Dia Baik

Kemarin ketika saya benar-benar merasa sendirian dan dada ini rasanya sesak banget. Saya merasa harus ngomong sama seseorang. Saya nggak bisa sendirian malam ini. Saya harus mengalihkan pikiran sedih ini. Saya telepon 2 orang teman saya dan nggak ada yang mengangkat sama sekali. Aah, kemana mereka ini?

Lalu saya mencoba menghilangkan sedih ini dengan nonton 2 DVD yang saya beli tadi sore. Ya bagus, dua-duanya nggak bisa kepasang. Mencoba berkali-kali tapi tetap saja tidak bisa. Lalu saya main internet sajalah karena cuma itu yang bisa saya lakukan di tempat kos. Mulai browsing, mulai chatting, tapi yah tepat jam setengah sembilan malam internetnya mati. AAARGGGH! Ada apa ini? Kenapa semuanya nggak bisa?

Sendirian di kamar kos. Dengan internet yang mati. DVD yang nggak bisa dipasang. Teman-teman yang nggak bisa dihubungi. Tugas yang lagi nggak ada. Nggak ada yang bisa mengalihkan pikiran saya dari perasaan sedih ini. Padahal dada sudah sesak. Padahal seharian sudah ditahan-tahan. Padahal sudah berusaha kuat.

Di saat benar-benar sendirian seperti itu, saya ingat Neng Wita yang tadi sore berkunjung ke kamar saya. Dia lihat Alkitab yang tergeletak begitu saja di sudut kamar saya. Dia tanya, “Lo sering baca Alkitab ya, Mi?”

Lalu saya terdiam. Ada Alkitab di kamar saya dan bahkan saya jarang membacanya akhir-akhir ini, “Nggak.”

“Trus kenapa lo bawa Alkitabnya?”

Iya ya. Ngapain Alkitabnya saya bawa kalau untuk megang aja saya nggak mau, “Ya biar kalau lagi butuh udah ada di sana aja,” tercekatlah tenggorokan saya, “Kayak sekarang gue lagi butuh”.

Teringat percakapan tadi sore. Ada Alkitab di kamar saya. Lalu saya baca Alkitab malam itu. Saya dengerin apa yang mau Tuhan bilang buat saya. Setelah sekian lama, saya berdoa sama Tuhan. Bukan cuma sekedar doa bangun tidur, makan, atau sebelum tidur. Bukan cuma doa yang isinya laporan, “Tuhan hari ini saya bla bla bla. Berkati tidur saya. Amin!”. Tapi kali ini saya benar-benar ngobrol sama Tuhan. Benar-benar ngerasain cuma Dia tempat bergantung saya saat ini. Saya nangis malam itu. Saya keluarin semua yang nggak pernah saya bagi-bagi lagi sama Tuhan. Dan kali ini, saya nggak mau pegang-pegang masalah saya lagi. Biar Dia aja yang pegang. Biar dia aja yang utak-atik. Biar Dia yang ngurusin. Sekarang saya mau lepas apa yang memang sudah jadi bagian Tuhan.

Pagi ini saya baru sadar. Saya memang mirip keledai. Butuh dicambuk dulu baru jalan. Butuh diingetin dulu baru dengerin. Dan kalau kemarin malam ketika semua hal yang bisa ngalihin pikiran saya nggak bisa semua, sekarang saya tahu itu pekerjaan Dia. Dia pengen saya denger Dia malam itu. Dia pengen saya ngabisin malam itu bareng Dia. Dia kangen saya. Dia pengen dekat-dekat saya. Dan yang Dia bikin malam itu, bikin saya benar-benar membuat saya merasa sendirian dan nggak tahu harus ngapain lagi kecuali baca Alkitab dan ngobrol sama Dia adalah hal paling melegakan yang terjadi belakangan ini. Dia hebat, ya. Dia bisa bikin segala cara untuk bikin saya diam bersama Dia.πŸ™‚

Kalau Tuhan nggak bikin saya sedih dan jatuh dulu, saya mungkin sudah senang-senang saja saat ini. Kalau Tuhan nggak pukul saya dulu, mungkin saya akan tetap di sana dan nggak pernah ingat sama Dia. Tapi karena Tuhan sayang sama saya dan nggak mau jauh-jauh dari saya, Dia bikin saya sedih, Dia bikin saya jatuh, Dia pukul saya, supaya saya ingat Dia lagi, supaya saya datang dan duduk di kakiNya lagi.

Dan Tuhan nggak berhenti bicara sampai pagi ini. Barusan saya baca note seorang teman di Facebook tentang betapa kita harus melalui proses yang nyakitin dulu sebelum Tuhan membentuk kita menjadi baik. Note pertama yang bikin senyum pagi ini. Saya tahu Tuhan lagi ngomong buat saya melalui teman saya ini. Seperti merasakan Tuhan sedang mengelus-elus rambut saya dan bilang, “Sabar ya, Naomi. Mungkin kamu akan merasakan sakit, tapi semua ada waktunya. Ada waktunya kamu akan tersenyum melihat semua itu di belakang. Yang paling penting, Aku pasti di sini sama kamu”.

Tanpa sengaja juga pagi ini, ada lagu yang tidak sengaja terputar di laptop saya.

Ku tahu Bapa peliharaku.

Dia baik. Dia baik.

Ku yakin Dia selalu sertaku.

Dia baik bagiku.

Lewat badai cobaan.

Semuanya mendatangkan kebaikan.

Ku tahu Bapa peliharaku.

Dia baik bagiku.

Β 

I’m lucky to have you here beside me, Lord. Thank You for hugging me last night. I love You more than anything.πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s