I Used To Be Betty

Dulu, sepupu saya (OK, kita sebut nama aja. Si Andre), sering memanggil saya Betty. Betty yang dimaksud di sini adalah Betty di telenovela Betty La Fea yang bekennya seantero jagad itu. Ciri-ciri Betty adalah cewek kuper dengan pakaian ketinggalan jaman 10 tahun, rambut keriting, gigi berkawat, dan kacamata tebal. Oh ya, ketawanya juga nggak banget. Ngikik nggak jelas yang bikin dia makin kelihatan aneh.

Begini tampilannya si Betty versi Amerika Latin:

 

Kenapa saya dibilang mirip Betty? Begini. Dulu waktu SD, saya paling anti sama yang namanya salon. Mau dipaksa kayak apapun, saya pasti akan menolak ke salon. Saya pengen punya rambut panjang karena semua princess di dongeng itu rambutnya panjang. Masalahnya, saya nggak nyadar waktu itu kalau rambut saya keriting banget (yeah, sedikit lebih baik daripada kribo, deh). Udah keriting, paling males lagi kalau disuruh sisiran. Jadi dulu itu, tiap pergi ke sekolah pasti rambutnya diikat dan dibiarkan seperti itu terus, tanpa perlu disisir lagi sorenya. Males, soalnya rambutnya kasar dan susah diatur. Mendingan diikat, trus cukup disisir sekali sehari.

Nah, waktu kelas 1 SMP, nyokap sepertinya udah nggak tahan sama rambut nggak beraturan saya. Dia berhasil membujuk saya untuk ke salon dan membentuk rambut saya. Rambut saya jadi lumayan. Lumayan gampang diatur. Lumayan jadi fresh. Dan untuk pertama kalinya, saya pede pergi ke sekolah dengan rambut dilepas, tanpa diikat. Walaupun masih bermasalah dengan keriting, tapi udah nggak separah yang dulu.

Selain bermasalah dengan rambut, saya juga bermasalah dengan mata saya. Pertama kali pakai kacamata kelas 6 SD. Maluuu banget pake kacamata waktu itu. Kan, kelihatannya kayak kutu buku gitu. Akhirnya walaupun mata rabun nggak bisa lihat papan tulis, saya maksa buat nggak pake kacamata. Yang akhirnya, ketika cek ke dokter mata, minus saya langsung naik drastis. Selamat! Saya terpaksa harus pake kacamata setiap hari, daripada mata saya buta.

Jadi sampai sini udah kebayang, kan? Rambut keriting dan pakai kacamata. (Sedikit) mirip Betty.

Lalu, waktu kelas 3 SMP, entah kenapa saya merasa udara Jakarta panas banget dan bikin gerah. Lalu saya yang waktu itu mulai akrab dengan dunia salon, memutuskan untuk memendekkan rambut. Hasilnya OK. Rambut saya jadi sebatas bahu. Kelihatan fresh. Tapi dasar dodol, saya keenakan. Nggak sampe sebulan kemudian, saya ke salon lagi dan bilang: “Mas, potong rambut pendek”. Maksud saya, sih, rambutnya dipendekin sedikit lagi supaya bentuknya kembali seperti semula, jadi lebih rapi. Tapi ternyata kata potong pendek itu artinya benar-benar pendek, kayak cowok. OH MY GOD! Rambut macam apa ini!

Terpaksalah, masuk dunia SMA dengan gaya rambut cowok akibat salah potong dan kacamataan. Yeah, niat jadi kelihatan oke, malah kelihatan cupu. Huhu! Ketika kelas 2 SMA, rambut mulai memanjang tanggung sebatas bahu. Susah banget diaturnya. Akhirnya tiap hari memutuskan untuk mengikat rambut saja. Cuma kadang-kadang aja dilepas, kalau nggak ke sekolah. Merasa cantikan dikit. Hihihihi.

Lalu hebohlah jamannya bonding waktu itu gara-gara film Meteor Garden yang semua tokoh ceweknya rambutnya lurus kayak jalan tol. Sebagai si cewek rambut keriting yang rambutnya susah diatur, tergiurlah saya untuk meluruskan rambut saya a.k.a dibonding. Perjuangan di salon selama 4 jam lebih terbayar sudah dengan rambut lurus. Wow, rasanya menyenangkan. Rambut gampang diatur, ga awut-awutan. Waktu itu saya pikir saya sudah terbebas dari bad hair day seumur hidup. Ternyata saya salah! Rambut lurus pun mengalami bad hair day. Plain, kaku, dan terlalu membosankan. Tapi pilihan paling menyenangkan buat saya waktu itu ya cuma bonding.

Kelas 3 SMA, rambut udah dibonding. Sekarang kacamata mau ganti juga. Ceritanya mau kelihatan keren gitu, jadi ganti kacamata dengan frame tebal yang waktu itu lagi in. Saya pikir saya keren. Yang ada jadi makin mirip Betty! Apalagi jaman-jamannya bondingan itu udah mulai rusak. Ancuuur!

Tapi eksperimen saya nggak berhenti sampai di situ. Jera dengan rambut dibonding, akhirnya saya membiarkan rambut saya tumbuh normal kembali. Dengan rambut bergelombang. Nggak keriting lagi, lho, karena ternyata dengan potongan rambut yang tepat rambut saya bisa nggak terlalu keriting. Tapi kemudian saya bosan dengan rambut saya dan mencatnya dengan warna burgundy. Berkali-kali. Sampai rambut saya pengen teriak karena dirusak mulu. Pengen gaya, tapi nggak mau ngerawat dan malas ke salon. Jadilah rambut saya kering dan pecah-pecah, merah kayak dibakar matahari. Nggak ada bagus-bagusnya.

Tobat. Tobat! Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke rambut asal saya. Bergelombang dan hitam. Ternyata model rambut bikinan Tuhan itu emang yang paling sempurna buat saya. Oh ya, ditambah saya melepas kacamata dan memakai soft lense. Ya, jadilah saya yang sekarang. Yang udah nggak Betty lagi. Yang sudah tahu apa yang bagus buat saya. Yang mulai belajar berpakaian yang bagus. Yang mulai rajin mengunjungi salon.

I used to be Betty, but I’m not now. =)

Naomi, the-not-Betty-anymore

Naomi, the-not-Betty-anymore

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s