Akibat Mrs Killer

Today was Mrs Killer time. Sudah menyiapkan hati, jiwa, dan, fisik (*lebay*), sampai tidur 9 jam segala, lho. Niatnya, sih, supaya energinya cukup kuat untuk menghadapi dosen killer yang satu itu. Soalnya dia biasanya suka mendera energi sampai ke titik nol (hiperbola, banget! haha). Oh ya, bahkan hari ini sudah memakai atasan dan bawahan hitam sebagai tanda bahwa hari ini akan menjalani hari yang kelam.

Hari ini Mrs Killer lagi sakit. Katanya dia harusnya ada di rumah sakit karena typhus. Tapi nggak ada yang simpati. Mungkin agak sedikit berlega hati karena dia jadi nggak bisa sekejam biasanya. Dia cuma bisa duduk di meja dosen dengan suara yang pelan. Hm, kasihan juga, sih. Tapi cukup membantu hari ini jadi nggak sekelam biasanya.

Lalu kami disuruh mengerjakan tes berpasang-pasangan. Wita jadi tester, sementara saya jadi testee. Wita tiba-tiba panik, mungkin karena harus ngetes di depan Mrs Killer. Dia tiba-tiba jadi blank dan salah mengerjakan waktu. Dia menyuruh saya stop dan mengulang lagi. Mukanya jadi tegang. Berkali-kali minta maaf pada saya karena dia ceroboh. Padahal buat saya nggak papa. Namanya juga belajar, jadi salah ya wajar aja. Tapi dia tetap merasa bersalah dan hampir nangis. Dia ngerasa dia nggak bisa. Berkali-kali bilang, “Anjriiiiiit! Gue nggak bisa!”. Berkali-kali juga dia salah menghitung waktu skoring. Paniknya masih kelihatan. Wita yang biasanya kelihatan tegar, kelihatan berani, ternyata bertekuk lutut di depan Mrs Killer.  

Jadi,bisa dipahami, kan, betapa Mrs Killer membawa dampak besar dan kesuraman luar biasa.

Saya berusaha menjaga emosi tetap stabil. Jangan sampai tiba-tiba bete, jangan sampai mood saya membuat saya sensi kayak minggu-minggu bersama Mrs Killer waktu itu. Orang-orang di sekitar saya jadi kena getahnya. Dimarahin, dibetein, dan dikeselin sama saya.

Di saat saya berusaha menjaga mood, lalu seorang teman mengirim sms mengenai sebuah acara untuk seseorang. Karena saya nggak kenal orang yang dimaksud dan masih nggak ngerti itu acara untuk apa, jadi saya sms balik nanyain hal-hal tadi. Lalu dia jelasin, ditambah dengan kata-kata, “Naomi, kamu kayak nasabahku aja yang manja dan minta diservis =)”.

Terdiam. Membaca kembali kata-kata itu. Mencerna maksudnya.

Di saat udara panas, sudah berusaha menahan emosi sepanjang hari, lalu tiba-tiba di-sms seperti itu. Gimana coba perasaannya. Yup, saya marah. Siaaaal! Saya cuma tanya balik, lho, acara itu untuk siapa, buat apa, dan katanya saya manja dan selalu minta diservis.

OK, enough!

Lalu saya membiarkan dia tahu saya marah. Dia menelepon saya, tapi karena waktu itu di kelas dengan si Mrs Killer jadi nggak saya angkat. Dia juga mengsms saya. Dia bilang kata-katanya nggak seperti yang saya maksud.

Saya butuh waktu untuk meredam emosi ini. Jangan sampai marah berlebihan dan mengucapkan kata-kata nyelekit. Jangan sampai saya sensi. Karena itu, saya tidak membalas sms itu dulu. Tapi setelah emosi reda, saya membalasnya. Dan ya sudahlah, cuma begitu aja. Ga worth it untuk kesal-kesalan juga, kan..

Fiuh, Mrs Killer ini emang selalu bikin sesuatu jadi semakin kelam. Hahahaha.

PS: Mrs Killer, hope you’ll get well soon.

2 thoughts on “Akibat Mrs Killer

    • hahahaha.. yah ketebak. mungkin karena baru ketemu dia jadi ngerasanya killer banget ya. tapi 2 hari ini ngerasa dia ga sekejam pas Ro kemarin2. udah mulai terbiasa sepertinya. dan dia ketawa hari ini. takjub jadinya. =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s