.Failure.

I study psychology. Seharusnya saya tahu tentang perilaku manusia dan kerumitannya. Saya tahu teorinya dan seharusnya bisa mengaplikasikannya ke kehidupan nyata. Tapi sekarang saya malah ngerasa gagal waktu menghadapi keponakan saya yang berusia 8 tahun.

Dia tinggal di rumah saya selama setahun. Dengan kerumitan latar belakangnya (well, i dont’t need to say more), saya berusaha menerapkan semua ke-psikologi-an saya. Berusaha memahami ketika dia nakal, ga sopan, ga teratur, dll. Menghukum tanpa harus pakai kekerasan fisik. Memberi reward ketika dia berbuat positif. Semua sudah saya terapkan. Berusaha ngajak belajar, mengecek semua PRnya, menyuruhnya menyusun buku. Capek sebenernya.

Nah, sebulanan ini saya memang kurang ngasih perhatian ke dia karena saya mulai ngekos dan pulang weekend doang. Dia bilang, dia udah rajin mengerjakan PRnya tanpa perlu disuruh-suruh lagi. Ketika saya tanya mana buku agendanya, dia bilang di sekolah. Dikumpul ke gurunya. Nah, saya kan bingung, bukannya agenda itu harusnya dibawa pulang ya. Tapi yah, saya percaya aja.

Baru tadi dapat catatan di buku agendanya: she’s left behind.

Gila, keponakan saya, yang jelas-jelas tumbuh di antara (calon) psikolog hasilnya begini. I’m dissapointed. More to myself than to her. This is my failure. Dan saya sedang berusaha memutar otak gimana caranya supaya keponakan saya ini bisa lebih termotivasi lagi untuk belajar.

Anyone can help?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s