Sahabat Yang Terikat Kakinya

”Teman atau sahabat adalah seseorang yang cocok dan dapat menikmati sebuah atau beberapa minat yang sama. Teman adalah seseorang yang mendukung Anda bilamana diperlukan.

Menjadi teman memungkinkan seseorang bebas memilih dan terbang ke sana-kemari dan menemukan pengalaman baru. Bersahabat merupakan bentuk pertemanan yang lebih dalam dengan memiliki makna sebuah ikatan yang bila persahabatan itu tidak sehat, acapkali membuat Anda tak bisa terbang. Kalaupun bisa terbang, terbangnya tak bisa tinggi karena satu kakinya terikat. Dan itu akan menyengsarakan kedua pihak. Yang mau terbang dan yang mau mengikat kaki yang terbang.

Semua di dunia ini tak ada yang abadi. Kunci untuk menerima semua yang tak abadi itu adalah dengan kata acceptance. Anda mau menerima bila teman Anda terbang tinggi, menerima bila teman Anda ingin berteman di tempat lain, menerima bila keluarga Anda sering khawatir soal ini, soal itu.”
[diambil dari Kompas Minggu, 01 Oktober 2006 berjudul ”Menjadi Teman?” oleh Samuel Mulia.]

Artikel singkat yang saya baca minggu pagi itu membuat saya termenung dan berpikir. Menurut artikel tersebut, mempunyai sahabat berarti membiarkan diri kita tidak bebas lagi, merelakan kaki untuk diikat dan tak bisa pergi jauh.

Samuel Mulia bisa menemukan asosiasi persahabatan yang menurut saya tepat. Ketika kita mempunyai sahabat, semua hal yang terjadi menjadi lebih rumit dan tidak bisa semudah ketika ia hanya menjadi teman.

Saya pernah menjadi orang yang mengikat kaki sahabat saya supaya tidak terbang jauh. Ketika ia mempunyai sahabat atau kesenangan lain, hati saya menjadi uring-uringan dan merasa tertinggalkan. Tapi saya diam dan tak mengatakannya pada sahabat saya.

Lalu suatu hari seorang teman saya yang lain tak sengaja meminjam buku catatan sekolah saya, padahal di dalamnya ada curhatan saya mengenai sahabat saya itu. Teman saya membaca kertas itu.

Catatan itu dikembalikan pada saya. Saya tidak pernah membuka-bukanya kembali. Lalu setelah lama saya memeriksa catatan saya itu dan mendapati bahwa teman saya menulis sesuatu untuk saya.

Tulisannya mengenai sahabat saya itu.

Saya ragu-ragu untuk membacanya. Saya malas atau mungkin takut untuk mendapati bahwa teman saya itu tahu saya cemburu pada sahabat saya. Saya menutup kembali catatan saya.

Setelah beberapa lama saya mulai tidak tahan untuk membaca tulisan itu. Saya memberanikan diri untuk membacanya. Saya membiarkan melihat diri saya sepenuhnya melalui sudut pandang orang lain. Jujur, saya takut. Saya cuma pengen tahu bahwa saya yang benar, bukan sahabat saya yang bersenang-senang dan meninggalkan saya itu.

Saya membaca tulisan teman itu dengan hati yang deg-degan. Setelah selesai membacanya, saya baca sekali lagi, berulang-ulang sampai saya mengerti apa yang ia maksud.

Saya terdiam. Teman saya bilang sahabat saya tidak berubah, dia hanya sedang menambah kesenangan barunya saja. Saya saja yang merasa seperti itu karena saya cemburu dia bisa punya kesenangan baru sementara saya tetap seperti ini. Kesenangan saya cuma sahabat saya itu. Lalu teman saya berkata, terima saja bahwa sekarang dia punya kesenangan barunya.

Menerima dia dengan kesenangan barunya sementara saya dibiarkan sendiri?

Enak saja!

Saya tidak mau, saya tetap membandel.

Tapi kemudian hati kecil berkata bahwa apa yang dikatakan teman saya tersebut benar. Saya sedang membuat kaki teman saya terikat, saya sedang membuat teman saya tak bisa terbang bebas, saya sedang membatasi begitu banyak pilihan yang bisa sahabat saya ambil.

Cuma karena saya cemburu, cuma karena saya mau kaki kami tetap terikat, cuma karena saya punya pandangan idealis bahwa sahabat seharusnya menghabiskan waktunya bersama-sama dan melakukan apapun bersama-sama, cuma karena saya takut untuk menjadi sendiri, cuma karena saya tak mau dia bisa bersenang-senang dengan orang lain tanpa saya, cuma karena saya egois, dan cuma karena saya tidak bisa menerima semua hal itu.

Sejak itu saya mulai merubah pikiran saya. Saya mau membebaskan dia. Saya mau dia bisa terbang setinggi-tingginya. Saya mau dia punya banyak kesenangan, bukan hanya saya. Saya mau menerima bahwa saat itulah saya mungkin harus belajar sendiri, mencari kesenangan saya sendiri. Tidak mudah memang, tapi saya berusaha menerima keadaan yang seperti itu.

Ajaib! Setelah saya bisa menerima semua hal tersebut, saya bisa melihat dari sudut pandang yang baru, perasaan saya menjadi jauh lebih ringan dan tidak mempunyai beban lagi.

Suatu hari sahabat saya lewat di depan saya dan menyapa saya dengan kalimat yang sederhana, ”Hai, Mi”. Saya tersenyum lebar dan menyadari bahwa sahabat saya masih ada di samping saya. Dia cuma sedang berpetualang sebentar lalu kemudian dia kembali dan membagikan cerita mengenai petualangannya. Dia tak pernah berniat untuk meninggalkan saya.

Saya bersyukur bahwa saat itu teman saya mengajari untuk bisa menerima keadaan yang tidak saya suka dan melihatnya dari sudut pandang yang baru. Saya ingin menjadikan sahabat saya sebagai mahkluk yang bebas terbang kemana pun dia mau, dengan atau tanpa saya. Karena saya tahu tanpa kaki yang terikat pun dia akan kembali pada saya dan menceritakan petualangan-petualangan hebatnya.

Sekarang saya mempunyai pengertian baru mengenai sahabat. Sahabat adalah orang yang mau membebaskan sahabatnya dan membiarkannya terbang setinggi apapun yang dia mau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s