.Saya (Ternyata) Nggak Seaneh Itu, Lho.

Akhirnya diinterpretasi juga. Mana kelompok pertama pula yang menginterpretasi saya. Wah, makin deg-degan.

So, here’s the interpretation from them:

X (which is me) memiliki keinginan dan usaha untuk menjadi seorang pribadi yang independent. Akan tetapi hal tersebut terhambat karena X masih memiliki ketergantgan pada keluarga disertai dengan kecemasan-kecemasan yang ia miliki. X memiliki keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain. Di satu sisi ia menampilkan keterbukaan dalam berinteraksi. Di sisi lain ia memiliki sifat kekanak-kanakan.

Ada keinginan X untuk mengontrol lingkungannya dalam hal berperan dalam lingkungan), bukan hanya untk dikontrol oleh lingkungan. Karena ia memiliki perasaan inadequacy maka ia mengalihkan ‘desire’-nya dan menggunakan fantasy. Hal ini mengakibatkan ia merasa terperangkap akibat otoritas lingkungan (ayah dan ibu).

Sampai sini aja, saya sudah merasa ditelanjangi. Gila ya, gambar saya bisa menggambarkan konflik-konflik ini sebegitunya. Dan, ya sudah jelas kan kalau saya childish dan suka ngayal. Tapi saya sedang berusaha menjadi independent, lho.

Nah, lalu dosen saya menambahkan interpretasi ini:

  • Saya berusaha menyelesaikan masalah dengan cukup taktis. Kalau emang perlu dipusingin, maka saya akan pusingin, tapi kalau nggak ya nggak perlu dipusingin.
  • Santai dalam menghadapi masalah.
  • Let it flow.
  • Membuat dirinya berada dalam rasa aman –> maybe that’s why I always stay in my comfort zone.
  • Lebih dekat dengan ibu, namun bukan berarti tidak dekat dengan ayah. Cuma lebih banyak bercerita dengan ibu.
  • Terkontrol dengan figur-figur afeksi tapi dalam hal yang positif.
  • Orangnya terbuka –> tidak over, emosinya proper. Misalnya, kalau harus nangis ya nangis. Cuma nangisnya nggak di depan semua orang, tapi cukup di depan orang terdekat aja.
  • Moody –> tapi terkontrol dan tidak akan sampai mengganggu performance. Misalnya, kalau lagi nggak mood nggak sampai bikin orang lain merasa bete juga.
  • Peka terhadap lingkungan.

Nah, di sini lebih jelas lagi. Lalu saya seperti melihat perubahan yang ada dalam diri saya. Beberapa tahun lalu, saya ini orangnya introvert banget. Mana mau saya cerita soal apapun mengenai hidup saya. Tapi kalau sekarang, sedikit demi sedikit saya mulai bisa berbagi cerita dengan teman-teman mengenai hidup saya. Dulu saya merasa seseorang yang akan lebih diam dan tidak berusaha memulai pembicaraan, apalagi dengan orang yang nggak dikenal. Tapi sekarang, saya memang masih lebih memilih untuk tidak mulai pembicaraan duluan, tapi saya sudah lebih bisa berinteraksi dengan orang-orang baru. Dulu saya kaku, sekarang lebih fleksibel. Makasiiih buat orang-orang di sekitar saya yang berjasa besar meng-upgrade kepribadian saya.🙂

Oh ya, udah jelas juga kan kalau saya termasuk orang yang hanya mau musingin hal-hal yang penting aja? Jadiiiii, kalau kelihatannya saya cuek dan nggak mau musingin kata-kata orang yang rese, sok tahu, dan segala macamnya, yah karena memang saya nggak peduli dan merasa itu bukan hal yang penting untuk dipikirin. Saya tahu kapan harus tutup dan buka kuping saya. Kalau ada yang nganggep itu cuek, well terserahlah.. Hehe.

Kalau ada yang ngira saya nggak punya masalah dalam hidup dan kelihatannya semua lancar-lancar aja, happy all the time, itu bisa dilihat juga dari kata-kata di atas yang bilang: santai dalam menghadapi masalah. Jadi bukan nggak punya masalah, cuma selalu berusaha untuk tidak membuatnya berat. Dan nggak perlu semua orang tahu seberapa beratnya masalah saya juga, kan?

Jelas juga kalau saya selaluberada dalam comfort zone, karena saya selalu ingin merasa aman. Hey, tapi saya sedang berusaha sedikit demi sedikit keluar dari comfort zone ini kan? Hehe.

Lalu saya memang moody. Udah jelas banget tuh. Ada orang yang lagi nggak mood, saya bisa ketularan. Tapi membiarkan suasana sekitar jadi nggak mood juga, itu jelas bukan saya. Hm, saya masih jago menutup-nutupi mood saya. Dan itu artinya, saya gampang banget dibuat senang. Just do something small and nice for me, and I’ll be soooo happy.

Ternyata saya nggak segitu anehnya, kan? Hihihi. Dan yang lebih penting, baru menyadari bahwa untung saya diinterpretasi. Akhirnya saya bisa melihat diri saya seperti apa dan ngerti bahwa ternyata saya bikin progres yang cukup baik selama beberapa tahun belakangan ini. Yippy!

Terapi berobat jalan saya ternyata ampuh. Hihihihi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s