.Stefany.

stefany and me

stefany and me

Udah lama nggak ketemu dengan teman yang satu ini. Dia salah satu orang yang entah kenapa selalu dipertemukan dengan saya. Bisa tiba-tiba ketemu di jalan. Bisa tiba-tiba ketemu di lift. Bisa tiba-tiba ketemu di mall. Bisa tiba-tiba ketemu di gereja. Bisa tiba-tiba satu jurusan pas kuliah, pakai satu kelas pula. Dan berakhir sering sekali satu kelompok tugas. Selalu saja ada yang mempertemukan kami.

Saya dan dia adalah dua orang yang berbeda. Beda sifat, beda kesukaan, beda teman sepermainan. Beda semuanya. Dia nggak suka beraktivitas di dunia maya, saya suka (dan betapa kagetnya saya pas tahu dia akhirnya bikin Facebok juga). Tapi dia yang paling tahu saya gimana. Paling bisa ngerti keanehan saya. Walaupun saya kadang-kadang nggak bisa ngerti jalan pikiran dia. Haha.

Nah, yang paling membekas di ingatan saya, dia tuh orang paling sering ngeluh sedunia. Semua dikeluhin, sampai nggak tau apa lagi yang belum dikeluhin sama dia. Selalu ada aja yang salah di mata dia. Aneh.

Nah, saya dan dia udah lama nggak ketemu setelah lulus kuliah. Dia sibuk kerja, saya sibuk kuliah. Lalu saya teringat saya pernah bikin di note di Facebook tentang tebak-tebak sifat saya. Dia orang yang paling bisa menebak sifat saya cuma dengan satu kalimat singkat. Sedangkan orang lain berusaha menjabarkan saya dengan panjang.

Kemarin, jam 1 pagi dini hari, nggak sengaja kami chat di Facebook. Ketika lagi ngobrol ngalor ngidul gitu, tiba-tiba dia bilang, “Stop complaining, say”. Cukup membuat saya terkejut. Dia ternyata memperhatikan status madesu saya akhir-akhir ini. Dan dia melajutkan, “You would hurt God wit your heart if you complained. Nggak ada yang berubah kan kalau lo mengeluh. Lagian masalah itu bikin lo tambah dewasa“. Saya terdiam. Merasa tertampar. Saya memaklumi kalau kalimat itu diucapkan orang lain. Tapi ini dari dia. Dari orang yang suka mengeluh. Dari orang yang saya tahu sudah berubah banyak dan bertumbuh pesat.

Buat saya, dia hadiah dari Tuhan. Dia nggak selalu ada. Nggak selalu jadi orang yang bikin saya pengen ketemu mulu. Tapi dia selalu muncul secara kebetulan. Tepat waktunya. Buat saya, dia selalu jadi perpanjangan tangan Tuhan. Yang selalu ngingetin saya, ketika saya sudah mulai mencapai titik yang tidak baik. Karena ada dia, saya jadi percaya kalau Tuhan memang selalu berusaha mengingatkan kita ketika kita mulai menjauh, melalu orang-orang tak terduga.

Stefany, thanks for being God’s hands for me. Love you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s