Saya (Tidak) Memilih Untuk Bahagia

Tuhan tahu kalau saya lagi terpuruk (yeah, blame that PMS!), dan di saat itulah kebetulan banget kuliah saya lagi off dan yang ada hanyalah training 3 hari tentang “Kepribadian Sehat”. Cukup melegakan, karena saya nggak tahu apa saya bisa bereaksi positif di saat-saat seperti ini.

Salah satu topik yang dibahas hari itu adalah tentang kebahagiaan. Kalau kamu tanya saya apa saya sedang bahagia saat ini. Saya akan cepat menggeleng kepala dan bilang nggak. Saya sedang remuk redam. Saya sedang nggak punya pegangan. Dan kalau kamu menyenggol saya sedikit saja saat ini, saya pasti akan mudah terjatuh.

Tapi kalau kamu berharap kamu akan melihat saya menangis termehek-mehek dan memperlihatkan muka bete, maka pasti kamu nggak akan mendapatkannya. Saya yang kamu lihat adalah saya yang sedang tertawa cengengesan dan mengeluarkan kata-kata konyol. Saya yang kamu lihat adalah saya yang bertingkah laku as everything is fine.

Lalu dosen saya menyuruh saya dan teman-teman untuk berkelompok. Di dalam kelompok kami disuruh menceritakan pengalaman bahagia. Dan saya mulai mengeluarkan memori-memori bahagia itu dari kepala saya. Menjalarlah perasaan itu. Perasaan kangen akan masa-masa itu. Mendengar teman-teman menceritakan pengalaman mereka membuat saya ikut senang juga. Kemudian dosen saya berkata, “Manusia itu memilih untuk menjadi bahagia atau tidak bahagia“. Ah, damn! Saya sedang memilih untuk menjadi tidak bahagia saat ini. Saya memilih untuk terus-menerus bersedih. Saya nggak tahu kenapa ketika harus berada sendirian lagi di kamar kos, rasa sedih itu kembali menusuk. Saya memilih untuk terpuruk saat ini. Melihat phonebook, siapa yang bisa saya hubungi, tapi kemudian meletakkannya lagi karena kalaupun saya menghubungi seseorang saya nggak ngerti harus cerita apa.

Saya ingin bahagia. Saya mau memilih untuk bahagia.

Dan kalau kamu pikir untuk bikin saya bahagia itu susah. Nope, you’re wrong. Misalnya saja tadi dosen menanyakan apa yang membuatmu merasa sukses. Lalu teman-teman menjawab, kalau sudah punya harta banyak, semua berkecukupan, semua terpenuhi, pekerjaan yang bagus, dan lain sebagainya. Buat saya sukses itu kalau kalau saya bisa bersyukur untuk apapun yang saya alami dan membuat orang-orang di sekitar saya bahagia cuma dengan kehadiran saya. Dan saya belum sampai tahap itu.

Tapi saya bersyukur untuk hari ini karena saya tahu tangan Tuhan sedang bekerja untuk membahagiakan saya. Makanya dia menempatkan saya dalam training ini dan mendapatkan makna di dalamnya. Dan memang cuma Dia yang bisa mengerti saya seutuhnya.

2 thoughts on “Saya (Tidak) Memilih Untuk Bahagia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s