Care Too Much

Pagi ini lagi ngobrol-ngobrol ama Neng Wita. Ngobrolin tentang note di Facebook yang saya buat kemarin. Note itu isinya tentang rokok. Saya bilang ke Neng Wita kalau saya sebel banget sama seseorang yang hari itu bikin saya kecewa karena ternyata dia merokok. Neng Wita yang adalah perokok nanya ke saya, kenapa saya sebegitu sebelnya sama orang yang merokok. Lalu saya jawab, ah nggak kok. Saya nggak sebel sama orang yang merokok. Buktinya saya bisa santai duduk dekat Neng Wita tiap hari saat dia merokok. Tapi saya memang sewot sama beberapa orang yang merokok, dan saya memang nggak suka baunya.

Lalu dia tanya kenapa ada orang-orang yang bisa bikin saya sewot, tapi ada orang-orang yang bisa saya terima.

Saya terdiam. Ada berapa banyak orang yang saya sewotin. Sebenernya cuma dikit. Bisa dihitung pake jari-jari di satu tangan. Tapi kenapa saya sampai sewot ke mereka?

Cuz I do care of them. I want to see them fine. I want to see them happy. I want them to be alright. I want to make sure that I’ll stay with them as long as it takes.

Kelihatannya saya jadi cerewet. Kelihatannya saya jadi nyebelin. Kelihatannya jadi rese. Tapi yah karena itu tadi, I just care too much

Nggak banyak, sih, yang bisa ngerti ini. Apalagi kalau ini ‘cuma’  soal rokok, yang menurut banyak orang hal biasalah sekarang ini. Apalagi kalau buat cowok, ya. Dan saya bisa ngerti kenakalan remaja jaman sekarang. Bisa ngerti bandel-bandelnya anak-anak sekarang gimana. Tapi buat orang-orang tertentu, saya menaruh ekspektasi tinggi, bahwa mereka nggak akan ikut-ikutan.

You know why? Cuz they’re just too cool to follow the others. Cuz they’re meant to be one of a kind. Haha. Pede? Ya iyalah. Cuz I believe in them. And I know them all of my life.

Jadiiii, ini bukan tentang betapa saya benci orang-orang yang merokok. Bukan tentang saya anti-rokok. Bukan tentang saya nggak bisa paham orang-orang yang merokok. Nop. Bukan tentang itu. Ini tentang betapa saya care sama orang-orang yang saya sayang. Dan nggak pengen mereka kenapa-kenapa. Dan ketika saya masih menaruh ekspektasi yang tinggi ke mereka, itu berarti saya sangat sayang mereka. Kalau sudah tidak lagi, berarti entah rasa care saya berkurang, entah saya mulai putus asa, entah saya sudah nggak mau tahu lagi.

Still pray for them and haven’t given up.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s