasti akan terwujud persis seperti apa yang kita impikan. Lalu kami dikasih kertas dari 4 asas yang dikasih (asas keyakinan, asas memberi, asas menyingkirkan, dan asas ucapan) mana yang paling pengen dikembangkan. Saya tahu saya orang yang paling nggak yakin sedunia sama kemampuan saya. Saya sering merasa nggak bisa, merasa nggak mampu. Jadi buat saya asas itu yang paling pengen saya kembangkan.

Ada suatu ketika ketika saya merasa sangat nggak mampu. Nggak pede tepatnya. Lalu si neng Melvi yang cerita kisah saya ini untuk seisi kelas. Lalu mbak dosen bilang ke saya: Naomi, kamu pasti bisa. Dulu pertama kali saya ngajar, saya juga amburadul.Power point 20 slide saya selesaikan dalam 20 menit. Tapi setelah itu saya terus belajar dan sekarang saya bisa. Saya yakin kamu bisa, Naomi. Kamu pasti bisa, kok.

Seorang dosen yang bilang itu ke saya di depan kelas. Bikin saya senyum-senyum sendiri. Bikin saya yakin sama kemampuan saya. Bikin saya merasa nggak ada yang perlu saya risaukan.

Keluar dari kelas, perasaan saya jadi positif banget. Dan saya bertekad sampai saya tidur malam nanti, saya nggak akan bikin diri saya sedih seperti kemarin. Jadi here I am:

  • menulis blog sebagai self-therapy saya.
  • menolak mendengar lagu-lagu berirama mellow malam ini. Malam ini cuma lagu-lagu ceria yang akan jadi teman saya.
  • menulis mimpi-mimpi saya di dalam sebuah kertas dan benar-benar merincinya.
  • mengucapkan I’m happy berkali-kali dan tersenyum.
  • bernyanyi.
  • membaca Alkitab.

Dan ternyata benar. Sekarang saya sedang bahagia. Ternyata bahagia itu ada di pikiran kita, ya. Wish me luck for this.๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s