.(Jangan) Tebak Saya.

Setelah melakukan polling kecil-kecilan di Facebook mengenai siapa yang bisa menebak sifat saya, ternyata hasilnya mengejutkan, lho. Ada pernyataan yang kontradiktif; yang satu bilang saya orangnya simple, tapi yang satu lagi bilang saya orangnya complicated. Ada juga yang bilang tertutup (definetely), jahil (hanya untuk orang-orang tertentu), centil (oh no!), dan rapuh (serapuh gelas kaca. hehe). Nah, ada juga yang bisa mendeskripsikan saya dengan cukup panjang, seperti yang ini:

good at pretending, indirect speech, pendiam, keras kepala, imaginative

Lalu ada juga yang ini:

Lebih suka dicurhatin daripada curhat

Kalau menurut seseorang yang pernah dengan sukses menebak sifat saya hanya dengan beberapa kali pertemuan, saya ini seperti tong sampah. Mau mendengarkan orang-orang bercerita segala macam, tapi mengunci bibir saya untuk bercerita apapun tentang saya. Katanya kalau ini seperti tong sampah, tong sampahnya bakal jadi bau banget karena isinya nggak pernah dikeluarin. Dan itu perumpamaan yang nggak bakal saya lupa sampai sekarang. It was so true.

Semakin ke sini, semakin saya makin nggak jelas sama sifat saya. Makin nggak bisa orang menebak sebenar-benarnya siapa saya. Mereka selalu melihat apa yang tampaknya, dan sulit sekali menebak apa yang ada di dalam. Agak membingungkan saya. Apa saya begitu besarnya membangun tembok pertahanan, sampai mereka nggak bisa menebak saya.

Jadilah saya cukup puas menerima bahwa sampai hari kesekian memasang note itu, belum ada yang menbak dengan benar. Yang mendekati ada, tapi belum sepenuhnya benar. Yang anehnya, saya juga nggak tahu jawaban yang benar apa.

Lalu keluarlah jawaban ini, tengah malam kemarin:

Orang yang takut ditebak. Isn’t it?

Simple. Padat. Dan yang paling penting, jawabannya tepat banget. Iya saya memang takut ditebak. Takut diketahui apa yang sebenarnya. Nggak tahu apa yang saya sembunyikan. Tapi defense dalam diri saya memang banyak sekali.

Saya menganggap saya ini beda dari yang lain. Complicated. Nggak semua orang bisa mengerti saya. Saya menyebut diri saya aneh, tapi seseorang bilang saya ini unik. Bahasa halusnya aneh mungkin unik, ya. Well, maybe I am unique.

Kalimat sesederhana itu, bikin saya kaget juga. Jadi ingat, setelah saya pernah ditebak itu, ada lagi yang pernah nebak saya. Seperti pola sebelumnya, dia adalah orang yang baru saja saya kenal. Yang jarang saya ajak berkomunikasi, yang (seharusnya) hampir tidak mengenal saya karena buat ketemu atau ngobrol pun jaraaang banget. Lalu suatu hari dia menebak saya. Tepat! Bikin tangan saya tiba-tiba dingin, bikin jantung saya berdebar-debar, dan bikin saya merasa sangat tidak nyaman. Kenapa orang ini bisa membongkar semua defense saya, kenapa orang ini bisa membaca saya, dan kenapa orang ini membuat saya merasa ditelanjangi. Tapi dua orang tadi bikin saya kagum. Bisa menebak saya bukanlah perkara mudah.

Sekarang, ketika teman saya menyimpulkannya dengan satu kalimat: orang yang takut ditebak. Well, she’s soooo right. Saya takut ditebak. Terutama kalau tebakan itu tepat. Kalau cuma sekedar tebak-menebak biasa, sih, nggak masalah. Bikin lucu-lucuan. Tapi kalau ada yang mau nebak saya dengan serius dan yakin jawabannya bakal benar, hm.. harap hati-hati, karena saya pasti akan merasa tidak nyaman setelahnya. Walaupun orang-orang seperti inilah yang bikin saya kagum setengah mati juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s